“DI PENGADILAN”

<Jumat, 16 Juni 2017 OOR 13:50>

Abece pernah mengalami kejadian yang tidak akan terlupakan, saat menjadi kenek bus antar kota antar provinsi. Dia dilaporkan oleh seorang nenek ke polisi karena melakukan kekerasan fisik kepada sang nenek saat berada di dalam bus. Alhasil, Abece dihadapkan ke sidang pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Hakim : “Apakah benar saudara telah melakukan kekerasan fisik kepada nenek yang sudah renta itu? Dari laporan yang saya terima, nenek ini adalah penumpang legal dan sudah membeli tiket di loket resmi, tidak melalui calo. Tiketnya asli dan belum kadaluarsa…”

Abece : “Benar Yang Mulia, tiketnya memang asli. Bukan tiketnya yang saya persoalkan. Problemnya karena kelambanan nenek ini dalam menunjukkan tiket yang dimilikinya…”

Hakim : “Lamban? Maksudnya…?”

Abece : “Begini ceritanya… Sudah menjadi aturan dalam perusahaan, bahwa di setiap terminal, seorang kenek harus memeriksa tiket penumpang. Tujuannya untuk mencegah penumpang ilegal. Dari Medan sampai Jakarta ada belasan terminal yang harus kami singgahi…”

Hakim : “Jadi apa masalahnya dengan nenek ini?”

Abece : “Saat memeriksa tiket penumpang lain, saya tidak ada masalah. Namun saat memeriksa tiket nenek ini, tensi saya langsung naik…”

Hakim : “Saya masih belum mengerti. Coba kamu ceritakan detil peristiwanya…”

Abece : “Saat tiba giliran memeriksa tiketnya, saya segera menyuruh nenek ini mengeluarkan tiket yang dimilikinya. Lalu beliau mengeluarkan plastik hitam besar. Membuka ikatan plastik dengan hati-hati. Di dalam plastik ada beberapa tas, nenek ini sepertinya lupa dimana tiketnya disimpan. Satu persatu tas besar dikeluarkan dari dalam plastik. Membuka dengan menggunakan kunci gembok. Setelah berhasil membuka gembok tas besar, ternyata di dalam tas besar, ada sebuah tas kecil. Dengan hati-hati nenek ini membuka resletingnya. Ternyata di dalam tas kecil ada sebuah dompet besar. Setelah membuka kuncinya, nenek ini mengeluarkan sebuah dompet kecil. Dan akhirnya setelah bersusah payah selama setengah jam, barulah nenek ini dapat menunjukkan tiketnya…”

Setelah mengambil nafas panjang, Abece melanjutkan : “Setelah berjalan beberapa saat, bus kembali masuk ke dalam terminal, menjemput beberapa penumpang. Sesuai dengan tugas yang diberikan perusahaan, sebelum bus berangkat, saya harus memeriksa tiket penumpang satu persatu lagi….”

Abece berusaha mengendalikan suaranya yang terengah-engah karena begitu bersemangat menceritakan kronologis kejadian. Hakim menpersilakan Abece untuk minum.

Abece melanjutkan : “Saat tiba giliran memeriksa tiket nenek ini, saya menyuruh nenek ini mengeluarkan tiket yang dimilikinya. Lalu beliau mengeluarkan plastik hitam besar. Membuka ikatan plastik dengan hati-hati. Di dalam plastik ada beberapa tas, nenek ini sepertinya lupa dimana tiketnya disimpan. Satu persatu tas besar dikeluarkan dari dalam plastik. Membuka dengan menggunakan kunci gembok. Setelah berhasil membuka gembok tas besar, ternyata di dalam tas besar, ada sebuah tas kecil. Dengan hati-hati nenek ini membuka resletingnya. Ternyata di dalam tas kecil ada sebuah dompet besar. Setelah membuka kuncinya, nenek ini mengeluarkan sebuah dompet kecil. Dan akhirnya setelah bersusah payah selama setengah jam, barulah nenek ini dapat menunjukkan tiketnya…”

Hakim mulai mendengus : “Huh…”

