“MENTAL JUARA”

<Selasa, 11 Juli 2017 OOR 07:10>

Seorang atlet lari mengikuti perlombaan lari yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setiap tahunnya. Ini merupakan tahun ketiga bagi Sinchan yang masih berusia dua puluh satu tahun mengikuti turnamen bergengsi ini. Dalam dua perlombaan sebelumnya, Sinchan gagal meraih juara. Bahkan di tahun kedua, dia harus mundur karena mengalami kejang otot kaki. Walau terus berusaha untuk bangkit, namun upayanya berakhir sia-sia.

Untuk keikutsertaannya di tahun ketiga ini, Sinchan telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia begitu yakin akan berhasil memenangkan turnamen ini. Semangatnya sangat menggebu-gebu. Beberapa bulan sebelum pertandingan, Sinchan telah menggodok kemampuan fisik dan menempa staminanya semaksimal mungkin.

Saat pertandingan sedang berlangsung, lima ratus meter sebelum finish, tiba-tiba Sinchan merasa ada yang tidak beres dengan kakinya. Dia berusaha terus berlari, namun rasa sakit yang begitu hebat memaksanya untuk berhenti sejenak. Membungkuk dan mengurut-urut kaki kanannya.

Setelah merasa sakitnya sudah berkurang, Sinchan berusaha bangkit kembali dan mencoba berlari menuju ke garis finish. Tinggal beberapa ratus meter lagi. Namun baru beberapa langkah berlari, Sinchan kembali merasakan sakit di kaki kanannya. Kali ini, Sinchan harus tersungkur di lapangan lari. 

Sinchan belum mau menyerah. Dia terus berusaha untuk bangkit dan melanjutkan lomba. Walaupun berulang kali terjatuh, namun Sinchan belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Dia belum berniat mengibarkan bendera putih.

Sebelumnya Sinchan berada di urutan pertama. Karena berulangkali berhenti, beberapa pelari berhasil menyusulnya dan bahkan mulai meninggalkan dirinya. Sinchan tidak lagi memikirkan tropi juara berada di genggamannya. Yang ada di dalam benaknya adalah berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan larinya hingga ke garis finish. 

Penonton mulai bersorak sorai. Bukan untuk sang juara, melainkan untuk Sinchan. Semua mata penonton tertuju kepadanya. Saat Sinchan terjatuh, maka penonton akan bersorak untuk menyemangati Sinchan. Berharap Sinchan dapat berdiri dan berlari kembali.

Sinchan merasa tertantang oleh aksi penonton yang terus menerus memompa semangatnya. Dia tidak lagi memikirkan tropi sang juara. Sinchan menebalkan batinnya untuk terus berjuang hingga ke akhir lomba.

Garis finish sudah berada di depan mata. Tinggal beberapa meter lagi. Mata Sinchan sedikit kabur, pikirannya tidak karuan, rasa sakit yang menusuk-nusuk kulit hingga tulang kakinya membuat dia harus meringis dan menggigit bibirnya. Sedikit tetes darah mengalir dari pinggiran bibirnya.

Setelah berjuang dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan terutama oleh dukungan para penonton, akhirnya Sinchan berhasil menginjakkan kakinya ke garis finish. Inilah akhir perjuangan seorang atlit yang mengalami cedera parah, namun tidak mau menyerah.

Seluruh penonton memberikan “standing applaus” (bertepuk tangan sambil berdiri), sebuah aksi penghormatan tertinggi yang biasa dilakukan oleh penonton atas pertunjukan aksi yang luar biasa. Hal ini sangat jarang terjadi dalam suatu pertandingan olahraga.

Sobatku yang budiman…

Dari kisah Sinchan di atas, kita dapat memetik pelajaran berharga tentang sosok anak manusia yang memiliki mental juara, sikap yang belum tentu dimiliki oleh para olahragawan. Kegigihan untuk terus berjuang, tidak berhenti melangkah dan bertekad kuat untuk menyelesaikan perjuangan hingga ke garis finish.

Walaupun Sinchan gagal meraih juara, namun sesungguhnya juara sejati dan atlit terbaik layak diberikan kepada Sinchan. Sebuah pertunjukan aksi heroik dari Sinchan telah mengajarkan setiap orang untuk tidak menyerah dengan rintangan yang menghadang di depan.

Mari kita tanamkan semangat baja dan mental juara dalam segala segi kehidupan. Ini bukan masalah juara atau tidak, sama sekali bukan. Bukan tentang kita yang berhasil keluar sebagai pemenang dalam suatu pertandingan. Namun tentang bagaimana mengasah dan membentuk mental juara.

Saat kita berada di alam dunia, maka sebenarnya kita sudah menapak di dalam pertandingan. Teruslah berjuang hingga ke garis akhir. Berusahalah untuk menyelesaikan pertandingan tersebut walaupun timbul rasa sakit atau hadirnya sekumpulan kerikil yang dapat menghalangi laju langkah kita.

Saat terjatuh, bangkitlah… Berulang kali terjadi, tidak menjadi masalah. Tidak perlu menjadi juara. Yang penting mental juara selalu melekat dalam diri kita. 

Selesaikanlah apa yang sudah dimulai. Teruslah berjuang… Inilah pemenang sesungguhnya…

Ayo… kita pasti bisa…!!!

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #mentaljuara Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s