“SEPENGGAL HATI”

Alkisah, hiduplah seorang kakek yang sudah tua dan seorang pria muda yang ganteng rupawan.

Pada masa itu, semua orang dapat memamerkan dan memperlihatkan bentuk hatinya kepada orang lain karena tubuh di bagian dada tidak tertutup oleh daging. Saat pakaian dibuka, maka bentuk hati akan terlihat dengan nyata.

Bukan seperti masa sekarang, bentuk hati tidak mungkin dapat terlihat dengan mata telanjang oleh orang lain. Agar dapat terlihat keindahannya, harus divisualisasikan dengan suara, sentuhan, pandangan, tulisan dan segala perbuatan serta karya nyata.

Sang kakek bekerja sebagai petani, jarang mengenakan baju untuk menghindari panasnya cuaca, sehingga bentuk hatinya akan terlihat dengan jelas. Hati sang kakek penuh dengan bekas luka dan berlubang. Bentuknya lebih mengerikan daripada gurat keriput pada kulitnya.

Sedangkan sang pemuda yang gagah dan tampan, juga selalu melepaskan pakaian atas hanya untuk memamerkan bentuk hatinya yang bersih, utuh dan tanpa cacat sedikitpun. Seringkali pemuda itu menunjukkan kesombongan dan melecehkan orang-orang yang bentuk hatinya tidak sesempurna miliknya.

Bagi pemuda parlente itu, hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan dirinya. Dia sangat senang mempertontonkan bentuk hatinya yang bersih tanpa satu goresan pun kepada semua orang yang ditemui.

Pada suatu hari, mereka berdua bertemu di sebuah warung kopi. Pemuda itu menertawakan semua yang hadir, karena tidak ada yang memiliki hati sebagus hatinya. Pandangan bersifat hinaan terutama ditujukan kepada sang kakek.

Sambil menepuk dada, pemuda itu berkata : "Hai, kakek… Bentuk hatimu tampak mengerikan sekali. Siapapun akan merasa takut melihatnya. Sekarang coba lihat punyaku. Hatiku bersih dan tiada cacat. Selama ini aku menjaganya dengan sangat baik, tidak ada seorangpun yang kuperkenankan untuk menodai atau mengotori hatiku. Kamu pasti tidak mampu menjaga hatimu dengan baik sehingga bentuknya begitu menakutkan. Biar saya beritahu, hati kita itu amat berharga, sebab tanpa hati, hidup kita menjadi tidak bermakna. Mengertikah wahai kakek malang…."

Semua orang yang hadir merasa sangat kesal dan tersulut emosinya mendengar keangkuhan pemuda itu. Beberapa orang berdiri hendak melakukan sesuatu tindakan kepada pemuda yang dianggap bersikap kurang ajar terhadap orang yang lebih tua.

Sang kakek yang sudah renta itu menggerakkan tangannya, menyuruh semuanya untuk tenang. Beliau hanya tersenyum, tidak nampak sedikitpun raut kemarahan di wajahnya.

Sejenak, sang kakek menoleh ke arah hatinya yang penuh luka dan tidak sempurna lagi. Lalu menatap ke arah hati pemuda yang terlihat begitu bagus.

Tidak berapa lama kemudian, sang kakek bertanya : "Wahai pemuda yang rupawan, saya sungguh kagum dengan bentuk hatimu. Namun, mengapa engkau sangat menjaga hatimu?"

Pemuda sombong itu membusungkan dadanya lalu menjawab : "Saya adalah orang terpelajar. Kebersihan adalah sebagian dari imanku. Tentu saja saya harus menjaga milikku dengan sebaik-baiknya. Apalagi kita semua tahu bahwa hati itu adalah organ tubuh manusia yang berharga setelah jantung dan paru-paru."

Sang kakek menjawab : "Tentunya kita semua tahu… Meskipun berharga, namun hati itu bukanlah sejenis makanan yang dapat kita nikmati sendiri. Bahkan jika makanan kita berlebihan, kita dianjurkan untuk berbagi kepada yang lain. Demikian juga dengan hati kita. Untuk apa kita memiliki hati yang mulus bersih tanpa cacat, jika kita tidak mau berbagi kepada orang lain…?"

Pemuda itu menyela : "Mengapa saya harus membagi hatiku? Bukankah hatiku adalah milikku…? Dengan membagi sebagian hatiku, atau membuat orang mengotori hatiku, maka bentuk hatiku tidak lagi menjadi sempurna…."

Sang kakek berkata dengan intonasi lebih tegas lagi : "Sepanjang hidup, kita pasti merasakan sakit hati saat dikecewakan, menderita saat dikhianati atau merasakan hati kita bagaikan tertusuk sembilu saat menerima fitnah atau kata-kata tidak sepantasnya. Saat itulah hati kita tidak lagi utuh, sudah mulai terluka dan berlubang…"

Pemuda itu merasakan bahwa selama hidupnya dia tidak pernah merasakan perasaan demikian, tidak pernah dikecewakan atau tidak pernah menerima kalimat hujatan. Sebelum orang lain menyakiti hatinya, dirinya terlebih dahulu menyakiti hati orang lain. Sehingga hatinya tetap berbentuk sempurna.