Abece : “Sejam kemudian bus masuk kembali ke dalam terminal. Setelah menjemput penumpang, saya kembali memeriksa tiket penumpang yang berada di dalam bus. Saat tiba giliran memeriksa tiket nenek ini, saya menyuruh nenek ini mengeluarkan tiket yang dimilikinya. Lalu beliau mengeluarkan plastik hitam besar. Membuka ikatan plastik dengan hati-hati. Di dalam plastik ada beberapa tas, nenek ini sepertinya lupa dimana tiketnya disimpan. Satu persatu tas besar dikeluarkan dari dalam plastik. Membuka dengan menggunakan kunci gembok. Setelah berhasil membuka gembok tas besar, ternyata di dalam tas besar, ada sebuah tas kec….il….”

Belum sempat Abece menceritakan, tiba-tiba hakim menggebrak meja dengan sangat kuat, mengejutkan Abece dan seluruh pengunjung, lalu berkata dengan suara kuat : “Saudara jangan main-main…!!! Di sini bukan taman bermain..!!! Pengadilan ini adalah tempat terhormat…!! Mengapa saudara mengulang-ngulang cerita yang sama? Sampai lebaran kuda juga gak akan selesai ceritamu…”

Abece menyengir sambil berkata : “Tuh kan, Bapak Hakim Yang Mulia…. Baru sampai terminal ketiga saja Bapak Hakim sudah sewot dan naik emosinya. Bayangkan Pak… Saya ini harus mengulang hal yang sama sampai Jakarta…. Jakartaaa…!!!”

Gubrakkk…

#firmanbossini #joke #gokil #ceritalucu #abece #pengadilan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Joke | Leave a comment

“HIDUP DENGAN WAJAR”

<Jumat, 16 Juni 2017 OOR 06:57>

Kebanyakan orang suka dengan yang besar-besar. Rumah besar, mobil besar, impian besar, keinginan besar dan keberhasilan yang besar. Mereka kerapkali melupakan sesuatu yang kecil dan sederhana. Mereka tidak menyadari bahwa sebelum besar, pasti akan dimulai dari yang kecil dulu.

Kebanyakan orang suka dengan yang tinggi-tinggi. Bentuk tubuh yang tinggi semampai, jabatan dan kedudukan yang tinggi serta cita-cita setinggi langit. Padahal mereka lupa bahwa sebelum menjadi tinggi, kita harus menapak dari yang rendah dulu.

Kebanyakan orang suka dengan yang indah-indah. Pakaian yang mentereng, wajah yang dipermak dan dilapisi oleh sederetan kosmetik, rambut yang menawan berkat sentuhan tangan para stylist mahal. Mereka sering mengabaikan dan menyepelekan sesuatu yang alami dan polos. Padahal saat baru terlahir di dunia, kita semua identik dengan kepolosan, tanpa make up, tanpa parfum dan tanpa mengenakan sehelai benangpun.

Belakangan ini, muncul kecenderungan dari sebagian orang yang menilai kesuksesan dari banyaknya harta benda yang diperoleh, banyaknya deretan nol yang tertera di atas buku tabungan, besarnya rumah yang dimiliki, mahalnya mobil yang dikendarai dan luasnya tanah yang dimiliki. Alhasil, orang akan berlomba-lomba mengejar semua itu sehingga saat tidak berhasil mendapatkannya dan tidak mampu memilikinya, maka mereka akan merasa hidupnya gagal, mengalami depresi dan akhirnya menyalahkan diri sendiri, menganggap dirinya adalah manusia bodoh. Bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya.

Saat berkompetisi untuk memburu harta dan materi, manusia sering melupakan etika dan kepantasan, berseberangan dengan hati nurani dan merendahkan martabat sendiri. Melakukan pencurian, perampokan, penipuan, penggelapan, korupsi dan sederet tindak kejahatan yang dilarang oleh agama. 

Sobatku yang budiman…

Sesungguhnya harta itu tidak akan mampu melindungi hidup kita dari segala penderitaan. Harta banyak tidak akan menghindarkan kita dari sakit dan kematian. Orang kaya belum tentu memiliki keluarga yang harmonis. Orang hebat dan terpandang belum tentu berguna bagi orang lain. Orang cantik atau tampan belum tentu disenangi orang lain.

