“BUAH KEJUJURAN”

<Rabu, 14 Juni 2017 OOR 07:23>

Seorang kenalanku bernama Siska, bekerja sebagai kasir di sebuah pusat perbelanjaan. Tidak sengaja kami bertemu di kafe sebuah mall setelah beberapa tahun tidak berjumpa. Saat itu saya sedang menunggu isteri yang sedang berbelanja busana kerjanya. 

Sebuah kisah menarik diceritakan Siska. Seperti biasa, saya senang menjadi seorang pendengar setia. Menyimak dan merekam setiap detil cerita untuk ditransformasikan dalam tulisan. Setidaknya kisah ini dapat menjadi inspirasiku untuk berbagi kepada orang lain.

Siska : “Saat itu swalayan sedang ramai dikunjungi pembeli. Saya senang sekali dengan membludaknya pembeli. Berarti bonus bulan ini pasti gede. Di tempat kerjaku, sang pemilik menerapkan bonus bulanan yang dibagikan rata kepada seluruh karyawan, jika penjualan bulanan mencapai target yang ditentukan olehnya…”

Saya : “Wah, saya baru dengar ada boss yang demikian. Baik benar boss kamu, Sis…”

Siska : “Iya benar bang… Semalam ada peristiwa menarik yang pasti akan kuingat selamanya. Saat sedang ramai-ramainya orang yang mengantri membayar barang belanjaannya, seorang ibu paruh baya menyerahkan uang lebih, tepatnya kelebihan dua lembar uang seratus ribu. Ibu itu tidak menyadarinya. Para pengantri di belakangnya juga tidak melihatnya. Sejenak saya terpaku melihat tumpukan uang yang berada di genggamanku…”

Siska menghela nafas sejenak, mengulurkan tangan kanannya meraih gelas minuman yang terletak di atas meja. Setelah meneguk jus jeruk, Siska meletakkan kembali gelas ke atas meja.

Siska melanjutkan ceritanya : “Jujur saja, imanku sedikit goyah. Bagiku, uang dua ratus ribu itu amat berarti. Menjelang lebaran, kebutuhan pasti meningkat. Baju baru, sepatu baru, kue hari raya serta amplop lebaran untuk kedua orang tua dan keponakan-keponakanku. Uang ini, sedikit banyak akan dapat meringankan bebanku. Toh tidak ada yang tahu…”

Dahi saya sedikit berkernyit : “Jadi kamu ambil uang lebih itu…?”

Siska : “Saat hendak meneruskan aksi negatif ini dan menyimpan kelebihan uang tersebut, tiba-tiba saya seperti dikejutkan oleh suara halus di telinga kiriku…”

Suara bisikan itu mengiang di telingaku : “Jangan kau ambil uang itu. Itu bukan hakmu. Setiap manusia memiliki berkahnya sendiri….”

Siska : “Seketika tanganku mengelu. Hatiku berdegub kencang. Setelah menarik nafas panjang, saya segera mengambil keputusan untuk memberitahu ibu pembeli, bahwa uang yang dibayarkan lebih dua ratus ribu. Ibu itu tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih atas kejujuranku…”

Saya menghela nafas lega : “Syukurlah kamu masih memiliki hati nurani, seputih kapas….”

Siska : “Saya merasa lega bang… Plong… Tidak ada lagi yang mengganjal di hatiku…”

Saya : “Untunglah kamu mengambil keputusan yang tepat… Semoga kamu mendapat balasan atas kejujuranmu…”

Siska tersenyum manis : “Benar bang… Sepulangnya dari tempat kerja, saya segera pulang ke rumah untuk mengabarkan kejadian ini kepada ibuku. Sungguh di luar dugaan, ibuku memberitahukan sebuah kabar sukacita…”

Saya merasa penasaran dan bertanya dengan tergesa-gesa : “Kabar apa itu…?”

Siska : “Waktu sore, kerabat dekatku yang baru pulang mudik dari luar negeri, menyamparin rumah kami. Dia membelikan enam toples kue lebaran. Bukan itu saja, dia juga menyelipkan amplop yang berisi uang satu juta untuk ibuku. Tentu saja ibuku merasa sangat gembira. Ketakutan akan kebutuhan dana yang banyak saat menjelang lebaran, terhapus sudah… Sungguh luar biasa anugerah Tuhan kepada keluarga kami…”

Saya menimpali : “Bukan main… Hadiah imbalan kejujuranmu langsung diberikan oleh Tuhan dalam selang waktu beberapa jam saja…”

Siska menggumam : “Saya tidak tahu, apakah itu adalah hadiah dari Tuhan atau memang kebetulan mendapat rezeki nomplok….”

Saya menegaskan : “Pastinya itu adalah imbalan atas kejujuranmu…”

Tidak berapa lama isteri dan anakku datang menghampiri meja kami. Matanya sedikit heran dengan kehadiran gadis lain yang tidak dikenalnya. Melihat gerak gerik isteriku yang tidak lazim, saya segera mengenalkan Siska sebagai kenalan yang sudah beberapa tahun tidak bertemu. Untunglah isteri mau mengerti dan menerima penjelasanku dengan senyuman manisnya.

Sobatku yang budiman…

Kita dilarang untuk mengambil apapun yang bukan menjadi hak kita. Saat kita mengambil hak orang lain, maka sesungguhya kita telah mengurangi berkah kita sendiri. Kita telah menolak imbalan hadiah yang akan diberikan oleh Tuhan kelak.

Walaupun tidak ada orang yang mengetahui perbuatan buruk yang kita lakukan, namun seringkali hati kecil berteriak dan memberontak melawan ketidakjujuran kita. Mula-mula berbisik lembut di telinga, namun jika kita tidak menghiraukannya, maka hati kecil kita akan mengetuk-ngetuk dada untuk mengingatkan kesalahan kita. Dada berdebar itulah tanda-tandanya.

Hidup ini memiliki hukum alam yang adil yaitu hukum karma. Perbuatan jahat akan berbuah penderitaan. Perbuatan baik akan berbuah kebahagiaan.

Untuk itu, selagi masih memiliki kesempatan, alangkah baiknya kita selalu menebar benih-benih kebaikan kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kejujuran Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Pengalaman Pribadi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s