Sang kakek melanjutkan : "Sepotong hati yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap umat manusia, bukan untuk disimpan atau dijaga bentuknya agar tetap utuh sempurna. Sesungguhnya, sesuai peruntukannya, kita wajib membagi sebagian hati kita kepada orang lain…."

Sang pemuda dan para pengunjung warung, terlihat begitu seksama mendengarkan wejangan dari kakek yang dituakan di kampungnya karena terkenal memiliki kebijaksanaan yang tinggi.

Sang kakek melanjutkan : "Kita memang wajib menjaga hati kita agar tidak hilang atau rusak hingga terlepas dari tubuh. Namun, apakah kita akan berbahagia hanya dengan gemar memamerkan kemulusan bentuknya tanpa pernah berniat untuk membaginya kepada orang lain yang membutuhkan? Cobalah jawab pertanyaanku…"

Pemuda itu menggelengkan kepalanya…

Setelah menyeruput kopi hitam yang lezat, sang kakek melanjutkan : "Dalam hidup ini, kita tidak boleh selalu berada di atas. Senantiasa memandang rendah orang lain. Lebih suka terlebih dahulu melontarkan hinaan tanpa bersedia untuk dihina. Lebih senang menyakiti tanpa pernah mau disakiti. Jika demikian adanya, maka hati kita memang tetap terlihat utuh, namun jika suatu ketika mendapat cercaan yang hebat, maka hati itu akan langsung rusak dan tidak akan pernah diperbaiki lagi…"

Setelah merasa dapat "menguasai" pikiran pemuda itu, sang kakek berkata lagi : "Saya selalu memberikan beberapa potong hatiku untuk orang lain, bahkan untuk orang-orang yang tidak kukenal sekalipun. Saya merasa amat berbahagia, karena hatiku dapat membahagiakan orang lain. Sekalipun akhirnya hatiku akan dipenuhi luka dan berlubang, namun itu tidak menjadi masalah. Itulah sejatinya arti hidup bahagia…"

Akhirnya sang pemuda harus "takluk" kepada kearifan sang kakek. Dia menyadari bahwa esensi terdalam dalam kepemilikan hati adalah untuk berbagi kepada orang lain walaupun hatinya harus rusak dan berlubang.

Tanpa diduga-duga, pemuda itu mencongkel dan mengiris sedikit hatinya untuk sang kakek. Walaupun tidak dapat menambal seluruh hati sang kakek, namun setidaknya niat itu dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Sebuah hadiah senyuman dan ucapan terima kasih, untuk pertama kali diterimanya dari sang kakek. Jiwanya merasa amat bahagia.

Sejak saat itu, sang pemuda mulai membagi-bagikan hatinya pada orang lain. Sebaliknya, ada juga beberapa orang yang menambal hati sang pemuda yang tidak sempurna lagi. Dia merasakan kebahagiaan yang begitu besar atas aksi berbagi hati.

Sobatku yang budiman…

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita tidak boleh bersikap egois dan mau menang sendiri. Pengennya menyakiti tanpa pernah mau disakiti. Pengennya memfitnah atau berkata tidak benar, tanpa pernah mau difitnah ataupun dibohongi.

Sebaliknya, kita juga tidak boleh terlalu lama meratapi hati yang terluka, patah ataupun hancur. Jangan pernah khawatir, suatu saat nanti, Tuhan pasti akan mengutus seseorang untuk menambal hati kita.

Berbahagialah mereka yang bersedia membagikan sepenggal hatinya demi kebahagiaan orang lain.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #sepenggalhati Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in KISAH INSPIRATIF | Leave a comment

“MEMUPUK RASA CINTA”

Dora dan Emon, sepasang suami isteri yang telah menikah selama delapan tahun sedang mengalami krisis kepercayaan antara satu dengan lainnya, mulai melunturnya rasa kebanggaan terhadap pasangannya dan sedang mengalami fase kemunduran dalam keharmonisan keluarga.

Beberapa hari belakangan ini, Dora merasa kesal, kecewa, marah dan bersikap uring-uringan. Penyebabnya, sang suami selalu menyalahkan dirinya atas perbuatan yang bukan dilakukannya, memarahinya atas kelalaian yang sepele dan langsung menghardik dirinya saat melakukan pembelaan diri.

Suatu malam, saat menunggu kepulangan Emon dari bekerja lembur, Dora seperti tersadar bahwa dirinya telah kehilangan rasa cinta dan sayang kepada Emon. Muncul pergulatan dalam dirinya atas dilema perasaan yang telah dipendamnya selama ini. Apakah dia akan sanggup bertahan atau sebaliknya mengakhiri semua ini dengan baik-baik.

Dora sudah merasakan memudarnya kehangatan cinta bersama Emon. Apalagi saat memikirkan dirinya selalu terlibat pertengkaran demi pertengkaran yang berujung dengan tumpahnya air mata membasahi bantal.

Dalam kesendirian, pikiran Dora melayang jauh ke belakang, saat di awal-awal pernikahan…

Masih terbayang olehnya, saat pagi-pagi subuh, Dora dengan semangat menggebu-gebu menunaikan kewajibannya menyiapkan sarapan untuk sang suami tercinta, Masih terpatri dalam ingatannya, perasaan rindu yang amat berat saat ditinggal oleh suaminya karena Emon harus berdinas ke luar kota. Masih terlintas dalam benaknya, saat malam-malam indah yang romantis dan penuh keintiman bersama Emon.

