“PRASANGKA”

Belasan tahun yang lalu, ada seorang sahabat lamaku yang bernama Eddy sedang berkunjung ke Medan dalam rangka tugas meeting dan briefing.

Beliau adalah seorang manager senior dari perusahan jasa keuangan yang cukup ternama dan berkantor pusat di Jakarta.

Selama di Medan, Opekiu pernah mengalami pengalaman yang cukup menarik. Beliau menceritakan detil kejadian ketika bertemu saya di hotel Angkasa.

Ceritanya, Eddy bersama isterinya berniat keluar mencari sesuatu untuk mengisi perut kosong di seputaran Jalan Nibung Raya.

Saat membeli makanan, mereka melihat ada sesosok laki-laki bertampang berewokan, berpakaian lusuh dan celana jeans robek, rambut awut-awutan serta tangan yang memperlihatkan guratan bekas jahitan.

Dalam hati, Eddy berpikir : "Wah… Apa mungkin dia seorang residivis yang baru keluar dari penjara? Mungkin saja penjahat yang mau merampok kami…"

Sontak saja, Eddy sangat khawatir dan merasa terancam. Dia segera mengajak isteri tercintanya berlalu dari tempat itu. Takut kalau-kalau menjadi korban perampokan.

Namun, laki-laki "asing" tadi terus saja mengikuti setiap langkah ke mana pun mereka berdua pergi. Mengekor seperti bayangan.

Akhirnya, Eddy menyimpulkan bahwa orang tadi benar-benar seorang penjahat yang mungkin akan merampok dan menyakiti mereka berdua.

Kebetulan, tidak jauh dari Jalan Nibung Raya terdapat kantor Polisi Sektor (Polsek) Medan Baru. Eddy segera bergegas menuju ke kantor polisi yang berjarak 200 m dari tempatnya membeli makanan.

Ketika langkah kaki sudah berada di atas batas gerbang masuk, perasaan Eddy sangat lega. Setidaknya sudah ada tempat berlindung. Namun, saat Eddy menoleh ke belakang, ternyata "orang asing" tadi tetap mengikutinya hingga masuk ke dalam pintu gerbang.

Sebelum Eddy sempat melapor ke polisi yang sedang piket jaga, dari belakang muncul teriakan : "Selamat malam, komandan. Perintah, Ndan !!"

Dua orang personil polisi, dengan pakaian sama kumalnya dengan orang asing tadi sedang mengucapkan salam komando kepada "orang asing" tadi.

Rupanya "orang asing" yang disangka sebagai seorang residivis adalah seorang perwira polisi. Sudah menjadi kebiasaan bahwa seorang perwira polisi akan dipanggil "komandan" oleh anggota yang masih level bintara atau tamtama.

Ternyata perwira polisi tadi berniat kembali ke markas setelah bersantap malam di seputaran kantornya. Beliau baru saja kembali dari operasi penyamaran untuk membekuk sindikat narkoba.

Alangkah malunya Eddy begitu mengetahui bahwa sebenarnya "orang asing" tadi adalah seorang anggota polisi. Bukan penjahat atau residivis.Lebih jauh lagi, rupa-rupanya "orang asing’ tadi mengikuti mereka berdua karena ingin mengembalikan dompet milik isteri Eddy yang terjatuh di jalan.

Dengan senyum ramah sambil merangkul pundak Eddy, sang perwira polisi mengembalikan dompet ke arah isteri Eddy dan berkata : "Abang kok jalannya cepat sekali. Langkah saya kalah cepat dibandingkan Abang. Mantan atlet jalan cepat yah. Hahaha…?"

Eddy ikut tertawa. Dia merasa malu sekali karena sudah berprasangka yang tidak-tidak terhadap beliau. Dengan nada yang perlahan, Eddy berkata : "Maaf Pak…saya tidak tahu jika bapak adalah polisi. Saya sangka bapak itu penjahat. Saya takut sekali".

Sang perwira polisi tertawa terbahak-bahak diikuti tawa dari seluruh anggota polisi yang berada di sekitarnya.

Perwira polisi : "Yang abang lakukan sudah benar, kalau berjumpa yang aneh-aneh langsung saja lapor ke polisi. Saya juga minta maaf sudah mengerjain abang. Bisa saja saya berteriak menghentikan langkah abang, tapi saya sedang pengen iseng. Habisnya…capek nih badan, selepas operasi penyamaran. Sorry yah bang".

Eddy dan isterinya ikut-ikutan tertawa terbahak-bahak. Setelah bersenda gurau sejenak, Eddy permisi hendak "balik kanan" (pulang).

Tidak lupa Eddy menyelipkan 5 lembar uang seratus ribuan ke kantong sang perwira, sebagai upah mengembalikan dompet isterinya yang terjatuh tadi.

Namun, yang mencengangkan Eddy adalah sang perwira yang baik hati itu, malah mengembalikan lembaran uang tersebut ke kantong Eddy.

Berulang kali Eddy hendak menyusupkan uang tersebut ke dalam kantong sang perwira polisi, namun selalu ditolak dengan halus, hingga akhirnya beliau berkata : "Abang simpan saja duitnya. Tolong berikan kepada mereka yang jauh lebih membutuhkan. Anggap saja abang sudah memberikan kepada saya…."

Dalam hati Eddy berkata : "Luar biasa polisi yang satu ini. Selain jujur, baik hati dan anti korupsi, beliau juga berhati mulia. Masih mau memikirkan kaum yang tidak berpunya. Bukan main…."

Sobatku yang budiman…

Sebuah kisah nyata yang dialami sahabatku Eddy menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Jangan mudah berprasangka buruk terhadap orang lain. Jangan pernah menilai orang dari penampilan luar saja. Banyak orang yang berpakaian santun justru adalah seorang penjahat.

Namun demikian, kita tetap harus waspada dan hati-hati terhadap lingkungan sekitar kita. Jika ada hal-hal mencurigakan, segera lapor ke pihak berwajib.

Masih banyak anggota polisi yang berjiwa mulia dan ikhlas dalam melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat sesuai dengan motto kepolisian.

Pengalaman belasan tahun lalu masih tetap terpatri dan terukir indah dalam sanubari Opekiu dan diriku.

Bravo polisiku… !!!!

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #2016 Obrolanbeken.wordpress.com

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s