“MANDIRI”

<Jumat, 14 Juli 2017 OOR 18:56>

Saya memiliki seorang teman sebut saja namanya Acin, seorang pengusaha sukses di bidang kuliner. Orangnya tinggi besar dan selalu berpenampilan necis. Ganteng mirip dengan aktor Hongkong, Andi Lau.

Suatu pagi, saya akan menjemput Acin untuk urusan pekerjaan. Dari balik pagar rumahnya, saya melihat Acin sedang duduk di kursi rotan sambil menggosok-gosok sepatunya dengan serius dan telaten. Matanya tidak berkedip, tangannya terus bergerak, kadang cepat, kadang lambat. 

Saat menyadari keberadaanku di hadapannya, Acin menyapa : “Bentar yah bro… Udah hampir kelar nih… Tinggal sedikit lagi sepatu ini sudah kinclong…”

Saya menatapnya dengan sedikit tidak percaya. Seorang boss mau meyemir sepatunya sendiri. Padahal saya tahu persis, asisten rumah tangganya ada tiga orang, belum termasuk dua orang baby sitter yang mengurus sepasang bayi kembarnya.

Saya : “Loh, kok kamu sendiri yang menyemir sepatumu? Memangnya pembantumu pulang kampung yah?”

Acin : “Gak… Mereka ada di dalam rumah sedang mengurus pekerjaan yang lain…”

Saya : “Mengapa tidak menyuruh mereka yang melakukannya…?”

Acin : “Gini bro… Kalau memang ada yang bisa dilakukan, mengapa harus menunggu yang lain? Jika mampu melakukan sendiri, maka kita tidak perlu menyuruh-nyuruh orang lain…”

Saya terkesiap mendengar jawaban Acin, seorang pengusaha sukses yang setiap tahun beberapa kali pasti berlibur ke luar negeri bersama keluarga besarnya. Kalau tidak salah, juga memiliki properti di Pulau Pinang, Malaysia.

Iseng-iseng, saya ingin menguji Acin : “Jika kamu berpendapat demikian, mengapa kamu tidak mencuci dan menyetrika bajumu sendiri? Mengapa tidak mengepel dan membersihkan rumah…?”

Acin tersenyum mendengar pertanyaanku yang sedikit konyol : “Bro, jika saya melakukan semua pekerjaan rumah, nanti siapa yang akan mencari nafkah buat keluargaku? Kamu bersedia menggantikan posisiku?”

Sambil memeletkan lidah, saya berkata : “Enak aja… Gak mau dech. Kamu yang harus bertanggung jawab atas kebutuhan keluargamu…”

Acin : “Nah, makanya jangan bertanya sesuatu yang kamu sudah tahu jawabannya…”

Kami berdua tertawa terbahak-bahak, memecah kesunyian pagi di teras rumah yang asri nan sejuk. Hari ini saya mendapat sebuah pelajaran hidup dari seorang sahabat. Pelajaran tentang kemandirian. Sesuatu yang barangkali sudah banyak dilupakan orang karena mereka mampu menggaji orang untuk membantu semua pekerjaannya, bahkan sampai hal sekecil-kecilnya seperti membawa tas atau smartphone.

Sobatku yang budiman…

Sesungguhnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk mandiri, namun ternyata tidak setiap orang memiliki kebiasaan untuk mandiri.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #mandiri Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in PENGALAMAN PRIBADI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s