Mengobrol dan bercanda membahas apa saja hingga larut malam dan saking asyiknya, tidak menyadari waktu pagi sudah menjelang. Empuknya dada bidang, perut buncit dan segempal paha berlemak sang suami, sebagai bantal kehangatan dirinya. Namun, saat ini, semuanya hanya tinggal kenangan.

Saat-saat indah dan mengesankan tidak lagi pernah dirasakan. Tiada lagi kemesraan seperti saat mereka baru mengikat janji setia sehidup semati. Tiada lagi gelak tawa dan guyonan yang menyegarkan pikiran. Tiada lagi kesempatan untuk bercengkerama, mengobrol dan berdiskusi di bawah tatapan mata penuh kasih. Tiada lagi waktu untuk bertamasya ke tempat-tempat romantis baik di dalam maupun di luar negeri.

Semuanya rasa itu telah hilang tergantikan oleh perdebatan yang saling menjatuhkan dan tertukar dengan hardikan kasar yang menusuk hingga ke lubuk hati terdalam. Terasa amat menyakitkan.

Saat ini, Dora merasa kehidupan pernikahannya sudah kering dan gersang, bagaikan berada di padang pasir yang tandus. Hubungan mereka menjadi sangat kaku sekaku tiang pancang bangunan.

Hari-hari terasa demikian panjang, membosankan dan sepertinya jarum jam berjalan begitu lambat. Waktu telah mengubah segalanya. Api cinta yang dulu demikian membara dan menggelora, kini makin lama semakin suram dan akhirnya padam sama sekali. Gelap dalam kekosongan. Kelam dalam kehampaan.

Akhirnya, semua berakhir dengan sia-sia. Mereka memutuskan untuk bercerai. Membiarkan keping-keping cinta berserakan di lantai, tanpa berniat untuk memungut dan merangkainya menjadi utuh kembali. Keduanya justru berupaya mencari kebahagiaan lain di luar sana. Perpisahan ini terjadi hanya karena mereka tidak berusaha merawat dan memupuk tanaman yang berbungakan cinta dan kasih sayang.

Sobatku yang budiman…

Saat ini, teramat sering kita mendengar kata perpisahan atau perceraian muncul menghiasi berita di hadapan kita. Selebriti, politikus, orang terkenal, tetangga, teman, sahabat, saudara bahkan orang biasa, terperosok dalam lembah perceraian.

Mereka mengabaikan kesempatan peluang menyiram, menyiangi dan memupuk rasa cinta kepada pasangannya. Membiarkan perasaan negatif dan virus masalah, berkembang dalam hati, mula-mula kecil dan dianggap tidak berarti, namun semakin lama akan menggelembung membesar bagaikan bola salju, lalu datang menghantam dan menghancurkan semuanya dalam sekejap.

Untuk itu, janganlah kita menganggap remeh dan menunggu hingga cinta kita memudar, mengering dan layu membusuk. Jagalah rasa cinta kita bersama pasangan hidup dengan berbagai aktivitas yang dapat mengembalikan kesegaran tanaman berbunga cinta. Kita semua pasti tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Jangan diamkan atau mengabaikannya. Lakukan sesuatu agar bunga-bunga cinta yang indah kembali bermekaran.

Semoga semua pasangan-pasangan yang ada tetap kekal dan harmonis dalam menjaga keutuhan rumah tangga masing-masing.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #cinta #marah Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in CERITA KEHIDUPAN | Leave a comment

“ARTI SEBUAH KEPERCAYAAN”

Epel memiliki seorang ayah yang sangat perhatian kepada dirinya. Hingga hal yang sedetil-detilnya tidak ada yang tidak diketahui sang ayah, termasuk sesuatu hal yang bersifat pribadi.

Sejak masih bayi, ayah Epel telah merelakan sebagian waktu kerjanya demi untuk merawat dan menemani Epel di waktu pagi. Beliau tidak mempekerjakan baby sitter karena ingin mengawasi secara langsung perkembangan puteri semata wayangnya. Sehingga, secara tidak langsung, tercipta kedekatan yang sangat erat antara Epel dan ayahnya.

Sedangkan ibu Epel bekerja seharian penuh dan baru akan menjaga Epel bergantian dengan ayah Epel di malam hari. Aktivitas ini telah dilakoni keluarga kecil ini hingga Epel duduk di bangku SD.

Suatu ketika, saat Epel duduk di kelas 3 SD, tiba-tiba ibunda Epel menerima panggilan telepon dari sekolah pada jam kantor. Sang guru mengabarkan berita yang mengejutkan, bahwa Epel telah mencuri uang temannya di sekolah.

Guru : "Maaf bu… Kami terpaksa memberitahukan berita yang tidak mengenakkan. Epel telah mencuri uang temannya dan sudah mengakuinya sendiri. Orang tua si korban sudah menghubungi polisi untuk menangkap Epel…"

Mendengar penuturan dari guru di sekolah, ibunda Epel merasa sangat ketakutan. Beliau mengkhawatirkan muncul situasi buruk jika harus berhadapan dengan pihak berwajib. Sejujurnya beliau tidak percaya bahwa Epel berani dan nekad mencuri uang temannya. Selama ini, Epel selalu berlaku jujur dan tidak pernah berbohong. Namun ibunda Epel berusaha tetap tenang.