Jalanilah hidup ini dengan wajar dan dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran. Jangan tergiur oleh keindahan duniawi yang seringkali dapat menyesatkan pikiran. Jangan gemar membandingkan apa yang dimiliki dengan yang dimiliki orang lain. Jika tidak cukup kuat mental, tentunya akan berbahaya.

Mulailah melangkah dengan tetap memperhatikan norma-norma yang berlaku. Jangan mengkhianati batin dengan melakukan tindakan tidak terpuji. Langkah kecil dan sederhana yang bermanfaat bagi orang lain, pasti akan jauh bernilai daripada langkah besar namun merusak dan merugikan orang lain.   

Yang besar itu belum tentu membahagiakan.
Yang tinggi itu belum tentu bermanfaat.
Yang indah itu belum tentu menyenangkan.

Keinginan untuk mengejar yang besar, yang tinggi dan yang indah itu, seringkali membuat hidup kita menjadi berantakan. 

Nafsu mengalahkan logika karena pengeluaran lebih besar dari penghasilan. Lebih besar pasak daripada tiangnya.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #hidupdenganwajar Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Agama | Leave a comment

“BUAH KEJUJURAN”

<Rabu, 14 Juni 2017 OOR 07:23>

Seorang kenalanku bernama Siska, bekerja sebagai kasir di sebuah pusat perbelanjaan. Tidak sengaja kami bertemu di kafe sebuah mall setelah beberapa tahun tidak berjumpa. Saat itu saya sedang menunggu isteri yang sedang berbelanja busana kerjanya. 

Sebuah kisah menarik diceritakan Siska. Seperti biasa, saya senang menjadi seorang pendengar setia. Menyimak dan merekam setiap detil cerita untuk ditransformasikan dalam tulisan. Setidaknya kisah ini dapat menjadi inspirasiku untuk berbagi kepada orang lain.

Siska : “Saat itu swalayan sedang ramai dikunjungi pembeli. Saya senang sekali dengan membludaknya pembeli. Berarti bonus bulan ini pasti gede. Di tempat kerjaku, sang pemilik menerapkan bonus bulanan yang dibagikan rata kepada seluruh karyawan, jika penjualan bulanan mencapai target yang ditentukan olehnya…”

Saya : “Wah, saya baru dengar ada boss yang demikian. Baik benar boss kamu, Sis…”

Siska : “Iya benar bang… Semalam ada peristiwa menarik yang pasti akan kuingat selamanya. Saat sedang ramai-ramainya orang yang mengantri membayar barang belanjaannya, seorang ibu paruh baya menyerahkan uang lebih, tepatnya kelebihan dua lembar uang seratus ribu. Ibu itu tidak menyadarinya. Para pengantri di belakangnya juga tidak melihatnya. Sejenak saya terpaku melihat tumpukan uang yang berada di genggamanku…”

Siska menghela nafas sejenak, mengulurkan tangan kanannya meraih gelas minuman yang terletak di atas meja. Setelah meneguk jus jeruk, Siska meletakkan kembali gelas ke atas meja.

Siska melanjutkan ceritanya : “Jujur saja, imanku sedikit goyah. Bagiku, uang dua ratus ribu itu amat berarti. Menjelang lebaran, kebutuhan pasti meningkat. Baju baru, sepatu baru, kue hari raya serta amplop lebaran untuk kedua orang tua dan keponakan-keponakanku. Uang ini, sedikit banyak akan dapat meringankan bebanku. Toh tidak ada yang tahu…”

Dahi saya sedikit berkernyit : “Jadi kamu ambil uang lebih itu…?”

Siska : “Saat hendak meneruskan aksi negatif ini dan menyimpan kelebihan uang tersebut, tiba-tiba saya seperti dikejutkan oleh suara halus di telinga kiriku…”

Suara bisikan itu mengiang di telingaku : “Jangan kau ambil uang itu. Itu bukan hakmu. Setiap manusia memiliki berkahnya sendiri….”

Siska : “Seketika tanganku mengelu. Hatiku berdegub kencang. Setelah menarik nafas panjang, saya segera mengambil keputusan untuk memberitahu ibu pembeli, bahwa uang yang dibayarkan lebih dua ratus ribu. Ibu itu tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih atas kejujuranku…”

Saya menghela nafas lega : “Syukurlah kamu masih memiliki hati nurani, seputih kapas….”

