“INGIN MENIKAH LAGI”

<Rabu, 24Januari 2018 OOR 08:40>

Seorang temanku, sebut saja Ridwan, tiba-tiba menghubungiku untuk mendiskusikan sesuatu hal. Kelihatan penting sekali. Kami berjanji untuk bertemu di tempat nongkrong favoritku.

Ridwan : “Bro, saya ingin menikah lagi…”

Saya sedikit terkesiap, namun berusaha untuk tenang : “Serius lu bro…?”

Ridwan : “Iya… isteriku tidak seperti dulu lagi, wanita yang baik, ramah, sopan dan menghormati suami. Sekarang dia suka membantah dan bersuara keras kepadaku. Bahkan beberapa kali dia sering kedapatan cekikan saat berteleponan dengan seseorang. Apa mungkin dia berselingkuh…?”

Saya : “Jangan berpikiran demikian… kamu tidak boleh berprasangka buruk terhadap isterimu…”

Ridwan : “Kenapa dengan orang lain dia ramah, sedangkan dengan diriku dia berperilaku kasar…?”

Saya : “Membina pernikahan itu gampang, kalau masing-masing tahu menempatkan diri, mau mengalah dan menahan diri. Pernikahan itu sering gagal karena sifat egois dan mau menang sendiri….”

Ridwan : “Jadi kamu mau bilang saya ini egois karena hendak menceraikan isteriku dan ingin menikah lagi…?”

Saya : “Boleh dibilang begitu bro… Kamu menyerah dengan keadaan yang kurang baik. Tidak mau memperbaikinya. Membiarkannya berlarut-larut hingga akhirnya semakin sulit untuk diperbaiki. Perkawinan itu ibarat perahu. Saat ada sedikit bocor, segera tambal. Jangan biarkan kebocoran itu semakin besar. Akan ada air yang masuk ke dalam kapal. Merusak seisinya dan bahkan menenggelamkan kapal. ..”

Ridwan menenggak minuman yang berada di atas meja. Matanya menerawang jauh. Selintas, matanya kembali ke arahku.

Saya : “Air itu ibarat orang luar. Mereka akan masuk ke dalam perkawinan dan lama kelamaan dapat merusak apa yang sudah dibina. Memang tidak semua air itu akan merusak sebab kita dapat menggunakannya untuk membersihkan bagian kapal yang kotor. Namun jika debit airnya semakin besar, maka kapal tidak akan sanggup menampungnya. Tenggelam dech…”

Ridwan : “Jadi saya harus bagaimana…?”

Saya : “Sebelum kapalmu karam, segera tambal kebocoran yang ada… Satu demi satu ditutup. Tidak boleh mengomel atau berkira. Jangan pula melakukannya dengan emosi, namun utamakan dengan kasih sayang…”

Ridwan : “Bagaimana jika benar isteriku berselingkuh…?”

Saya : “Jangan berburuk sangka dulu… Orang yang sedang emosi biasanya akan melihat apapun yang dilakukan pasangannya dari sisi negatifnya saja. Mencari-cari kesalahan untuk diperdebatkan. Lalu berupaya untuk mengalahkannya. Padahal ini bukan pertandingan…”

Ridwan : “Tidak gampang bro… Saya sudah terlanjur terluka olehnya…”

Saya : “Jangan egois… Memangnya selama ini kamu tidak pernah membuatnya terluka? Tahukah kamu jika selama ini isterimu juga terluka oleh ulahmu? Mungkin dia lebih banyak menyimpannya erat-erat di dalam hatinya. Cobalah untuk mengalah. Jangan sedikit-sedikit ngomong pisah atau cerai saat kamu merasa disakiti… Jangan menyerah dengan keadaan yang sulit. Tidak ada orang yang dapat memperbaiki kecuali kalian berdua… Pulanglah dan peluklah isterimu… Pasti hatinya akan menjadi lembut…”

Ridwan mengangguk perlahan, lalu berbisik : “Bagaimana jika dia menolakku…?”

Saya balas berbisik : “Jika gagal, silakan ulangi lagi…”

Ridwan : “Sampai kapan…?”

Saya : “Tidak boleh ada kata lelah dalam berumah tangga…”

Ridwan : “Ngomong-ngomong, kamu rupanya ahli dalam urusan rumah tangga yah…”

Saya : “Gak lah bro… soalnya saya pernah juga mengalami kegagalan. Hmmm… Dua kali gagal dalam pacaran…”

Ridwan : “Owalah… saya kira gagal dalam pernikahan.. Emangnya gak pernah gagal…?”

Saya : “Mau tahuuu ajaaa…”

Kami berdua tertawa terbahak-bahak hingga mengagetkan seisi ruangan.

Saya mengakhiri obrolan dengan merangkul bahu Ridwan : “Bro, tau gak…. Kalau para wanita berpikiran seperti kamu, sedikit-sedikit ngomong cerai, maka dapat dibayangkan pasti akan muncul duren-duren di sekitar kita….”

Ridwan : “Duda keren…. hahaha…”

Sobatku yang budiman…

Hakekat dari sebuah pernikahan itu bukanlah melulu untuk menyatukan dua hati yang berbeda, melainkan sejatinya untuk menyelaraskan derap langkah masing-masing agar dapat saling memahami, saling menutupi kelemahan, saling menjaga perasaan dan yang terpenting untuk saling membahagiakan.

Jangan berharap dapat memaksa pasangan kita mengikuti semua apa yang kita inginkan karena kita juga tidak ingin dipaksa menuruti semua kemauannya.

Kunci utama keluarga harmonis adalah saling mau mengalah dan tidak egois serta mau bersabar dan selalu bersyukur.

Tidak ada yang mampu membuat pernikahan itu menjadi bahagia, selain pasangan suami isteri yang telah diikat oleh tali pernikahan yang dilandasi oleh cinta dan kasih sayang. Bukan orang lain.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #menikah #jan2018 Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KELUARGA DAN PASANGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s