Ibunda Epel : "Ibu guru yang terhormat… Saya mohon agar anak saya jangan diapa-apakan. Jangan memukul anak saya, walaupun jika benar dia melakukan kesalahan. Tunggu hingga saya dan suami saya tiba di sekolah, kami pasti akan mengatasi semua permasalahan ini…"

Kemudian ibunda Epel meminta tolong kepada guru tersebut agar mengijinkan dirinya untuk berbicara sejenak kepada anaknya.

Sambil menangis sesegukan, Epel berkata: "Ibuuu… Saya tidak bersalah… Saya tidak mencuri…"

Sayup-sayup, terdengar suara ibu guru mengeluarkan bentakan : "Diam kamu…!!!Jangan berkata sembarangan… Kamu tidak boleh berdusta… Tadi kamu sudah mengaku…"

Ibunda Epel berkata: "Jangan khawatir anakku, ayah dan ibu akan segera datang… Kamu tidak boleh takut…"

Setelah menutup telepon, ibunda Epel segera mengabarkan kejadian buruk ini kepada ayah Epel.

Ayah Epel : "Saya tidak percaya Epel mencuri… Tunggu sebentar, saya akan segera menjemput kamu, lalu kita bersama-sama berangkat ke sekolah. Kasihan sekali anak kita, Epel…"

Dalam waktu tidak sampai setengah jam, kedua orang tua Epel telah tiba di sekolah. Ternyata di halaman sekolah telah berhenti sebuah mobil polisi dengan lampu sirene yang terus menyala. Dengan tergesa-gesa mereka melangkah ke dalam ruang guru.

Di dalam ruang guru, sudah ada dua orang polisi, seorang ibu muda yang merupakan ibu dari anak yang kehilangan uang dan beberapa orang guru. Sementara itu, Epel berdiri seorang diri di pojok ruangan dengan wajah sembab, mencoba menahan tangis.

Ayah Epel segera melangkah ke arah puterinya, memeluk dan membelai rambut Epel dengan lembut. Epel tidak dapat menahan laju tangisnya lagi. Dia menumpahkan seisi hatinya dengan tangis yang memilukan hati.

Dengan terbata-bata Epel berkata : "Ayah… Saya tidak bersalah… Saya tidak mengambil uang siapapun… Ayah tolonglah diriku…"

Tiba-tiba guru wanita itu membentak dengan suara keras : "Kamu jangan berbohong…!!! Tadi kamu sudah mengaku mengambil uang temanmu…"

Ayah Epel : "Mohon ibu guru bersabar sebentar. Jangan menggunakan emosi dalam menghadapi anak didik. Biarkan saya menanyakan detil peristiwa kepada anakku. Saya lebih percaya anakku daripada siapapun…"

Ibu Guru : "Tadi si Epel sudah mengaku mencuri uang temannya… Saya tidak mampu lagi mencegah jika polisi hendak menangkapnya…"

Ayah Epel tidak menggubris omongan ibu guru yang selalu melancarkan tudingan kepada Epel. Mata pria berkacamata minus ini menatap tajam ke arah Epel.

Ayah Epel : "Anakku yang paling kusayang… Ayah ingin kamu berkata jujur. Benarkah kamu telah mencuri uang temanmu…?"

Epel melepaskan pelukan ayahnya. Matanya menoleh ke arah polisi dan para guru secara bergantian. Sebuah kalimat lirih terucap dari mulutnya : "Saya takut, ayah… Saya takut, ibu…"

Ayah Epel : "Kamu takut apa? Jika kamu bersalah kamu harus bertanggung jawab. Jika kamu tidak bersalah, kamu tidak perlu takut. Apakah benar kamu telah mencuri uang temanmu..?"

Epel menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat : "Tidak… Saya tidak pernah mengambil barang yang bukan milikku… Saya selalu ingat semua nasehat yang ayah sampaikan sebelum tidur…"

Ayah Epel tersenyum sambil membelai kedua pipi Epel : "Baiklah… Sekarang ayah percaya kepadamu…"

Ibunda teman Epel yang uangnya dicuri menyolot : "Mana bisa demikian. Tadi anakmu sudah mengaku mencuri uang anakku. Pak polisi, segera tangkap si Epel…"

Ayah Epel : "Eitss… Jika saja ada yang berani menyentuh sehelaipun rambut anakku, saya tidak akan tinggal diam…."

Guru : "Tadi anakmu sudah mengakuinya…"

Ayah Epel : "Mana buktinya? Bagaimana cara kalian mengorek pengakuan dari seorang anak kecil? Lantas dimana uang yang sudah dicuri Epel? Tolong tunjukkan kepadaku."

Polisi yang berdiri di dalam ruangan berkata: "Memang benar tidak ada bukti, tetapi anakmu sendiri sudah mengakuinya."

Dengan tidak sabar dan sikap tendensius yang berlebihan, ibu guru tersebut menceritakan kembali bagaimana cara dia mengorek keterangan dari Epel.

Ayah Epel menoleh kepada sang buah hatinya yang tersayang, lalu bertanya: "Benarkah semua yang dikatakan gurumu…?"