Siska : “Saya merasa lega bang… Plong… Tidak ada lagi yang mengganjal di hatiku…”

Saya : “Untunglah kamu mengambil keputusan yang tepat… Semoga kamu mendapat balasan atas kejujuranmu…”

Siska tersenyum manis : “Benar bang… Sepulangnya dari tempat kerja, saya segera pulang ke rumah untuk mengabarkan kejadian ini kepada ibuku. Sungguh di luar dugaan, ibuku memberitahukan sebuah kabar sukacita…”

Saya merasa penasaran dan bertanya dengan tergesa-gesa : “Kabar apa itu…?”

Siska : “Waktu sore, kerabat dekatku yang baru pulang mudik dari luar negeri, menyamparin rumah kami. Dia membelikan enam toples kue lebaran. Bukan itu saja, dia juga menyelipkan amplop yang berisi uang satu juta untuk ibuku. Tentu saja ibuku merasa sangat gembira. Ketakutan akan kebutuhan dana yang banyak saat menjelang lebaran, terhapus sudah… Sungguh luar biasa anugerah Tuhan kepada keluarga kami…”

Saya menimpali : “Bukan main… Hadiah imbalan kejujuranmu langsung diberikan oleh Tuhan dalam selang waktu beberapa jam saja…”

Siska menggumam : “Saya tidak tahu, apakah itu adalah hadiah dari Tuhan atau memang kebetulan mendapat rezeki nomplok….”

Saya menegaskan : “Pastinya itu adalah imbalan atas kejujuranmu…”

Tidak berapa lama isteri dan anakku datang menghampiri meja kami. Matanya sedikit heran dengan kehadiran gadis lain yang tidak dikenalnya. Melihat gerak gerik isteriku yang tidak lazim, saya segera mengenalkan Siska sebagai kenalan yang sudah beberapa tahun tidak bertemu. Untunglah isteri mau mengerti dan menerima penjelasanku dengan senyuman manisnya.

Sobatku yang budiman…

Kita dilarang untuk mengambil apapun yang bukan menjadi hak kita. Saat kita mengambil hak orang lain, maka sesungguhya kita telah mengurangi berkah kita sendiri. Kita telah menolak imbalan hadiah yang akan diberikan oleh Tuhan kelak.

Walaupun tidak ada orang yang mengetahui perbuatan buruk yang kita lakukan, namun seringkali hati kecil berteriak dan memberontak melawan ketidakjujuran kita. Mula-mula berbisik lembut di telinga, namun jika kita tidak menghiraukannya, maka hati kecil kita akan mengetuk-ngetuk dada untuk mengingatkan kesalahan kita. Dada berdebar itulah tanda-tandanya.

Hidup ini memiliki hukum alam yang adil yaitu hukum karma. Perbuatan jahat akan berbuah penderitaan. Perbuatan baik akan berbuah kebahagiaan.

Untuk itu, selagi masih memiliki kesempatan, alangkah baiknya kita selalu menebar benih-benih kebaikan kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kejujuran Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Pengalaman Pribadi | Leave a comment

“TIDAK ADA YANG ABADI”

<Selasa,  13 Juni 2017 OOR 07:20>

Hidup ini terasa begitu singkat, karena kita sering tidak menyadari umur kita terus bertambah, setahun demi setahun. Tubuh menua dan mulai digerogoti banyak penyakit. Pantangan demi pantangan semakin banyak yang membatasi kita dalam mengkonsumsi makanan dan aktivitas berat lainnya.

Hari tua begitu cepat menghampiri kita. Segala kejayaan, kesuksesan dan kekuatan di masa muda dulu, hanya akan menjadi kenangan. Tidak pernah kembali ke hadapan kita lagi. Semua pesta sudah berakhir, tinggal menunggu detik-detik waktu kembali ke tempat asal kita berada.

