“DI PENGADILAN”

<Jumat, 16 Juni 2017 OOR 13:50>

Abece pernah mengalami kejadian yang tidak akan terlupakan, saat menjadi kenek bus antar kota antar provinsi. Dia dilaporkan oleh seorang nenek ke polisi karena melakukan kekerasan fisik kepada sang nenek saat berada di dalam bus. Alhasil, Abece dihadapkan ke sidang pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Hakim : “Apakah benar saudara telah melakukan kekerasan fisik kepada nenek yang sudah renta itu? Dari laporan yang saya terima, nenek ini adalah penumpang legal dan sudah membeli tiket di loket resmi, tidak melalui calo. Tiketnya asli dan belum kadaluarsa…”

Abece : “Benar Yang Mulia, tiketnya memang asli. Bukan tiketnya yang saya persoalkan. Problemnya karena kelambanan nenek ini dalam menunjukkan tiket yang dimilikinya…”

Hakim : “Lamban? Maksudnya…?”

Abece : “Begini ceritanya… Sudah menjadi aturan dalam perusahaan, bahwa di setiap terminal, seorang kenek harus memeriksa tiket penumpang. Tujuannya untuk mencegah penumpang ilegal. Dari Medan sampai Jakarta ada belasan terminal yang harus kami singgahi…”

Hakim : “Jadi apa masalahnya dengan nenek ini?”

Abece : “Saat memeriksa tiket penumpang lain, saya tidak ada masalah. Namun saat memeriksa tiket nenek ini, tensi saya langsung naik…”

Hakim : “Saya masih belum mengerti. Coba kamu ceritakan detil peristiwanya…”

Abece : “Saat tiba giliran memeriksa tiketnya, saya segera menyuruh nenek ini mengeluarkan tiket yang dimilikinya. Lalu beliau mengeluarkan plastik hitam besar. Membuka ikatan plastik dengan hati-hati. Di dalam plastik ada beberapa tas, nenek ini sepertinya lupa dimana tiketnya disimpan. Satu persatu tas besar dikeluarkan dari dalam plastik. Membuka dengan menggunakan kunci gembok. Setelah berhasil membuka gembok tas besar, ternyata di dalam tas besar, ada sebuah tas kecil. Dengan hati-hati nenek ini membuka resletingnya. Ternyata di dalam tas kecil ada sebuah dompet besar. Setelah membuka kuncinya, nenek ini mengeluarkan sebuah dompet kecil. Dan akhirnya setelah bersusah payah selama setengah jam, barulah nenek ini dapat menunjukkan tiketnya…”

Setelah mengambil nafas panjang, Abece melanjutkan : “Setelah berjalan beberapa saat, bus kembali masuk ke dalam terminal, menjemput beberapa penumpang. Sesuai dengan tugas yang diberikan perusahaan, sebelum bus berangkat, saya harus memeriksa tiket penumpang satu persatu lagi….”

Abece berusaha mengendalikan suaranya yang terengah-engah karena begitu bersemangat menceritakan kronologis kejadian. Hakim menpersilakan Abece untuk minum.

Abece melanjutkan : “Saat tiba giliran memeriksa tiket nenek ini, saya menyuruh nenek ini mengeluarkan tiket yang dimilikinya. Lalu beliau mengeluarkan plastik hitam besar. Membuka ikatan plastik dengan hati-hati. Di dalam plastik ada beberapa tas, nenek ini sepertinya lupa dimana tiketnya disimpan. Satu persatu tas besar dikeluarkan dari dalam plastik. Membuka dengan menggunakan kunci gembok. Setelah berhasil membuka gembok tas besar, ternyata di dalam tas besar, ada sebuah tas kecil. Dengan hati-hati nenek ini membuka resletingnya. Ternyata di dalam tas kecil ada sebuah dompet besar. Setelah membuka kuncinya, nenek ini mengeluarkan sebuah dompet kecil. Dan akhirnya setelah bersusah payah selama setengah jam, barulah nenek ini dapat menunjukkan tiketnya…”

Hakim mulai mendengus : “Huh…”

Abece : “Sejam kemudian bus masuk kembali ke dalam terminal. Setelah menjemput penumpang, saya kembali memeriksa tiket penumpang yang berada di dalam bus. Saat tiba giliran memeriksa tiket nenek ini, saya menyuruh nenek ini mengeluarkan tiket yang dimilikinya. Lalu beliau mengeluarkan plastik hitam besar. Membuka ikatan plastik dengan hati-hati. Di dalam plastik ada beberapa tas, nenek ini sepertinya lupa dimana tiketnya disimpan. Satu persatu tas besar dikeluarkan dari dalam plastik. Membuka dengan menggunakan kunci gembok. Setelah berhasil membuka gembok tas besar, ternyata di dalam tas besar, ada sebuah tas kec….il….”

Belum sempat Abece menceritakan, tiba-tiba hakim menggebrak meja dengan sangat kuat, mengejutkan Abece dan seluruh pengunjung, lalu berkata dengan suara kuat : “Saudara jangan main-main…!!! Di sini bukan taman bermain..!!! Pengadilan ini adalah tempat terhormat…!! Mengapa saudara mengulang-ngulang cerita yang sama? Sampai lebaran kuda juga gak akan selesai ceritamu…”

Abece menyengir sambil berkata : “Tuh kan, Bapak Hakim Yang Mulia…. Baru sampai terminal ketiga saja Bapak Hakim sudah sewot dan naik emosinya. Bayangkan Pak… Saya ini harus mengulang hal yang sama sampai Jakarta…. Jakartaaa…!!!”

Gubrakkk…

#firmanbossini #joke #gokil #ceritalucu #abece #pengadilan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Joke. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s