Epel kembali menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat : "Saya tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba ibu guru menyuruhku berdiri dan tidak mengijinkan diriku masuk ke dalam kelas lagi. Ibu guru langsung memanggil polisi dan saya merasa sangat takut. Tapi ibu guru berkata jika saya mengakui mencuri uang maka saya diperbolehkan pulang ke rumah… Saya takut tidak bisa pulang, makanya saya terpaksa mengaku, ayah…"

Dengan nada meninggi, ayah Epel berkata kepada ibu guru tersebut : "Kamu sudah tidak bersikap objektif lagi. Tanpa ada bukti kamu memaksa Epel mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya. Pertanyaan yang disertai ancaman, maksud kamu apa..?!? Apa begini cara guru di sekolah ini mendidik anak? Saya akan mengadukan kalian semua dengan tuduhan pemfitnahan…!!!"

Tanpa mempedulikan wajah bengong dari mereka yang ada di ruangan, ayah Epel menggendong Epel dan membawanya pulang. Ibunda Epel segera mengambil tas sekolah Epel yang tergeletak di atas lantai dan mengikuti langkah suaminya.

Saat berada di dalam mobil, Epel memeluk kedua orang tuanya dengan penuh kelegaan. Mimik wajahnya kembali ceria : "Ayah…Ibu… terima kasih… Kalian adalah pahlawanku…"

Keesokan harinya, kepala sekolah menelepon ibunda Epel dam memberitahukan bahwa terjadi kekeliruan. Ternyata uang yang disangkakan diambil Epel ternyata terselip di buku pelajaran teman Epel.

Sobatku yang budiman…

Sepenggal kisah Epel mengajarkan kita untuk lebih arif dalam menghadapi persoalan yang menimpa anak-anak kita. Jangan mengambil kesimpulan jika belum diketahui kepastian atas peristiwa yang terjadi.

Jika kita sudah memberikan pendidikan dan perhatian yang penuh kepada anak-anak kita, maka sudah sepatutnya kita dapat mempercayai apa yang disampaikan buah hati kita, bukan lantas menghakiminya sebagai tersangka perbuatan jahat.

Bukan bermaksud membela mati-matian atas semua perbuatan mereka, namun jika didikan kita benar, maka kita wajib mendukung dan memberikan rasa aman di saat mereka sedang mengalami masalah.

Peristiwa yang dialami Epel membuatnya tahu bahwa kedua orang tuanya sanggup melindungi dan memberi rasa aman serta akan memompa dirinya menjadi seorang anak yang berani. Orang tua yang percaya kepada anaknya sendiri adalah orang tua yang bijaksana….

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kepercayaan #2016 Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in KISAH INSPIRATIF | Leave a comment

“PEMBUAL”

Alkisah, ada tiga orang nelayan penangkap kepiting sedang duduk santai di sebuah warung kopi. Mereka terlibat perdebatan seru mengenai kehebatan masing-masing. Beberapa kalimat sombong dan tidak masuk akal terucap dari mulut mereka.

Nelayan pertama : "Saat saya baru saja memasukkan umpan potongan kelapa ke dalam lubang kepiting, maka dalam hitungan detik, tiga ekor kepiting berukuran jumbo memakan umpan tadi. Sungguh menakjubkan…"

Nelayan kedua tidak mau kalah : "Wah… Itu mah biasa aja bro… Saat saya sedang memasang umpan kelapa ke kail, tiba-tiba muncul lima ekor kepiting berukuran raksasa sambil berkata, cepetan tangkap kami pak, kami semua sudah pasrah mengorbankan diri untuk bapak…"

Nelayan ketiga, yang berusia paling muda, berkata dengan intonasi tenang namun penuh keyakinan : "Hebat sekali upaya bapak-bapak sekalian. Kalau saya sich lain lagi ceritanya. Sehari sebelum melakukan aktivitas memancing, tiba-tiba di halaman rumahku sudah berkumpul ratusan ekor kepiting berbagai ukuran. Saya merasa bersyukur atas keajaiban ini…"

Nelayan pertama dan kedua serentak berseru : "Dasar pembual kelas wahid… Mana mungkin kepiting-kepiting itu tahu alamat rumahmu…. Emangnya mereka semua menumpang Gojek…? Hahaha…"

Nelayan ketiga tidak mau kalah ngotot : "Terserah kalian mau percaya atau tidak… Memangnya saya juga percaya dengan bualan kalian berdua…"

Akhirnya ketiga nelayan terlibat dalam perdebatan sengit dan menimbulkan perselisihan yang tidak berkesudahan.

Pemilik warung keluar untuk mengakhiri pertengkaran ketiga nelayan tersebut : "Woi… Kalian bertiga adalah pembohong besar dengan tetap mempertahankan kesombongan masing-masing. Semua orang juga tahu kalau kalian cuma berkata besar…."

Ketiga nelayan langsung terdiam saat mendengar teriakan pemilik warung. Tidak ada lagi yang berani mengeluarkan suara.

Pemilik warung melanjutkan : "Kalau memang kalian bertiga begitu hebat, apa mungkin kalian masih tinggal di rumah gubuk yang beralas tanah, berdinding dipan dan beratapkan rumbia? Jika benar cerita kalian, berarti kalian sudah punya banyak duit, coba sekarang jawab, siapa di antara kalian bertiga yang akan membayar bon makanan dan minuman ini…?"