Hidup ini bagaikan panggung sandiwara. Kita hanyalah pelakon yang berperan sesuai dengan apa yang diarahkan sang sutradara. Yang menjadi raja, bukanlah benar-benar seorang raja, yang menjadi budak, bukanlah budak sesungguhnya. Semua itu hanyalah peran di atas panggung. Saat drama sudah berakhir, maka berakhir jugalah semua peran yang ada. 

Hidup ini bagaikan mimpi. Seindah apapun mimpi kita, menjadi artis terkenal, menjadi orang berharta banyak atau menjadi apapun yang disukai, namun saat bangun dari tidur, maka semuanya akan hilang tidak berbekas. Seburuk apapun mimpi kita, dikejar setan, dilukai perampok, menjadi budak pengemis, hidup melarat dan penuh penderitaan, namun jangan khawatir. Saat terjaga dari peraduan, maka semuanya akan lenyap tidak berbekas. Semuanya hanyalah ilusi dari mimpi yang kita alami.

Demikian juga dengan apa yang kita jalani saat ini. Rumah mewah berkolam renang dengan desain bagaikan istana, harta benda melimpah hingga tujuh turunan, kedudukan dan jabatan tinggi yang mentereng, semuanya tidaklah kekal adanya. Saat kontrak kita berakhir di dunia, ketika nafas terakhir tiba, maka semua yang diraih tidak dapat dibawa pergi. Sebatang jarumpun tidak mungkin menyertai kita. Bahkan sehelai benangpun tidak dapat kita bawa pergi.

Lantas apa lagi yang mau dibanggakan? Apa lagi yang mau dipamerkan? Apa lagi yang mau diperebutkan? Toh semuanya tidak mungkin kita bawa pergi.

Bahkan saat menghadapi pengadilan akhirat, Sang Hakim tidak akan menanyakan berapa harta yang telah dikumpulkan, setinggi apa jabatan yang diraih atau seluas apa tanah yang kamu miliki? Bukan itu pertanyaannya…

Sebuah pertanyaan sederhana pasti akan ditanyakan kepada siapapun yang telah berada di pengadilan akhirat, sudah seberapa banyakkah amal ibadah yang telah kamu lakukan selama hidup di dunia? 

Amal berarti berbuat kebajikan kepada sesama umat manusia. Ibadah berarti mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, bersyukur dengan apa yang yang telah diperoleh dan menjaga apa yang tersedia dengan sebaik-baiknya.

Sobatku yang budiman…

Untuk itu, marilah kita menjalani hidup ini dengan penuh keikhlasan, mengembangkan rasa syukur dan selalu mengedepankan kebijaksanaan dalam setiap langkah kehidupan.

Jangan menjadi sosok yang dibenci karena merasa sok hebat, pamer kesombongan, hanya mau menang sendiri, terlalu perhitungan, suka menghujat dan merendahkan mereka yang berkekurangan. Buanglah semua sifat picik, iri dan dengki yang membuat kita menjadi pribadi yang selalu diliputi oleh kekotoran batin.

Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Alangkah indahnya jika kelak anak cucu kita merasa bangga dengan apa yang telah kita torehkan dalam hidup ini. Nama kita dikenang sebagai manusia baik dan berbudi luhur, bukan manusia jahat dan selalu menyusahkan orang lain.

Hidup ini adalah ladang pembelajaran. Maka dari itu, kita harus senantiasa belajar untuk berlapang dada dan mau mengalah. Hiduplah dengan penuh keceriaan dan selalu menebar senyum persahabatan kepada siapapun juga, bahkan terhadap orang yang belum dikenal. 

Tidak ada kehilangan yang tidak dapat diikhlaskan. Tidak sakit hati yang tidak dapat dimaafkan. Tidak ada dendam yang tidak dapat dilupakan. Tidak ada kepunyaan yang tidak dapat ditinggalkan. 

Semua bergantung kepada diri kita sendiri. Apakah yang kita masih tetap ngotot untuk menggenggam erat apa yang menjadi milik kita saat ini? Enggan untuk berbagi. Apakah kita masih bangga dengan apa yang kita raih saat ini? Enggan merendahkan hati. Apakah kita masih gemar menghina dan merendahkan orang lain? Enggan menahan diri dan berpikir bijaksana.

