“TERKENAL TANPA DIKENAL”

<Kamis, 29 Juni 2017 OOR 12:54>

Kita semua mengenal Raisa, seorang penyanyi wanita berwajah lembut dan berpenampilan menarik dengan suara yang merdu. Semua lagu yang dibawakannya amat memikat hati pendengarnya. Terlebih lagi, saat Raisa menyanyikan lagu berjudul “Indonesia Pusaka” di hadapan Presiden Jokowi, terdengar begitu merdu, membuat sebagian pendengar merinding karena terbawa oleh suasana yang syahdu.

Namun, siapakah pengarang lagu “Indonesia Pusaka” yang dinyanyikan oleh Raisa? Ismail Marzuki adalah sosok dibalik terciptanya lagu fenomenal tersebut. Mungkin sebagian kita dari kita mengenal namanya, namun tidak mengenal sosoknya. Jika di suatu kesempatan, seorang Raisa dan Ismail Marzuki berjalan berdampingan, maka semua orang akan mengenal Raisa dan tidak mengenal sosok yang berjalan di samping Raisa. Orang akan mengira-ngira itu adalah ayah, pengawal atau mungkin saudara Raisa.

Padahal, sosok Ismail Marzuki jelas lebih hebat dari Raisa. Segudang karya lagu ciptaannya, terutama bergenre nasionalis, menjadi lagu wajib yang harus dinyanyikan oleh anak-anak sekolah. Bukan itu saja, nama besar Ismail Marzuki, sudah digunakan sebagai nama tempat kesenian di seluruh wilayah pelosok tanah air. Sosok yang terkenal namun tidak dikenal.

Suatu ketika saat sedang duduk di SMA, saya berkunjung ke kampung sahabat karibku, Hendra. Lokasinya cukup jauh dari perkotaan. Di sini banyak orang beternak ayam. Ada yang kecil-kecilan, namun ada juga yang beternak hingga ribuan ekor di dalam kandang besar.

Belakangan ini, dari orang tua Hendra, saya mendengar banyak orang yang kehilangan ayamnya karena digondol maling. Upaya yang dilakukan untuk menangkap maling ayam selalu gagal. Walaupun sudah diadakan ronda malam, namun sang maling tetap saja mampu beraksi. Sepertinya sang maling mengetahui dengan pasti lokasi yang sudah dilewati peronda, dan langsung melakukan aksinya setelah para peronda berlalu.

Beberapa hari saya terus memikirkan cara membantu masyarakat menangkap maling. Saya berdiskusi dengan Hendra. Sempat terbersit untuk menggunakan kawat listrik, namun urung digunakan, sebab resikonya cukup besar, dapat membahayakan orang yang lewat. Lagipula biayanya cukup mahal.

Akhirnya saya mempunyai sebuah ide sederhana dan tidak mahal, namun keberhasilannya masih diragukan. Setiap pintu masuk kandang digantungkan kaleng yang di dalamnya berisi kelereng atau gundu. Lalu kaleng tersebut disambungkan dengan benang tipis ke kaleng-kaleng lain yang digantung di dinding kandang ayam. Semakin banyak semakin bagus. 

Tujuannya saat maling membuka pintu kandang, maka kaleng yang berada di pintu akan berbunyi karena kelereng yang berada di dalam kaleng akan berbenturan. Melalui sambungan benang tipis, kaleng lain yang berada di dinding akan ikut bergoyang dan menimbulkan suara gaduh. Dengan demikian warga desa akan segera bergegas ke arah suara dan mengepung maling tersebut.

Ayah Hendra : “Tidak ada salahnya kita mencoba, toh biayanya murah dan gampang dibuat. Nanti saya kabarin kepada warga desa untuk memasang kaleng bergundu di depan pintu kandang…”

Ternyata selang beberapa hari, dua orang maling ayam berhasil diringkus dan sempat menjadi bulan-bulanan massa. Mereka sudah beraksi selama berbulan-bulan tanpa ketahuan. Berkat kaleng bergundu, kedua maling yang meresahkan masyarakat desa berhasil diringkus. Untung saja tidak dihakimi hingga tewas. Cuma babak belur saja.

Praktis setelah kejadian itu, namaku menjadi buah bibir di kampung Hendra. Selama seminggu keberadaanku di sana, saya sering mendengar penduduk desa membicarakan namaku. Padahal menurutku, ide kaleng bergundu itu tidaklah istimewa. Sangat biasa.

Menjelang kepulanganku ke kota, Hendra mengajakku makan di warung soto. Tempatnya sangat sederhana, namun selalu dipenuhi oleh banyak pengunjung. Sotonya memang terkenal sangat lezat. Orang akan makan dua piring nasi, baru merasa puas.

Di sela-sela perbincangan, beberapa kali kami mendengar obrolan dari meja sebelah, menggosipkan namaku. Mereka hanya mengenal namaku sebagai pencetus ide kaleng bergundu sehingga maling ayam yang cerdik berhasil diringkus. 

Hendra tersenyum-senyum mendengar namaku disebut beberapa kali. Saya juga ikut tersenyum. Bangga sekali namaku begitu harum di mata penduduk desa. Biarpun mereka tidak mengenal wajahku. Padahal orang yang mereka perbincangkan berada persis di sebelah meja mereka.

Sobatku yang budiman…

Kadang kita tidak menyadari bahwa apa yang dipikirkan, apa yang kita cetuskan, walaupun sederhana, namun amat berarti bagi orang lain. Jangan berpikir muluk-muluk tentang ide yang besar dan bombastis. Tidak mudah untuk diwujudkan, apalagi untuk dimanfaatkan.

Satu lagi, seringkali apa yang kita kerjakan tidak direspon atau diapresiasi orang lain. Gak masalah. Biarin aja, yang penting kita sudah melakukan sesuatu yang menurut kita baik. 

Jangan menggembar-gemborkan hasil kreativitas karena akan menimbulkan sakit hati jika tidak ada yang memuji. Lebih baik terkenal walaupun tidak dikenal.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #terkenaltanpadikenal Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Pengalaman Pribadi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s