“KISAH ISTERI YANG DIZOLIMI”

<Sabtu, 24 Juni 2017 OOR 09:33>

Tobalik, seorang pemuda yang berasal dari keluarga miskin. Sejak kepindahannya ke kota, ia memulai kehidupannya dari nol, bekerja sebagai tukang angkat telor di sebuah pasar tradisional. Kemudian berpindah kerja ke sebuah perusahaan konstruksi, sebagai office boy. 

Beberapa tahun kemudian, Tobalik berkenalan dengan Mira, seorang gadis manis yang berpenampilan menawan, bekerja sebagai marketing di anak perusahaan tempatnya bekerja. Setelah menjalin hubungan asmara selama beberapa bulan, akhirnya mereka mengikrarkan janji sehidup semati, walaupun dengan kehidupan ekonomi yang belum membaik.

Mereka menyewa sebuah rumah sederhana, dekat dengan stasiun kereta. Kehidupan sederhana yang mereka jalani terlihat begitu bahagia. Empat tahun kemudian, lahirlah seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Namun, sayangnya anak tersebut mengalami cacat, kedua kakinya lumpuh. Walaupun sudah mengupayakan dengan semaksimal mungkin, namun Panji, putera semata wayang mereka tidak dapat berjalan normal.

Mira memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia ingin berkonsentrasi mengurus Panji. Tidak ingin menyia-nyiakan anugerah Tuhan, walaupun terlahir dalam kondisi tidak sempurna,

Karena hanya dia sendiri yang menjadi tulang punggung keluarga, Tobalik berusaha bekerja dengan tekun dan bersemangat. Dia berharap semoga karirnya dapat meningkat dan mendapat penghasilan yang lumayan.

Lima tahun kemudian, Tobalik berhasil menduduki posisi sebagai kepala bagian. Loyalitas dan kecerdasannya dalam mengambil keputusan, beberapa kali telah menyelamatkan perusahaan dari kerugian. Hanya dalam waktu tiga tahun, Tobalik sudah mencapai level direktur, dengan gaji hingga puluhan juta perbulan. Belum lagi bonus tahunan yang mencapai angka ratusan juta. 

Kehidupan Tobalik mulai membaik. Sebuah rumah mewah telah dimilikinya. Mobil sedan berkelas juga menjadi kendaraannya sehari-harinya. Banyak wanita muda berusaha mendekati dan mencuri hatinya. Tobalik tidak menampik, namun tidak berani bermain api terlalu jauh. Sekadar have fun belaka. 

Sementara itu, Mira semakin hari terlihat semakin menua. Kegiatannya mengurus Panji, membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya yang sekarang. Kulitnya menjadi kasar dan tidak cerah. Tidak lagi halus. Energi Mira banyak terkuras untuk melayani Panji. Urusan penampilan menjadi nomor dua.

Dibandingkan dengan para wanita cantik di luar sana, yang berada di sekeliling Tobalik, Mira tampak terlalu sederhana. Sekilas orang yang belum mengenalnya akan mengira dirinya adalah seorang pembantu atau baby sitter. Perangainya yang kalem dan pendiam menambah kebenaran akan penampilannya yang begitu bersahaja. Beda jauh saat dirinya masih bekerja, Mira adalah gadis muda yang senantiasa memakai make up dan mengenakan busana yang up to date. 

Suatu hari, Tobalik mendengar rekan bisnisnya membicarakan penampilan isterinya. Mereka membandingkan Mira dengan isteri-isteri mereka. Bagaikan langit dan bumi. Bahkan ada yang menyelutuk : “Kalau Pak Tobalik berkenan, tuh si Murni, si Angel atau si Susi yang aduhai akan bersedia menjadi isteri simpanannya. Mereka lebih pantas daripada si Mira yang kolot dan kampungan…”

Kalimat demi kalimat di atas amat mengganggu batinnya. Dia merasa apa yang digosipkan teman-temannya tidak ada salahnya. Isterinya yang dahulu sempat menjadi bunga di kantornya sekarang berubah menjadi layu, tidak menarik dan layak untuk digantikan dengan yang baru, yang lebih segar dan menarik dipandang mata.

