“JANGAN MUDAH PERCAYA”

<Kamis, 13 Juli 2017 OOR 05:36>

Saya memiliki seorang teman, sebut saja namanya Dudi. Dikenal sebagai orang yang paling heboh. Semua cerita maupun berita selalu ditanggapinya dengan penuh semangat. Bagaikan seorang ahli, Dudi selalu menempatkan diri sebagai “centre of attraction” alias pusat perhatian. 

Saat semua orang tidak lagi memiliki bahan omongan, maka Dudi pasti akan memanfaatkan momen untuk bercerita. Sebagian ada benarnya, namun tidak sedikit yang melenceng dari kenyataan, berkat bumbu-bumbu tambahan yang tidak dapat dipercaya seratus persen. Bagi yang sudah mengenal karakter Dudi, akan menghindar mendengar apapun yang disampaikan Dudi.

Seperti kasus penyerangan Hermansyah, ahli IT dari ITB. Dudi begitu meyakinkan bercerita bahwa kejadian ini pasti ada hubungannya dengan kasus yang melibatkan seorang tokoh agama kondang yang konon ditunggu kepulangannya dari luar negeri. Dengan lancar Dudi memaparkan alasan dan bukti yang didapatnya dari media abal-abal. Dia berusaha meyakinkan orang sekelilingnya bahwa apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.

Setelah pihak berwajib berhasil mengungkap kasus ini, Dudi masih saja bersikeras bahwa polisi telah merekayasa kasus ini. Dia tidak mundur sedikitpun dalam mempertahankan pendapatnya.

Beberapa waktu yang lalu, Dudi pernah mengeluarkan pendapat kontroversi terkait kasus kepergian Presiden Jokowi bersama rombongan keluarga ke luar negeri. Dengan sinis, Dudi menyoroti masalah ini dan menganggap Presiden Jokowi telah mengingkari janjinya dan bahkan sudah melanggar undang-undang. Melakukan pemborosan yang mengakibatkan kerugian negara.

Beberapa rekan seperkumpulan ada yang terpengaruh dan mengiyakan apa yang disampaikan Dudi. Bahkan ada yang sampai menghujat dan mengatakan tidak akan memilih Jokowi pada pilpres tahun 2019 mendatang karena melakukan perbuatan yang mencoreng citranya sebagai pemimpin yang sederhana dan inkonsisten dengan ucapannya.

Namun, setelah adanya rilis dari pihak istana, bahwa biaya akomodasi perjalanan keluarga presiden tidak ditanggung negara alias dananya keluar dari kantong pribadi Jokowi, Dudi masih tetap mencurigai bahwa hal ini adalah akal-akalan dari pihak istana. Dudi berkilah bagaimana mungkin dapat memilah biaya negara dengan biaya pribadi secara proporsional.

Dengan gamblang, Dudi menjelaskan rincian biaya yang tidak akan mudah untuk dipisahkan. Bagaikan ahli ekonomi, Dudi menggunakan bahasa dan istilah ekonomi, membuat kami yang awam dengan istilah ekonomi, terpelongo dan menggeleng-gelengkan kepala kami.

Seorang teman saya berbisik : “Seandainya yang disampaikan oleh Dudi itu tidak benar, mana mungkin ada yang paham dan dapat mengkoreksinya. Toh kita berlima yang berkumpul sekarang ini, tidak ada yang berasal dari jurusan ekonomi…”

Saat Dudi pergi ke toilet, seorang teman lain berkata : “Lain kali kalau si Dudi mulai ngomong tidak benar, kita tinggalkan saja dia…”

Teman yang lain menimpali : “Lebih tepatnya, lain kali gak usah ajak dia lagi. Lama-lama kita jadi ikutan tidak benar. Sebuah kesalahan jika disampaikan terus menerus akan dapat dianggap sebagai kebenaran…”

Yang lain mengangguk. Mungkin inilah puncak dari kekesalan kami atas perilaku Dudi yang tidak baik. Setelah ini, mungkin tidak akan ada lagi sosok Dudi dalam setiap acara ngopi-ngopi santai.

Sobatku yang budiman…

Banyak orang tidak sadar telah menunjukkan kelemahannya dengan banyak berbicara. Jika sudah menjadi pusat perhatian, maka akan dianggap hebat. Menganggap apapun yang keluar dari bibirnya adalah sebuah kebenaran. Merasa paling pintar dan tahu segala-galanya. Mengarang bebas dan menciptakan kebenaran menurut kacamatanya sendiri.

Padahal, apa yang dilakukannya justru mempermalukan dirinya sendiri. Ujung-ujungnya, orang justru menganggapnya adalah manusia yang hidup dalam khayalan, lebih sadisnya dianggap sebagai seorang pembual.

Apa akhirnya yang terjadi? Sama seperti Dudi, orang-orang tidak akan suka dengan kehadirannya. Tidak nyaman jika dia ada diantara mereka. Seorang yang suka melebih-lebihkan sesuatu dan merasa paling hebat, suatu saat pasti akan ditinggal pergi.

Kadang yang tahu banyak, memilih untuk diam. 
Kadang yang tahu sedkit, memilih untuk banyak bicara.

Apakah kita harus mempercayai orang yang memiliki sedikit pengetahuan, namun terus menerus berbicara?

Mari gunakan akal, pikiran dan hati nurani saat ingin mempercayai sesuatu hal yang belum dipahami.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #percaya Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in PENGALAMAN PRIBADI. Bookmark the permalink.

2 Responses to “JANGAN MUDAH PERCAYA”

  1. Baik tulisan maupun gambar -(meme? Termasuk meme kah itu istilah nya? Yg di bawah:”Kadang yg bnyk, bla bla”)- sangat bnr. Cape kalo punya tmn yg suka menempatkan diri sbg centre of attraction (ap lg jk dsr pendidikan krg, cm krn sok tahu dsb)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s