Semuanya tidaklah kekal dan tidak akan kita bawa mati. Apa yang kita tanam, pasti itu yang akan kita petik, di waktu dan kesempatan yang tidak terduga. Hiduplah dengan melakukan kebaikan dan menebar cinta kasih sebanyak dan selama mungkin.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #tidakadayangabadi #kebaikan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Renungan Harian | Leave a comment

“KESUKSESAN”

<Senin, 12 Juni 2017 OOR 07:12>

Semalam saya bertemu dengan seorang temanku, sebut saja namanya Ali. Kami mengobrol panjang lebar dari politik hingga ke masalah ekonomi. Ringan namun bernas dengan melontarkan pemikiran masing-masing dalam menyikapi kondisi yang berkembang saat ini.

Beberapa saat kemudian, seorang gadis kecil, imut, cantik dengan lesung pipit dan mata yang indah datang menghampiri Ali sembari berkata : “Daddy, minta uang lagi dong…”

Ali menyahut : “Yang lima puluh ribu tadi sudah habis yah?”

Sang gadis kecil berambut sebahu menyahut : “Iya Dad, sudah habis buat main bola-bolaan. Saya pengen main yang lain. Di Timezone banyak permainan barunya…”

Ali : “Baiklah… Ini yang terakhir yah…”

Sang gadis kecil : “Makasih Daddy…”

Setelah sang buah hati berlalu, pembicaraan beralih ke masalah pendidikan sekolah si kecil.

Ali : “Sebenarnya hari ini saya merasa kesal, kecewa dan sedikit sakit hati… Betapa tidak, saya yang dikenal sebagai anak pintar dulu, sekarang memiliki anak yang biasa-biasa saja…”

Saya terkejut mendengar penuturan Ali. Dari kacamataku, saya melihat Enes, nama panggilan anak Ali, adalah seorang yang lincah dan cerdas. Sorot mata dan tingkah lakunya menggambarkan Enes adalah anak yang pintar dan berbakat.

Saya : “Mengapa kamu berkata demikian, bro?”

Ali menghela nafas panjang, lalu berkata : “Hari ini adalah pembagian rapor. Saya belum dapat menerima kenyataan bahwa anakku tidak masuk sepuluh besar. Bahkan sebenarnya saya membayangkan minimal si Enes masuk lima besar…”

Saya : “Hmmm…”

Ali : “Saya masih ingat dulu saat hanya meraih rangking dua di kelas, selama seminggu saya larut dalam kesedihan yang mendalam. Merasa bodoh dan menyesal tidak mampu meraih rangking pertama. Sekarang anakku yang kubanggakan meraih prestasi yang biasa-biasa saja. Sepertinya dia bukan anakku…”

Saya terhenyak mendengarnya. Ali terlihat begitu terpukul melihat perkembangan pendidikan anaknya. Saya tahu dia pasti ingin anaknya meraih prestasi hebat, sama seperti prestasinya waktu duduk di bangku sekolah.

Saya : “Begini bro… Dulu itu beda dengan sekarang. Waktu dulu kita tidak dapat memilih banyak permainan, pulang dari sekolah, kalau tidak membantu orang tua, ya belajar. Beda sekali dengan anak sekarang, yang memiliki banyak pilihan untuk bermain. Ada gadget, siaran televisi, beragam permainan menarik dan begitu banyak tempat permainan yang membuat mereka lebih memilih bermain daripada belajar. Sekarang bergantung orang tuanya, harus mampu membatasi gerak gerak anaknya…”

Ali : “Benar apa yang kamu katakan, bro…”

Saya melanjutkan : “Kadang kesalahan bukan sepenuhnya berada di tangan si kecil, namun justru berada di tangan orang tuanya. Seharusnya kita sebagai orang tua harus turut mengambil peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak kita. Lihat saja fenomena negatif belakangan ini. Saat si kecil membutuhkan perhatian orang tuanya, malah ayah dan ibunya sibuk bermain gadget. Membiarkan anaknya bermain sendirian. Ada yang membelikan gadget dan membiarkan anaknya bermain gadget berlama-lama, asalkan tidak mengganggu kesenangan mereka dalam berselancar di dunia maya…”

Ali : “Iya, kamu tidak salah…”

Saya : “Bagaimana mungkin kita mengharapkan anak kita memperoleh prestasi bagus, jika kita tidak ikut mendidik dan membimbing mereka dengan benar? Apa mungkin anak kita dapat meraih rangking bagus dengan hanya bermain-main? Sungguh naif dan menggelikan jika kita menumpahkan semua kesalahan kepada anak kita, sementara kita masih sibuk dengan kesenangan kita? Berharap sebuah kesuksesan tanpa berjuang dengan sungguh-sungguh, tekun dan pantang menyerah?”

