“FOKUSLAH DENGAN YANG ADA”

Di suatu hutan belantara, seekor anak harimau merasa sangat bosan dengan kesehariannya selama ini. Ketika kedua orang tuanya pergi mencari makan, dia bersama beberapa saudaranya akan ditinggal di suatu tempat yang aman dari predator. Sehingga rasa jemu begitu menyeruak dalam batinnya karena tempat dan suasana yang ada, hanya begitu-begitu saja.

Sesekali, kedua orang tuanya mengajak dirinya pergi berburu. Hal ini membuatnya merasa sangat senang. Selain dapat bermain dan bercengkerama di tempat baru, anak harimau ini dapat melihat pemandangan yang berbeda dari tempat tinggalnya saat ini.

Hingga suatu ketika, dia mendengar bahwa ada tempat istimewa di belahan dunia lain yang disebut dengan "rimba", yang menawarkan tempat bermain yang lebih baik dan lebih mengasyikkan daripada di hutan tempat tinggalnya saat ini.

Saat sedang berkumpul bersama keluarga, anak harimau ini mengutarakan niatnya kepada kedua orang tuanya : "Aku sudah bosan dengan kehidupanku saat ini. Aku ingin merantau ke tempat lain yang dinamakan rimba. Aku ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Mohon izinkan diriku untuk meninggalkan hutan ini…"

Kedua orang tuanya berusaha melarang niat sang buah hati, namun keteguhan hati anak harimau ini tidak tergoyahkan. Meskipun memendam rasa sedih dan khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk, namun akhirnya mereka harus ikhlas melepaskan kepergian anaknya yang keras kepala ini.

Sang ayah berusaha menghibur sang ibu yang terus menerus menangis mencemaskan keselamatan anak mereka : "Jangan disesali lagi. Anak kita sudah beranjak remaja. Biarlah dia belajar untuk meraih impian hidupnya. Kita hanya mampu berdoa semoga dia selamat dan dapat kembali ke pangkuan kita…"

Dengan menggenggam setumpuk nasehat dan berbekal segoni keyakinan, maka berangkatlah anak harimau itu pergi mencari "rimba", tempat impian hidupnya selama ini. Sementara itu, kedua orang tua dan sanak saudaranya masih tetap tinggal di dalam hutan.

Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah beberapa kali bulan purnama bersinar, hingga suatu ketika, anak harimau itu secara mengejutkan kembali ke hutan, tempat asal dirinya dilahirkan. Kepulangan anak harimau itu, tentunya disambut dengan riang gembira oleh kedua orang tuanya.

Sambil duduk berbaring di pangkuan ayahnya, anak harimau yang sudah menjelang dewasa itu berkata, "Ayah, aku tidak menemukan tempat yang dinamakan rimba, seperti yang kuimpikan selama ini…."

Ayahnya tersenyum dan membiarkan anaknya terus bercerita. Sesekali dia menjulurkan lidahnya untuk mengusap kepala anaknya.

Anak harimau itu melanjutkan : "Semua binatang yang aku jumpai merasa keheranan dan seperti mencibirku, saat aku menanyakan dimanakan lokasi rimba itu? Mereka menertawakanku sepertinya aku ini binatang bodoh. Padahal aku ini adalah calon penguasa, yang akan menjadi raja di hutan ini…"

Mimik mukanya berubah menjadi sedih, mengundang senyum tawa dari mereka yang mendengarkan cerita pengalaman hidupnya selama ini.

Anak harimau ini melanjutkan : "Hingga suatu ketika aku berjumpa dengan seekor pimpinan kelompok monyet di hutan sebelah. Beliau menjelaskan bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan disebut sebagai rimba itu adalah hutan yang kita tinggali ini. Sejak dulu hingga sampai kini, kamu sudah mendapatkannya. Inilah rimba yang ingin kamu cari, tempat kamu berpijak saat ini…"

Ayah harimau menambahkan : "Benar, anakku. Kamu sudah mulai beranjak dewasa. Kelak pikiran kamu akan menuntun hidupmu. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang jauh, mudah dipengaruhi oleh omongan yang menawarkan sesuatu yang semu padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata."

Sobatku yang budiman…

Kita semua adalah anak hatimau itu. Seringkali kita mengabaikan hal-hal sederhana yang berada di sekitar kita. Merasakan bosan dan berupaya mencari sesuatu yang baru yang "katanya" menawarkan sesuatu yang lebih baik. Kita lebih suka berangan-angan melihat hal yang "jauh-jauh", padahal sebenarnya hal itu sudah ada di depan mata.

Kita mencemaskan karir pekerjaan, kita mengkhawatirkan sekolah anak-anak, kita merasa gundah dengan segala rencana kehidupan dan kita takut dengan apa yang akan terjadi kelak dengan keluarga kita.

Padahal, pekerjaan yang kita lakoni sekarang adalah bagian dari perjalanan karir kita. Padahal, anak-anak kita sedang bersekolah dan menuntut ilmu merupakan bagian dari proses pendidikan mereka menuju kedewasaan. Padahal, hidup yang kita jalani saat ini adalah bagian dari rangkaian gerbong kehidupan kita menuju ke masa yang akan datang.

Jangan cemas, khawatir atau takut berlebihan dengan semua kondisi yang sedang berlangsung saat ini. Walau terasa menjemukan dan melelahkan, kita tidak boleh menyerah. Fokuslah dengan apa yang ada saat ini, sebab apa yang kita kerjakan saat ini merupakan jembatan menuju ke pintu masa depan kelak.

"Masa depan, karir serta kehidupan kita kelak adalah apa yang kita kerjakan hari ini."

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #fokus #dongeng #2016 Obrolanbeken.wordpress.com

Advertisements
This entry was posted in DONGENG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s