“INTONASI SUARA”

<Selasa, 18 Juli 2017 OOR 09:42>

Saat melakukan komunikasi dengan orang lain, seringkali pikiran kita terjebak untuk menilai kepribadian seseorang secara instan. Bukan hanya karena rangkaian kalimat yang terucap dari mulutnya, namun lebih disebabkan oleh intonasi suara saat mengucapkan kata-kata kepada kita.

Sederetan kalimat biasa akan terasa menakutkan jika diucapkan dengan intonasi suara yang tinggi. Bahkan kata-kata yang seharusnya mengandung nilai keindahan akan terdengar sumbang karena diucapkan dengan intonasi yang tidak tepat.

Seperti contoh, kata "sayang" akan mengandung dua makna berbeda jika diucapkan dengan intonasi tinggi dan intonasi rendah.

Kata "sayang…" jika diucapkan dengan intonasi rendah akan terdengar merdu dan bermakna kemesraan. Sedangkan kata "sayang…!!!" jika diucapkan dengan nada tinggi akan terdengar seperti bentakan dan peringatan kepada lawan bicara bahwa dia tidak setuju dengan apa yang dilihat atau didengarnya. Bagi yang dituju pasti tidak akan senang mendengarnya. Merasa tersinggung dan mungkin muncul penolakan atau perlawanan atas intonasi suara yang bernada tinggi tersebut.

Bagi sebagian suku di Indonesia, ada yang menjadi kebiasaan untuk berkata keras dan kuat. Contohnya orang yang berasal dari tanah Tapanuli (Batak), memiliki karakter suara kuat saat berbicara. Hingga muncul anekdot yang ditujukan kepada orang Tapanuli : "Walaupun (bersuara) kasar, namun sesungguhnya hatinya baik…"

Suara berintonasi tinggi berbeda dengan suara kuat. Dalam ilmu Fisika, tinggi rendahnya nada itu berkaitan dengan frekuensi suara. Sedangkan besar kecilnya suara berkaitan dengan amplitudo suara. Telinga manusia hanya mampu mendengar suara dengan rentang frekuensi 20Hz sd 20000Hz. Manusia tidak akan mampu mendengar suara yang berada di luar rentang tersebut.

Kadang kita mengeluarkan suara keras agar dapat didengar. Namun jika diucapkan dengan intonasi tinggi, maka orang lain akan menganggap kita sedang emosi, sedang meluapkan amarah dan menunjukkan rasa tidak suka terhadap sesuatu hal.

Sobatku yang budiman…

Seorang psikolog tidak akan ramai dikunjungi oleh pasiennya jika selalu berkata dengan intonasi tinggi. Demikian juga dengan pedagang, akan ditinggalkan pembeli jika menawarkan dagangannya dengan intonasi tinggi. Semua bidang profesi , baik itu guru, dokter, pegawai dan bahkan seorang tukang beca, akan mendapat respon positif dan memiliki konsumen yang banyak, jika mereka menyampaikan segala sesuatu dengan intonasi rendah.

Intonasi tinggi identik dengan marah-marah. Sedangkan intonasi rendah identik dengan kelembutan. Siapapun pasti akan lebih memilih lawan bicara yang lemah lembut dibandingkan dengan yang suka marah-marah.

Marilah kita belajar berkomunikasi dengan intonasi rendah dalam semua kondisi agar orang yang mendengarkan penjelasan kita dapat menerima dengan rasa nyaman dan penuh kedamaian.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #intonasi #marah-marah #lemahlembut Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s