Setelah dua tahun bergelut dengan pertempuran di batinnya, ditambah dengan semakin masifnya godaan wanita di lingkaran kehidupannya, akhirnya Tobalik merasa inilah saat terbaik baginya untuk mengakhiri pernikahannya yang sudah berjalan empat belas tahun. 

Tobalik menyiapkan tabungan sebesar 500 juta dan membelikan sebuah rumah di pinggiran kota untuk isteri dan putera tunggalnya yang saat ini sudah berusia delapan tahun. Tobalik merasa dirinya adalah suami yang bertanggung jawab karena telah menyediakan tempat tinggal dan uang tabungan dalam jumlah besar untuk kelanjutan kehidupan Mira bersama Panji. Hatinya merasa tenang dan plong karena sudah menunaikan kewajibannya.

Akhirnya Tobalik mengajukan gugatan cerai kepada isterinya. Mira mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Tobalik. Seperti biasanya, Mira tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Dia lebih sering mengangguk dan menunduk. Tidak terlihat amarah di matanya, pandangannya tenang dan teduh. Sepertinya Mira menerima semua ulasan Tobalik dengan hati tegar. Tidak tampak air mata menetes dari pelupuk matanya.

Hingga hari yang dimaksud telah tiba. Hari ini Mira akan meninggalkan rumah yang telah dihuninya selama belasan tahun, meninggalkan pria yang telah menjadi belahan hidupnya selama ini. Yang memulai kehidupan suka duka bersama dari tidak punya apa-apa hingga menjadi orang sukses. Tobalik membantu Mira mengemas barang-barangnya. Sedikit rasa kasihan terbersit di hatinya tatkala dia melihat sang isteri menggendong Panji dan menenteng kopernya yang besar.

Tobalik : “Sini saya bantu…”

Mira : ” Tidak apa-apa… Saya masih sanggup kok. Mulai sekarang kamu sudah tidak memiliki tanggungjawab kepada kami. Semoga kamu baik-baik saja… Jangan terlalu larut tidur. Jaga kesehatan…”

Hanya dengan anggukan lemah, Tobalik melepas kepergian kedua orang yang pernah mengisi warna kehidupannya. Pernikahan yang telah dijalani selama empat belas tahun pun berakhir dengan begitu saja.

Sepanjang hari, hati Tobalik merasa tidak tenang, uring-uringan dan senewen. Sepiring nasi goreng yang disiapkan sang isteri tidak sanggup ditelannya dengan sempurna. Pikirannya mengawang-awang. Ada rasa sepi sepeninggal isterinya. Sebuah panggilan telepon dari Susi, teman dekatnya, tidak mampu mengusir gundah gulana hatinya. Dia mencoba menelepon Angel untuk mengusir rasa suntuknya. Sejenak sirna, namun hatinya kembali merasa melompong. 

Walaupun hari ini adalah hari libur, namun keinginannya untuk clubbing atau dating tidak muncul, beda sekali seperti hari-hari sebelumnya. Tiada hari libur tanpa clubbing. Saat ini pikirannya hanya tertuju ke rumah baru yang dibelikan untuk Mira dan anaknya Panji. 

Tobalik berusaha menahan laju keinginannya. Semakin ditahan, dadanya terasa semakin sesak. Rasanya seperti air bah yang akan meluber keluar. Sepanjang malam tidurnya tidak nyenyak.

Keesokan harinya, Tobalik membulatkan tekad untuk menuju ke rumah yang dihuni Mira. Dia berusaha menekan egonya sedalam mungkin, karena niatnya untuk bertemu dengan Mira sudah tidak dapat terbendung. 

Sesampainya di rumah tersebut, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan. Buru-buru Tobalik mengambil kunci serap yang tersimpan di dashboard mobilnya, membuka pintu dengan perlahan, melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Dengan suara perlahan memanggil nama Mira dan Panji. Tidak ada sahutan.

Mata Tobalik tertuju ke deretan mie instan yang tersusun rapi di atas lemari gantung. Ingatannya kembali ke masa awal-awal pernikahan, saat masih miskin. Sang isteri dengan setia memasakkan mie instan sebagai lauk pengganti ayam dan ikan, menemani sepiring nasi. Mereka berdua makan dengan lahapnya, tanpa mengeluh sedikitpun. 

Tidak terasa air mata Tobalik mulai mengalir. Dia merasa bersalah dengan niat buruknya menceraikan isterinya. 