Ketiga nelayan menggelengkan kepala : "Kami hutang dulu yah… Nanti di awal bulan baru kami lunasi…"

Pemilik warung : "Nah kan… Lain kali jangan banyak membual dan menyombongkan diri… Pulanglah dan pergilah bekerja kembali mencari kepiting…."

Sobatku yang budiman…

Kesombongan dan bualan hanya akan menimbulkan pertengkaran dan dapat berujung permusuhan. Orang bijaksana selalu berkata benar dan cenderung merendahkan hati serta bersedia menerima pendapat orang lain. Mengolah semua masukan dalam pikiran. Membuang yang tidak berguna dan menyimpan baik-baik semua hal yang dapat bermanfaat bagi kehidupannya.

Biasanya, dimana ada kesombongan, maka di situ selalu terjadi pertengkaran. Bagi yang suka memamerkan kesombongan atau gemar membual tentang sesuatu yang tidak ada, akan merasa tindakannya dapat menaikkan harga diri dan bakal disegani oleh orang lain.

Padahal, jika kesombongan berbalut bualan itu diketahui oleh orang lain, maka dipastikan orang-orang tidak akan pernah percaya lagi dengan omongannya, walaupun mungkin ada diantara omongannya itu benar.

Tidak ada orang yang tidak terganggu dengan kesombongan dan bualan. Sebagian orang akan langsung bereaksi membalasnya dengan bualan dengan tingkat kesombongan yang lebih tinggi lagi.

Sebagian lagi akan langsung membantahnya, karena tidak mampu menahan diri melihat aksi para pembual yang berkoar-koar menyombongkan dirinya. Dalam kondisi seperti ini, pertengkaran pun tidak akan terhindarkan lagi.

Seorang pembual akan memperlihatkan sesuatu yang tidak dimilikinya atau sesuatu yang masih menjadi impian hidupnya. Sedangkan seorang bijaksana menyadari bahwa masih banyak yang belum dimilikinya, sehingga tidak perlu memamerkan apa yang sudah dimilikinya saat ini kepada orang lain.

Jadilah seorang bijaksana yang selalu merendahkan hatinya daripada seorang pembual yang senantiasa menaburi hidupnya dengan beragam kesombongan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #pembual Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in RENUNGAN | Leave a comment

“NILAI KEIKHLASAN”

Seorang pengusaha kaya bernama Jones, gemar memberikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan, termasuk kepada pengemis A yang mampir ke rumah mewahnya. Selembar uang 50 ribu selalu dikeluarkan dari kantongnya untuk pengemis A. Sebuah nilai yang amat besar bagi seorang pengemis, namun teramat kecil bagi seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak perusahaan beromset milyaran rupiah per bulan.

Sementara itu, pengemis B selalu memunta sedekah ke rumah Bapak Denny. Uang 5 ribu selalu dikeluarkan Bapak Denny untuk mereka yang meminta sedekah darinya. Bapak Denny adalah seorang penjual bakso keliling yang cuma beromset ratusan ribu per hari.

Lantas ketika kedua pengemis bertemu, mulailah mereka membanding-bandingkan hasil yang mereka peroleh. Menilai siapa yang lebih baik antara Bapak Jones, seorang pengusaha kaya atau Bapak Denny, seorang penjual bakso?

Pemgemis A : "Lihatlah… Bapak Jones, salah seorang pengusaha terkaya di sini, selalu memberikan sedekah 50 ribu. Beliau sangat baik dan berhati mulia. Bapak Jones bukanlah golongan manusia pelit atau kikir."

Pengemis B : "Pendapat kamu tidaklah sepenuhnya benar…."

Pengemis A : "Mengapa kamu mengatakan demikian? Lihatlah Bapak Denny yang menurut kamu dermawan namun hanya sanggup memberikan uang sepersepuluh dari yang saya terima yaitu sebesar 5 ribu saja. Dia itu pelit dan sangat berkira…"

Pemgemis B : "Jika kamu anggap 50 ribu sebagai nilai yang besar bagi kita, itu tidak salah. Namun bagi pengusaha kaya seperti Bapak Jones, uang sebesar itu hanya sepersekian dari hartanya. Kecil sekali dan hampir tidak berarti bagi beliau. Namun tidak demikian dengan Bapak Denny. Walaupun berharta sedikit, namun beliau ikhlas memberikan sedekah yang cukup besar, jika dibandingkan dengan harta kekayaan yang dimilikinya…"

Pengemis A : "Saya tidak mengerti maksud kamu…"

Pengemis B : " Saya berikan contoh sederhana berikut ini. Ada seorang kaya memiliki uang 5 juta, lalu memberikan sedekah 50 ribu. Ada seorang miskin memiliki uang 20 ribu, lantas memberikan sedekah 10 ribu rupiah. Menurut kamu, siapa yang lebih baik? Siapa yang lebih ikhlas dalam bersedekah?"

Pengemis A : "Tentunya si miskin…"

Pengemis B : "Loh, bukannya si orang kaya memberikan sedekah lebih banyak dari si orang miskin?"

