“PERSAHABATAN”

Opekiu, seorang mahasiswa di salah satu kampus ternama, memiliki teman pergaulan bernama Uvewe. Karena berasal dari daerah asal yang sama, mereka berdua mempunyai kesamaan dalam selera makanan.

Setiap kali pergi makan berdua, Opekiu selalu mentraktir Uvewe sebab tidak ada niat sedikitpun dari Uvewe untuk membayar bill makanan. Bahkan saat Opekiu berada di toilet, ketika bill datang, Uvewe berpura-pura mengetik sesuatu di ponselnya. Hingga akhirnya Opekiu tiba di meja dan terpaksa melunasi bill tersebut.

Karena merasa mampu, Opekiu tidak pernah mengeluhkan tabiat negatif Uvewe. Bagi orang lain, Opekiu seperti menjadi mesin uang bagi Uvewe. Bahkan ada yang menilai Opekiu adalah manusia bodoh yang selalu dimanfaatkan oleh Uvewe.

Sesungguhnya pertemanan yang dijalani oleh Opekiu dan Uvewe tidak akan langgeng karena pengorbanan hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Jika suatu saat Opekiu tidak lagi memiliki kemampuan dari sisi materi, biasanya orang yang bertipe seperti Uvewe akan meninggalkannya.

Lain lagi ceritanya dengan hubungan pertemanan antara Epel dan Sinchan.

Mereka memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Epel adalah orang kaya sedangkan Sinchan berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Setiap kali mereka pergi makan, tidak pernah sekalipun Epel membiarkan Sinchan untuk membayar bill makanan. Walaupun saat Sinchan baru saja menerima kiriman duit dari orang tuanya dan bersikeras untuk membayar bill, namun Epel dengan cekatan segera menuju ke meja kasir untuk membayarkan bill tersebut.

Akibatnya, beberapa kali, saat Epel mengajak Sinchan pergi makan, selalu ditolak oleh Sinchan dengan beribu satu alasan. Sinchan merasa segan selalu ditaktir. Epel mengetahui hal tersebut juga mengeluarkan "jurus lain" agar dapat mengajak Sinchan keluar makan bersama.

Epel merasa kasihan terhadap Sinchan. Dia merasa wajib untuk membantu Sinchan karena merasa Sinchan adalah teman yang amat baik, tidak neko-neko dan penuh perhatian. Selama ini Sinchan banyak membantunya dalam bidang pelajaran dan berbagai kesulitan lainnya. Sinchan juga bersedia menjadi tempatnya mengadu saat sedang dirundung masalah.

Dan yang paling penting, Sinchan tidak pernah mau menerima bantuan materi apapun dari Epel, walaupun sedang tidak memiliki uang di akhir bulan dan terpaksa harus makan mie instan setiap hari.

Karena keteguhan hatinya, pernah suatu kali, saat Epel belum menerima kiriman uang dari orang tuanya, sementara batas pembayaran uang kuliah sudah hampir habis, Epel menyiasatinya dengan berpura-pura memberikan pekerjaan mengetik makalah untuk Sinchan dengan imbalan yang cukup untuk membayar uang kuliah Sinchan.

Sesungguhnya hubungan pertemanan yang dijalani oleh Epel dan Sinchan adalah hubungan persahabatan yang tulus karena mereka berdua tidak memiliki niat buruk untuk memanfaatkan yang lainnya.

Mereka merasa cocok serta dapat menerima kelebihan dan kekurangan sahabatnya. Saling membantu dengan cara elegan dan tidak terlihat memojokkan sahabat yang lain.

Sobatku yang budiman…

Begitu banyak momen yang tercipta sehingga terjalin hubungan pertemanan yang baik. Saat kita berkenalan dengan seseorang atau menyapa seseorang di medsos tanpa pernah bertemu, saat itulah kita menganggap seseorang itu adalah teman kita.

Meningkatnya status pertemanan menjadi persahabatan membutuhkan waktu yang panjang dan berliku. Kebersamaan yang dilandaskan oleh niat tulus untuk membantu di saat susah, sering kali menjadi acuan "naik kelas" dari teman menjadi sahabat.

Persahabatan itu tidak memandang status sosial, kondisi fisik, suku, agama dan warna kulit. Sahabat akan hadir dalam kehidupan kita saat suka terutama duka.

Saat kita sedang bersedih, sahabat akan hadir untuk menghibur, mencandai dan menggokilin kita supaya suasana dipenuhi oleh canda tawa. Mengajak kita keluar untuk melupakan masalah yang membuat hati galau.

Namun, saat sahabat kita sedang mengalami kesulitan, segera ulurkan tangan selebar-lebarnya merangkul dan menampung semua keluh kesahnya, menghibur dan memberikan solusi jitu untuk menyelesaikan permasalahannya.

Hubungan persahabatan yang sudah terjalin dengan baik harus dipelihara seperti tanaman. Harus diberi pupuk jika tanamannya bantet, harus diberi pestisida saat diserang oleh serangga pengganggu dan harus disirami agar tidak menjadi gersang.

Persahabatan, tidak melulu lancar seperti jalan tol. Berbagai cobaan dan rintangan sering kali datang untuk menguji, baik dari dalam diri yang sedang tidak stabil, maupun dari pihak luar yang tidak suka dengan hubungan ini.

Kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan. Semuanya harus dilewati dan diselesaikan sesegera mungkin. Jangan berlarut-larut, karena akan membuat status hubungan "turun kelas" atau bahkan menjadi bubar. Persahabatan sejati akan dapat mengatasi cobaan ini bahkan bertumbuh bersamanya.

Seorang sahabat tidak pernah membungkus pukulan dan tikaman dengan ciuman. Tidak akan pernah menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena sayangnya, dia memberanikan diri menegur dan menasehati. Memberi penjelasan dengan kalimat yang sejuk dan membangun. Tidak akan membiarkan sahabatnya terjerumus dengan kesalahan yang sama.

Banyak orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun tidak sedikit yang mampu mempertahankannya. Mereka harus menerima kenyataan bahwa persahabatan yang telah terjalin menjadi hancur berkeping-keping karena sebuah pengkhianatan.

Ingatlah siapa yang berada di samping kita saat kita berada dalam kesulitan? Siapa yang mengasihi saat kita merasa tidak dicintai dan sendirian? Siapa yang mengangkat kita saat kita terjatuh? Siapa yang ingin bersama kita saat kita tidak berdaya dan tidak dapat memberikan apa-apa? Siapa yang paling sering membuat kita tersenyum dan tertawa lepas saat hati sedang dirundung kepedihan?

MEREKALAH SESUNGGUHNYA SAHABAT SEJATI…

Untuk itu, hargai dan peliharalah selalu persahabatan kita dengan mereka. Hingga suatu saat kelak, ketika mendengar nama kita, lantas dia akan tersenyum dan berkata kepada anak cucunya : "Dia adalah Sahabat Terbaikku… "

Seorang sahabat akan mendengarkan lagu di dalam hati kita dan menyanyikan kembali saat kita lupa akan syair lagu itu.

Seorang sahabat akan berkata : "Aku tidak mau berjalan di belakangmu karena aku tidak mampu mengikutimu. Aku tidak mau berjalan di depanmu karena aku tidak mampu memimpinmu. Namun, berjalanlah di sampingku untuk melangkah bersama-sama…."

Mempunyai satu sahabat yang mau mengerti kita, jauh lebih berharga dari seribu teman yang egois dan mementingkan kepentingan diri sendiri.

#firmanbossini #2016
#inspirasi #motivasi #renungan
Obrolanbeken.wordpress.com

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s