Sebuah buku tabungan terletak rapi dan sepucuk surat terletak rapi di atas meja. Tobalik mengambil buku tabungan tersebut, membuka isinya dan angka yang di dalamnya masih utuh, lima ratus juta.

Dengan nada tergetar, Tobalik meraih surat beramplop dan bergambar dora emon, salah satu animasi karton kegemaran Mira. Tulisannya rapi seperti tulisan hasil print out.

“Tobalik, suamiku yang paling aku sayangi seumur hidupku… Aku tahu kamu pasti akan mencari diriku. Selama ini kita memulai kehidupan dari titik nol dan akhirnya sukses seperti sekarang ini. Aku amat menikmati kebersamaan bersamamu, di saat suka maupun duka. Namun, sayangnya, kamu terlalu cepat mencapai puncak kesuksesan, sehingga kamu mudah goyah oleh omongan dan godaan. Saya tahu apa yang terjadi di luar sana. Aku biarkan dan bahkan aku relakan untuk kamu ceraikan. Tidak ada gunanya menahan keinginanmu karena hanya akan menyakiti hati kita berdua dengan pertengkaran dan dendam. Aku rela diusir dari kehidupanmu. Aku ikhlas kok. Yang penting kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan. Teriring salam rindu untukmu…. (Mira)”

Setelah membaca surat ini, air mata Tobalik tidak dapat terbendung lagi. Dia menyadari telah melakukan kekhilafan fatal, kesalahan terbesar dalam hidupnya. 

Tobalik menggumam : “Belum terlambat… Saya harus mencari, menemukan dan mengembalikan Mira ke dalam kehidupanku. Aku tidak dapat hidup tanpanya….”

Tobalik bergegas meninggalkan rumah tersebut, pikirannya mengarahkan mobilnya menuju rumah ibunda Mira di kampung. Setelah menempuh perjalanan seratusan kilometer, akhirnya Tobalik sampai juga ke kampung halaman Mira. Tobalik menerobos pintu depan dan menjumpai Mira sedang bersama ibundanya.

Dengan nada marah, Tobalik berkata : “Kamu kemana saja? Setengah mati saya mencari dirimu, rupanya kamu bersembunyi di rumah ibumu. Kamu tidak tahu kalau saya kelaparan setengah mati karena kamu tidak menyiapkan makanan di rumah. Kamu sungguh kelewatan. Cepat kemas bajumu, segera ikut saya pulang sekarang juga…”

Ibunda Mira terkejut mendengar suara Tobalik : “Iya… iya… Mira, cepat kamu bereskan barang-barang kamu. Kan sudah ibu bilang, kalau bertengkar, jangan sampai meninggalkan rumah. Itu pamali loh… Tuh lihat… suamimu begitu sayang kepadamu hingga mencarimu sampai ke sini… Cepat minta maaf kepada suami dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu ini…”

Mata Mira terlihat berkaca-kaca. Walaupun sedikit mewek, namun batinnya merasa lega. Untunglah dia tidak membocorkan masalah perceraiannya. Dia tidak ingin ibunya bersedih. Terlebih lagi, Mira yakin, suatu saat Tobalik pasti akan mencari dirinya.

Saat membereskan bajunya, beberapa kali Mira tersenyum kegirangan : “Memang kamu seperti anak remaja yang sedang bandel-bandelnya. Mulai sekarang kamu sudah insaf dan saatnya bagiku untuk beraksi menjadi wanita idamanmu, wanita kebanggaanmu. Kamu pasti akan semakin jatuh cinta lagi kepadaku…”

Sobatku yang budiman…

Kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah dilihat dari banyaknya angka di dalam buku tabungan, bukan karena kilauan emas permata yang melekat di badan dan bukan pula karena balutan make up super mentereng, melainkan dipandang dari banyaknya senyuman bahagia yang terpancar dari wajah kita. 

Terkadang seseorang membuang sesuatu yang telah bersamanya karena menganggap ada sesuatu yang lebih bernilai sebagai penggantinya.

Padahal, sesuatu yang dibuangnya adalah bagian terpenting dari hidupnya dan jauh lebih berharga dari yang akan digantikannya.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #isteriyangdizolimi Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KELUARGA DAN PASANGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s