Pengemis A : "Walaupun memiliki uang sedikit, namun orang miskin itu ikhlas memberikan sedekah yang lumayan besar untuk ukuran kemampuannya. Setengah dari uang miliknya. Jadi, jelas yang lebih baik itu si orang miskin…"

Pengemis B : "Nah, itulah yang saya maksudkan tadi. Walaupun sedekahnya lebih sedikit, namun Bapak Denny, seorang penjual bakso keliling, memiliki nilai keikhlasan lebih tinggi dari Bapak Jones, sang pengusaha kaya…"

Pengemis A : "Sekarang saya sudah mengerti. Terima kasih atas pencerahannya. Saya tidak boleh menilai pemberian seseorang dari jumlah yang diberikan lagi. Apalagi sampai memuji beliau secara berlebihan dan menghujat Bapak Denny sebagai orang yang pelit dan suka berkira…"

Sobatku yang budiman…

Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya sering kali terperdaya oleh sesuatu yang terlihat oleh kasat matanya.

Memberikan pujian atas sesuatu yang banyak dan menghina atas sesuatu yang sedikit.

Memberi penghormatan yang luar biasa kepada mereka yang memberikan sedekah dalam jumlah fantastis dan mengabaikan atau menyepelekan mereka yang memberikan sedekah dalam jumlah yang minim. Padahal sesungguhnya nilai keikhlasan dari kedua kelompok itu tidaklah sama.

Untuk itu, marilah kita mengubah persepsi dan pandangan kita tentang sesuatu hal, jangan lagi menilai seseorang dari jumlah sedekahnya namun bandingkan juga nilai sedekahnya dengan harta yang dimilikinya.

Janganlah menilai seseorang dari berapa banyak harta yang dimilikinya, namun lihatlah bagaimana pengorbanan dan perjuangan yang telah dilakukannya hingga mencapai kondisi seperti saat ini.

Bijaksanalah dalam berpikir dalam memberikan penilaian terhadap niat baik seseorang…

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #ikhlas #2016 Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in KISAH INSPIRATIF | Leave a comment

“SUDAHKAH KITA TERSENYUM HARI INI?”

Suatu hari, seorang suami menyaksikan isteri tercintanya sedang bertekuk muka, berwajah cemberut dan menampilkan wajah sangar seperti hendak "memangsa" siapapun yang berada di sekitarnya, sedang duduk sendirian di ruang keluarga.

Sang suami segera menghampiri istrinya yang berwajah muram, seperti sedang mendapat masalah yang teramat berat. Lalu dia bertanya sambil menebarkan senyum yang tulus. Melihat senyuman mengembang di wajah suaminya, sang isteri merasa sedikit terhibur dan bersedia menceritakan masalah pelik yang sedang dihadapinya.

Selama mendengar celotehan isterinya, sang suami tidak pernah meninggalkan senyum manisnya. Isterinya merasa lebih tenang. Setelah berpikir sejenak, akhirnya sang suami berhasil memberikan solusi jitu untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Semua ini berawal dari sebuah senyuman. Seandainya sang suami menghampiri isterinya dengan muka cemberut dan memarahi isterinya yang sedang dilanda kegelisahan agar meneruskan pekerjaan rumah, maka kemungkinan besar yang bakal terjadi adalah sebuah pertengkaran.

Sobatku yang budiman…

Tersenyum itu tidak perlu mengeluarkan biaya dan gampang sekali melakukannya. Walaupun mudah, namun banyak sekali orang yang enggan melakukannya. Lebih suka memasang wajah sinis, tegang, cemberut dan menakutkan.

Menurut definisi ilmiah, tersenyum adalah ekspresi wajah yang dibentuk oleh tarikan otot terutama pada otot-otot di kedua ujung mulut, dan kadang sedikit menampilkan sederetan gigi putih sebagai penambah "manisnya" sebuah senyuman.

Menebar senyum merupakan perilaku yang amat menyenangkan. Dalam senyuman akan terpancar luapan perasaan yang bernilai positif, menggambarkan sifat keramahan, kegembiraan, kesopanan, dan rasa hormat.

Sebuah senyuman memiliki khasiat untuk mengurangi rasa sakit dan derita hati. Bagi mereka yang menerima senyuman, juga akan mendapat imbas positif apabila melakukan senyuman balasan.

Sebuah pepatah mengatakan "jangan suka marah-marah, nanti bisa cepat tua", adalah benar adanya. Amarah membuat kita mudah terserang penyakit. Senyuman dapat mengurangi rasa sakit yang ada.

Sesungguhnya senyuman itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Senyuman dapat membuat kita melihat dunia lebih indah dari kacamata keriangan. Senyum tulus dapat mencairkan hubungan yang beku dan membangkitkan keceriaan kembali saat suasana sedang muram. Senyuman sanggup memberi
semangat kepada orang yang sedang putus asa dan sekaligus sebagai obat mujarab penenang jiwa yang resah.

Saat seorang pria sedang marah, maka diperlukan sebuah senyuman dari seorang wanita untuk meredakan emosi dan menenteramkan hatinya. Sebab senyuman wanita itu mengandung "ribuan volt arus listrik" yang akan membuat dirinya terlihat ramah, menarik dan penuh keakraban.

Senyuman yang baik adalah senyuman yang tidak dibuat-buat. Senyuman yang berfaedah adalah senyuman tulus dan ikhlas yang bersumber dari dalam hati.

Senyuman yang tidak menarik dapat ditafsirkan sebagai tanda kurang percaya diri, sementara itu senyuman yang menarik cenderung dipersepsikan sebagai keramahan, keakraban dan saling menghormati.

