“PENJUAL BAKMI YANG HEBAT”

Suatu siang yang terik, saya merasakan lapar yang menusuk-nusuk hingga ke ulu hati karena belum sempat sarapan pagi. Bersama dengan seorang rekan, saya berniat menghabiskan waktu makan siang di warung soto langganan.

Saat menuju ke areal parkir, melintas di depan kami, seorang penjual bakmi yang sedang mendorong gerobaknya. Seorang pria yang tidak muda lagi, berpakaian lusuh dengan beberapa bercak cabe yang melekat di baju depannya.

Setelah berunding sebentar, akhirnya kami bersepakat menyantap bakmi untuk meredakan lapar yang mendera. Lagipula, jalanan terlihat padat merayap dan kami bakal terjebak kemacetan jika nekad pergi keluar dari kantor.

Saya memanggil penjual bakmi dan memesan bakmi yang terlihat lezat. Mungkin karena sudah lapar. Kami menikmati acara santap siang di bawah pohon rindang di areal parkir.

Ternyata bakminya enak sekali. Terutama sambal cabenya, membuat lidah menjadi ketagihan. Setelah masing-masing menghabiskan dua mangkok bakmi, lantas saya membayar seluruhnya. Hari ini giliran saya untuk mentraktir teman saya.

Teman saya : "Wah, beruntung banget dirimu, cuma bayarin empat mangkok bakmi. Giliran saya, makannya di tempat yang mahal…"

Saya cuma tertawa cengengesan melihat "protes" temanku. Kami sudah terbiasa bercanda dan terlibat dalam acara "sindir menyindir".

Saat memberikan uang 100 ribu, saya melihat penjual bakmi ini mengambil uang recehan puluhan ribu senilai 100 ribu, memberikan uang kembalian kepadaku, lalu meletakkan sejumlah uang ke dalam laci kiri dan juga memasukkan sejumlah uang ke dalam laci tertutup lain yang memiliki lubang untuk tempat masuknya uang.

Saya merasa heran dengan tingkah beliau yang aneh dan cukup merepotkan. Setiap kali menerima uang dari pembeli, penjual bakmi ini pasti akan memasukkan uang ke dalam kedua laci yang berbeda.

Saya bertanya : "Pak, kalau boleh tahu, mengapa uangnya dipisah-pisah…?"

Penjual bakmi : “Boleh pak… Saya sengaja memisahkan uang hasil penjualan dengan maksud membagi mana uang yang menjadi hak saya dan mana yang menjadi hak anak asuh saya…"

Saya bertanya penuh heran : "Anak asuh? Memangnya bapak memiliki anak asuh?"

Penjual bakmi : "Sebagian uang hasil penjualan akan saya gunakan sebagai modal usaha dan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya. Sebagian lagi saya sisihkan untuk membantu meringankan beban keluarga anak-anak yang saya asuh, setidaknya saya dapat membayar kebutuhan sekolah mereka…."

Saya : "Dengan hanya berjualan bakmi bapak memiliki anak asuh? Bukankah ini menambah beban kehidupan bapak?"

Penjual bakmi : "Saya tidak pernah merasa apa yang saya lakukan ini menyusahkan dan menambah beban hidup saya? Yang sebenarnya menjadi beban hidup saya ketika saya mampu berbagi tapi saya tidak melakukan apa-apa…"

Saya terkejut dengan kalimat-kalimat sederhana namun menohok batinku. Seorang penjual bakmi yang sederhana mampu berpikir demikian mulia.

Penjual bakmi melanjutkan : "Anak asuh saya saat ini berjumlah 15 orang. Mereka dapat menikmati bangku sekolah dengan tenang dan menuntut ilmu setinggi mereka mau. Bahkan ada di antara mereka yang sudah tamat sekolah dan mulai bekerja. Saya senang dan amat berbahagia dengan apa yang sudah saya lakukan selama 20 tahun ini. Saya ikhlas melakukan semuanya…"

Hatiku sangat tersentuh mendengar penuturan bapak penjual bakmi. Jawaban yang cukup mengiris sembilu saya, rekan saya dan para pembeli yang kebetulan mendengar percakapan kami.

Kami merasa apa yang telah diperbuat beliau merupakan sebuah "tamparan" yang memerahkan pipi. Kami yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari bapak penjual bakmi, belum tentu memiliki pemikiran dan rencana sedemikian indah dalam hidup. Seringkali kita berlindung di balik kata "tidak mampu" atau gaji masih kecil atau belum ada rezeki.

Saya melanjutkan bertanya : “Pak, bukankah bersedekah atau mengangkat anak asuh itu hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu membiayai..?"

Beliau menjawab : “Pendapat itu kurang tepat Pak… Kita harus malu kepada Tuhan kalau bicara mengenai rezeki sebab Tuhan selalu memberikan rezeki yang cukup kepada umatnya. Selanjutnya tergantung kepada kita untuk mengelolanya. Semua orang pasti mampu kalau memang mempunyai niat…."

Penjelasan yang polos dan gamblang membuat kami semua terdiam dalam alur berpikir masing-masing. Hari ini adalah hari yang begitu bermakna dalam hidupku, selain perut kenyang, batinkupun terisi oleh pelajaran kebajikan yang tiada bernilai.

Sobatku yang budiman…

Sebuah pembelajaran hidup telah ditunjukkan oleh penjual bakmi yang kesehariannya sangat bersahaja namun mampu menghipnotis alam bawah sadar dan membangunkan jiwa kita yang selama ini terbuai oleh manisnya kehidupan.

Banyak dari kita yang masih suka berlindung dari kata "belum mampu" atau "masih banyak kebutuhan lain".

Jika kita menganggap diri kita tidak mampu, maka mungkin seterusnya kita akan selalu berada di bawah garis mampu. Namun, jika kita berkata mampu, maka dengan bantuan kekuasaan Tuhan, kita pasti akan sanggup melakukan perbuatan baik.

Jangan pandang nilainya, namun lihatlah ketulusan dan keikhlasannya. Jangan menunggu mampu, sebab waktu kita sangat terbatas. Kita tidak tahu kapan akan "diajak pulang" oleh Tuhan.

Semoga kisah perjalanan hidup yang dilakoni oleh penjual bakmi ini dapat menjadi inspirasi dan memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kebaikan #2016 Obrolanbeken.wordpress.com

Advertisements
This entry was posted in PENGALAMAN PRIBADI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s