Ali sedikit terhenyak mendengar suaraku yang sedikit meninggi. Matanya tajam mengarah ke arahku. Namun aku seperti tidak sadar dan terus melanjutkan celotehanku.

Saya : “Sebenarnya saya turut prihatin dengan apa yang kamu alami, sama seperti yang dialami oleh banyak orang tua lainnya. Kita harus fair, jangan serta merta menyalahkan anak kita karena prestasinya yang kurang cemerlang. Walaupun sudah diberikan banyak private les, namun jika kita tidak mau turut dalam dunia mereka, maka jangan berharap banyak dengan kesuksesan mereka. Suksesnya anak tidak terlepas dari peranan orang tuanya. Coba kamu pikir-pikir, bro.. Apakah kamu pernah mendampingi anakmu belajar? Pernahkah bertanya-tanya tentang pendidikannya di sekolah? Cukupkah waktumu untuknya? Seriuskah kamu menjawab pertanyaannya saat dia sedang kesulitan memecahkan suatu masalah?”

Ali sedikit menggelengkan kepalanya, lemah sekali gerakannya, lalu berujar : “Iya bro… Saya baru sadar selama ini kurang memberikan waktuku untuknya. Memang kami berada dalam satu ruangan, namun saya terlalu asyik dengam duniaku, dia juga asyik dengan dunianya. Kami sangat sedikit melakukan komunikasi dan interaksi. Itulah mungkin kesalahan terbesarku. Saya harus belajar banyak dari peristiwa ini. Harus mengubah apapun yang salah dan lebih banyak meluangkan waktu untuknya…”

Saya tersenyum : “Satu lagi bro, jangan terlalu memaksakan keinginan kita, karena apa yang kita inginkan belum tentu sesuai dengan yang mereka inginkan. Kita boleh mengarahkan mereka, namun selanjutnya semuanya bergantung di tangan mereka…”

Sobatku yang budiman…

Apa yang diraih anak kita tidak terlepas dari peran serta kita dalam membimbing perkembangan mereka. Jangan berharap muluk-muluk atas prestasi mereka, jika kita sendiri berleha-leha dengan kesenangan dan dunia kita. 

Kesuksesan itu selalu diawali dengan perjuangan yang gigih, tekun, konsisten dan pantang menyerah. Gagal itu biasa, yang tidak boleh adalah berhenti di tengah jalan dalam mengejar impian.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kesuksesan #anak Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Pengalaman Pribadi | Leave a comment

“MEREK MINCE”

<Minggu, 11 Juni 2017 OOR 18:16>

Suatu ketika, Abece dan Xwaizet sedang duduk santai di warung Pak Sadong sambil menikmati segelas kopi hitam dan sepiring telur kuning bebek. 

Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja datang seorang SPG yang berpenampilan menarik, membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti sabun mandi, shampoo, odol hingga parfum dari merek terkenal.

Dengan gaya centilnya, sang SPG cantik tersebut bertanya kepada Abece dan Xwaizet : “Abang-abang ganteng, boleh tanya-tanya gak?”

Dengan mata berbinar-binar dan hidung kembang kempis karena wangi parfum sang SPG, Abece menjawab : “Tentu saja boleh….”

SPG : “Kalau boleh tahu, abang-abang pake sabun apa untuk mandi?”

Xwaizet : “Kadang Lux, Lifeboay atau Dettol…”

Abece : “Kalau saya kadang gak pake sabun karena badanku sudah memancarkan aroma yang wangi. Namun kalau sudah pudar, biasanya saya pake sabunnya Mince…”

SPG lanjut bertanya : “Kelihatan rambut kalian begitu indah, hitam dan mengkilat, boleh tahu menggunakan shampoo apa?”