Satu hal yang perlu menjadi perhatian kita adalah menempatkan sebuah senyuman sepatutnya disesuaikan dengan kegiatan dan atau jabatan kita. Tersenyum lebar saat berkumpul dalam suasana santai nonformal dengan teman adalah sebuah kewajaran.

Namun, janganlah tersenyum sangat lebar ketika berada dalam situasi sangat formal atau resmi. Kadang kala, sebuah senyuman akan menjadi bahan penilaian yang berdampak kepada pandangan orang lain kepada diri kita.

Senyum adalah alat transaksi yang paling bernilai di muka bumi. Meskipun tersenyum kelihatannya sebagai sesuatu yang sederhana, namun dapat berdampak luar biasa bagi mereka yang membutuhkannya.

Pahamilah bahwa hadiah termudah yang dapat kita berikan setiap hari kepada orang yang kita sayangi adalah dengan memberikan senyuman. Tanpa biaya, dapat meringankan beban penerima dan tanpa memberatkan pemberi. Senyum itu tidak lama-lama, namun dapat bertahan lama di hati penerima.

Tersenyumlah, maka keindahan dunia akan tampak lebih lebih nyata. Apabila kita tidak mampu bersedekah dengan harta, maka bersedekahlah dengan senyuman.

Senyuman itu tidak berbiaya namun akan sangat berarti bagi kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan kehidupan manusia di dunia ini. Tersenyumlah dan jadikan sukses itu lebih mudah.

Sudahkah kita tersenyum hari ini?

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #senyuman #2016 Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in RENUNGAN | Leave a comment

“NAMA UNIK”

Suatu ketika, Abece menemani Kupruk, sahabatnya sejak kecil dan keponakan Kupruk yang bernama Titi, duduk di Taman Kanak-Kanak, pergi ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, para orang tua murid diperkenankan ikut masuk ke dalam kelas.

Ternyata di dalam ruang kelas, yang hadir hanya beberapa anak murid. Seorang guru perempuan berhidung mancung duduk di depan kelas.

Guru : "Loh, kok yang datang cuma sedikit? Yang lain pada kemana?"

Dengan gaya sok tahu, Abece menjawab : "Mungkin kesasar bu… Ada yang kesasar ke ruang kelas lain atau ke taman bermain atau ke kantin sebelah atau mungkin kesasar ke warnet di seberang sekolah…"

Guru : "Hushhh… Mungkin itu kamu waktu sekolah suka bolos ke warnet…"

Abece tersipu malu : "Tau aja nih… Tapi ketemunya dengan suami Ibu Guru kok… Hihihi…"

Guru : "Udah… Udah… Stop sampai di sini. Sekarang saya mau berkenalan dengan semua anak-anak yang hadir. Saya akan mendatangi meja kalian satu persatu…."

Sambil membawa sehelai kertas berisi nama-nama murid TK, guru yang terkenal ramah dan kocak itu mulai menyambangi anak-anak murid yang saat ini duduk manis di dalam kelas.

Saat tiba di meja paling depan, Ibu Guru ini mulai bertanya: "Yang pakai kemeja hitam siapa namanya, sayang?"

Anak murid menjawab : "Toma, Bu Guru…"

Ibu Guru : "Nama yang unik. Pasti dulunya ibu kamu doyan makan tomat…"

Ibunda Toma tersenyum manyun menunjukkan pipinya yang tembem dan berwarna kemerahan seperti warna tomat.

Ibu Guru : "Nah, yang pakai pita berwarna pink, namanya siapa cantik…?"

Murid menjawab : "Tike, ibu guru…"

Ibu Guru : "Pasti bapaknya calo tiket di stasiun yah…."

Bapak yang menemani anaknya mengangguk-anggukan kepala dengan wajah cengengesan menunjukkan sederetan gigi berwarna kehijauan.

Ibu Guru menyalami seorang bocah yang bertubuh gempal : "Nama kamu siapa, sayang…?"

Murid menjawab : "Dona, Bu Guru…"

Ibu Guru ini langsung menyelutuk : "Wah, pasti ibumu mengidam donat waktu hamil dulu…?"

Ibunda Dona : "Ibu guru hebat sekali… Sudah kayak almarhum Mama Lorent, bisa meramal…"

Ibu Guru : "Nah, yang pakai tas Doraemon, namanya siapa sayang…?"

Murid menjawab : "Sila, Bu Guru…"

Ibu Guru : "Wah, pasti sewaktu mengandung nak Sila, orang tuamu doyan pencak silat yah…"

Mamanya Sila : "Dokter kok bisa tahu sih…? Hihihi.."

Mendengar obrolan Ibu Guru dengan beberapa murid sebelumnya, Kupruk segera mengajak pulang keponakannya : "Mari kita pulang saja, Titi…"

Seorang bapak juga mengikuti langkah Kupruk keluar dari kelas : "Daripada malu, lebih baik kita pulang saja, anakku Toke…"

Dan anak terakhir juga diajak pulang oleh kedua orang tuanya : "Ayo kita cari sekolah yang lain, anakku Panta…"

Gubrakkk…

#firmanbossini #abece #joke #gokil #ceritalucu Obrolanbeken.wordpress.com

Posted in JOKE | Leave a comment