“KEMENANGAN BAGI YANG BENAR”

<Kamis, 30 Agustus 2018 OOR 19:00>

Seorang teman, sebut saja namanya Sinchan, mengadu bahwa dirinya sering mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari Budi, teman sekerjanya.

Saat melakukan pekerjaan bersama-sama, Budi selalu melakukan kesalahan, namun karena kedekatannya dengan boss, dia mampu mempengaruhi boss agar memberikan hukuman kepada Sinchan. Padahal jelas-jelas Budi yang salah. Sang Boss hanya menerima informasi dari satu pihak saja. Apapun yang dikatakan Sinchan, selalu dicuekin.

Kejadian ini membuat Sinchan merasa terpukul dan rasanya ingin segera mengundurkan diri. Suasana kerja sudah tidak nyaman baginya. Namun Sinchan tidak mampu berbuat apa-apa, karena dirinya adalah tulang punggung keluarga. Biaya hidup keluarga dan sekolah kedua adiknya masih menjadi tanggungannya.

Berusaha untuk mencari lowongan pekerjaan lain, bukan solusi yang baik. Lokasi kerja yang dekat dengan rumahnya, cukup menghemat biaya transportasi, dapat digunakan untuk membayar uang sekolah adiknya sebulan. Gaji yang bakal diterima di tempat baru, tidak sepadan dengan yang diterima di perusahaan tempatnya bekerja. Maklum, Sinchan sudah bekerja 8 tahun dan posisinya juga sudah di level menengah. Belum lagi fasilitas dan bonus yang cukup lumayan.

Alhasil, Sinchan seperti terikat dengan perusahaan. Mau bertahan tapi suasana kerja tidak kondusif, hanya gara-gara ulah si Budi. Mau resign tapi tidak ada pekerjaan yang memberikan penghasilan sebesar sekarang ini.

Sinchan : “Aku stress lo Masbro…”

Aku : “Jangan begitu… Mengapa harus stress mikirin si Budi? Yang capek itu kamu sendiri…”

Sinchan : “Masak dia yang salah, tapi aku yang dihukum? Gak adil, bukan…?”

Aku : “Mana ada yang adil di dunia ini? Lihat aja sekeliling kita… Yang miskin merasa dizolimi karena yang kaya dapat berbuat apa saja dengan uang. Nah, sebaliknya yang kaya merasa dilecehkan, saat yang miskin berkendara sesuka hati, potong sana potong sini, belok sesuka hati, lampu sign ke kanan, tapi beloknya ke kiri. Harus mengalah kepada pemakai jalan lain yang notabene lebih miskin darinya. Jika menabrak motor, yang salah tetap si kaya walaupun sebenarnya yang salah itu si pengendara motor…”

Budi : “Iya juga sich Masbro… tapi perlakuan si Budi sudah keterlaluan… Dia juga playing victim, berlagak jadi korban, padahal sebenarnya dia yang salah. Bahkan dengan beraninya dia melapor ke boss bahwa saya yang melakukan kesalahan. Parahnya, boss kita percaya dengan omongan si Budi. Jengkel banget aku melihat drama ini…”

Sambil bercanda saya berkata : “Kalo gak nyaman, keluar lo…”

Sinchan : “Itulah masalahnya, Masbro… Saya gak bisa mundur… Saya masih butuh uang di sini…”

Aku : “Kalo gitu, tetaplah bekerja dengan baik. Tunjukkan kepada pimpinan bahwa kamu adalah karyawan unggulan. Jangan pedulikan ulah Budi. Yang penting kamu harus bekerja dengan giat dan konsisten. Suatu saat nanti, kebenaran pasti akan terungkap. Di situlah kamu akan meraih kemenangan…”

Sinchan : “Ok dech, Masbro… Makasih atas sarannya…”

Aku : “Ngomong-ngomong, kata orang tua dulu, kalo gaji pertama harus traktir orang. Nah, gaji pertamamu delapan tahun lalu belum kamu gunakan untuk mentraktir diriku. Sekarang bill ini kamu yang bayar yah…”

Sinchan merengut : “Ishhh… parah lu Masbro… Lagipula dompet saya ketinggalan… Kali ini Masbro yang bayar yah…”

Setahun kemudian, Sinchan mengajakku minum kopi di gerai Starbak.

Sinchan : “Akhirnya si Budi diberhentikan dari pekerjaannya. Kecurangannya berhasil dibongkar oleh Boss yang baru menjabat tiga bulan…”

Aku : “Kok bisa…?”

Sinchan : “Boss yang baru lebih bagus dan adil. Tegas dan tidak pandang bulu. Budi berusaha playing victim mengatakan dia menjadi korban kemarahan pelanggan karena salah mengantar barang. Dia bilang semua ini gara-gara diriku, sehingga dia yang kena masalah. Untuk kedua kali si Budi juga melakukan hal sama, dan kali ini dia kena batunya karena pelanggan datang ke kantor dan melapor ke boss. Setelah diselidiki, ternyata si Budi memang benar berbohong. Dan parahnya, dia juga mengurangi jumlah barang yang dipesan. Boss tidak dapat mentolelir tindakan koruptif ini…”

Aku : “Syukurlah… Kemenangan pasti akan berpihak kepada orang baik…”

Sinchan : “Thanks yah, Masbro…”

Aku tersenyum dan coba menggodanya : “Kali ini kamu atau aku yang bayar billnya…?”

Sinchan mengernyitkan dahinya : “Masbro yang baik hatinya… Kata nenek, kalo mau traktir orang, paling baik waktu gajian tahun ke sepuluh. Berkahnya melimpah ruah buat yang mentraktir ataupun yang ditraktir. Jadi gimana kalo tahun depan baru saya traktir..? Deal…?”

Aku : “Deal, ndasmu… Hahaha…”

Sobatku yang budiman…

Di sekeliling kita, banyak dijumpai orang yang tidak baik, sering berlaku kasar, tidak jujur dan selalu menyakiti hati. Bukan itu saja, dia bahkan sering memfitnah dan menyampaikan sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan. Berlagak menjadi korban yang tersakiti, lantas mengatakan kita sebenarnya yang jahat, bukan dia. Kita terus menerus dijelek-jelekkan.

Jangan berkecil hati. Jika ada kesempatan, sampaikan saja kebenaran itu dengan nada lembut, jauhkan dari emosi.

Lebih baik kita fokus memperbaiki diri agar menjadi lebih baik daripada mengurus hal tidak penting ini. Hanya buang-buang waktu saja menghadapi mereka yang memiliki hati busuk. Tidak ada hasilnya.

Percayalah, besok-besok kebenaran akan terungkap. Siapa sebenarnya yang jahat…

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #aug2018 Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in CERITA KEHIDUPAN, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s