Xwaizet : “Clear, Sunsilk atau Pantene…”

Abece : “Sama juga dengan badanku, jika rambutku sudah mulai tidak wangi, saya paling senang menggunakan shampoo Mince…”

SPG : “Giginya bersih dan putih… Pake odol siapa…?”

Xwaizet : “Darlie, Pepsodent atau Colgate…”

Abece : “Saya pake pasta gigi Mince…”

Sang SPG mengarahkan pandangannya ke Abece, tersenyum sejenak, lalu berkata dengan nada genit : “Luar biasa abang ini… Pengguna setia merek Mains (Mince). Ngomong-ngomong, merek yang hebat ini berasal dari negara mana? Kalau saya tidak salah menebak, pasti dari negara Perancis, tepatnya kota Nice yang terkenal itu…”

Abece tersenyum menampakkan sederetan gigi geraham yang tidak beraturan : “Bukan begitu mbak… Anda salah besar…”

SPG : “Jadi yang benar apa?”

Abece : “Mince itu nama ibuku… Saya selalu menggunakan barang-barang ibu untuk mandi… Hehehe…”

Gubrakkk…

#firmanbossini #joke #gokil #ceritalucu #abece #merek #mince Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Joke | Leave a comment

“MANUSIA BODOH”

<Minggu, 11 Juni 2017 OOR 09:01>

Seringkali kita mendapatkan kata-kata yang menyakitkan hati dari orang lain, menyebut kita sebagai manusia bodoh. Mereka berkata : “Dasar manusia bodoh…!!!” Bagaimana kita menyikapi kejadian ini dengan bijaksana?

Jika merasa tidak bodoh dan tidak layak mendapatkan panggilan tersebut, maka kita boleh melakukan koreksi kepada yang bersangkutan. Pilihlah kata-kata yang baik dan tidak konfrontatif. Ucapkanlah dengan penuh kelembutan.

Kita boleh berucap : “Maaf, apa yang kamu pikirkan tidaklah benar. Saya bukan manusia bodoh karena apa yang yang saya lakukan sudah sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan…”

Dengan mengatakan kalimat di atas, maka kita hanya sekali saja mengucapkan kata “bodoh”.

Jika merasa kurang pintar dan kenyataannya memang salah dalam melakukan sesuatu, maka kita tidak perlu mengomentari lebih lanjut. Biarkan saja. Jadikan kata “manusia bodoh” sebagai bahan koreksi diri untuk memperbaiki kelemahan serta memotivasi diri lebih baik lagi ke depannya.

Namun, saat kita langsung merasa tersinggung, tersulut emosi dan mulai berpikir : “Apa hebatnya mereka sehingga menyebutku manusia bodoh? Apa hak mereka mengatakan diriku sebagai seorang yang bodoh. Saya bukanlah manusia bodoh seperti yang mereka bayangkan. Pokoknya saya tidak menerima jika mereka mengatakan bodoh kepadaku. Aku tidak akan tinggal diam dan akan membalas mereka karena menyebutku bodoh…”

Dengan melontarkan kalimat di atas, sebenarnya tanpa disadari kita telah lima kali mengucapkan kata “bodoh”. Memposisikan diri kita sebagai manusia bodoh. 

Masalah utamanya adalah saat kita terbawa amarah, kita sering mengakui dan menyebut diri kita sebagai manusia bodoh hingga berkali-kali. Sungguh ironis dan menyedihkan bukan?

Sobatku yang budiman…

Saat seseorang menyebut kita sebagai manusia bodoh, maka yang harus kita lakukan adalah membiarkan kelakuan mereka. Toh apa yang mereka katakan tidak akan mengubah hidup kita jika kita tidak mempedulikannya. 

Ejekan, hinaan dan segala ujaran kebencian tidak akan mengusik hidup kita jika kita tidak memikirkan dan mau membiarkan ucapan itu lenyap dihembus angin. Jangan membalas ucapan mereka dengan emosi karena hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga sia-sia.

Satu lagi, mengapa kita harus membiarkan orang lain mengendalikan hidup dan mengganggu kebahagiaan kita?

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #manusiabodoh Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Posted in Renungan Harian | Leave a comment