“TIDAK ADA YANG ABADI”

<Selasa,  13 Juni 2017 OOR 07:20>

Hidup ini terasa begitu singkat, karena kita sering tidak menyadari umur kita terus bertambah, setahun demi setahun. Tubuh menua dan mulai digerogoti banyak penyakit. Pantangan demi pantangan semakin banyak yang membatasi kita dalam mengkonsumsi makanan dan aktivitas berat lainnya.

Hari tua begitu cepat menghampiri kita. Segala kejayaan, kesuksesan dan kekuatan di masa muda dulu, hanya akan menjadi kenangan. Tidak pernah kembali ke hadapan kita lagi. Semua pesta sudah berakhir, tinggal menunggu detik-detik waktu kembali ke tempat asal kita berada.

Hidup ini bagaikan panggung sandiwara. Kita hanyalah pelakon yang berperan sesuai dengan apa yang diarahkan sang sutradara. Yang menjadi raja, bukanlah benar-benar seorang raja, yang menjadi budak, bukanlah budak sesungguhnya. Semua itu hanyalah peran di atas panggung. Saat drama sudah berakhir, maka berakhir jugalah semua peran yang ada. 

Hidup ini bagaikan mimpi. Seindah apapun mimpi kita, menjadi artis terkenal, menjadi orang berharta banyak atau menjadi apapun yang disukai, namun saat bangun dari tidur, maka semuanya akan hilang tidak berbekas. Seburuk apapun mimpi kita, dikejar setan, dilukai perampok, menjadi budak pengemis, hidup melarat dan penuh penderitaan, namun jangan khawatir. Saat terjaga dari peraduan, maka semuanya akan lenyap tidak berbekas. Semuanya hanyalah ilusi dari mimpi yang kita alami.

Demikian juga dengan apa yang kita jalani saat ini. Rumah mewah berkolam renang dengan desain bagaikan istana, harta benda melimpah hingga tujuh turunan, kedudukan dan jabatan tinggi yang mentereng, semuanya tidaklah kekal adanya. Saat kontrak kita berakhir di dunia, ketika nafas terakhir tiba, maka semua yang diraih tidak dapat dibawa pergi. Sebatang jarumpun tidak mungkin menyertai kita. Bahkan sehelai benangpun tidak dapat kita bawa pergi.

Lantas apa lagi yang mau dibanggakan? Apa lagi yang mau dipamerkan? Apa lagi yang mau diperebutkan? Toh semuanya tidak mungkin kita bawa pergi.

Bahkan saat menghadapi pengadilan akhirat, Sang Hakim tidak akan menanyakan berapa harta yang telah dikumpulkan, setinggi apa jabatan yang diraih atau seluas apa tanah yang kamu miliki? Bukan itu pertanyaannya…

Sebuah pertanyaan sederhana pasti akan ditanyakan kepada siapapun yang telah berada di pengadilan akhirat, sudah seberapa banyakkah amal ibadah yang telah kamu lakukan selama hidup di dunia? 

Amal berarti berbuat kebajikan kepada sesama umat manusia. Ibadah berarti mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, bersyukur dengan apa yang yang telah diperoleh dan menjaga apa yang tersedia dengan sebaik-baiknya.

Sobatku yang budiman…

Untuk itu, marilah kita menjalani hidup ini dengan penuh keikhlasan, mengembangkan rasa syukur dan selalu mengedepankan kebijaksanaan dalam setiap langkah kehidupan.

Jangan menjadi sosok yang dibenci karena merasa sok hebat, pamer kesombongan, hanya mau menang sendiri, terlalu perhitungan, suka menghujat dan merendahkan mereka yang berkekurangan. Buanglah semua sifat picik, iri dan dengki yang membuat kita menjadi pribadi yang selalu diliputi oleh kekotoran batin.

Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Alangkah indahnya jika kelak anak cucu kita merasa bangga dengan apa yang telah kita torehkan dalam hidup ini. Nama kita dikenang sebagai manusia baik dan berbudi luhur, bukan manusia jahat dan selalu menyusahkan orang lain.

Hidup ini adalah ladang pembelajaran. Maka dari itu, kita harus senantiasa belajar untuk berlapang dada dan mau mengalah. Hiduplah dengan penuh keceriaan dan selalu menebar senyum persahabatan kepada siapapun juga, bahkan terhadap orang yang belum dikenal. 

Tidak ada kehilangan yang tidak dapat diikhlaskan. Tidak sakit hati yang tidak dapat dimaafkan. Tidak ada dendam yang tidak dapat dilupakan. Tidak ada kepunyaan yang tidak dapat ditinggalkan. 

Semua bergantung kepada diri kita sendiri. Apakah yang kita masih tetap ngotot untuk menggenggam erat apa yang menjadi milik kita saat ini? Enggan untuk berbagi. Apakah kita masih bangga dengan apa yang kita raih saat ini? Enggan merendahkan hati. Apakah kita masih gemar menghina dan merendahkan orang lain? Enggan menahan diri dan berpikir bijaksana.

Semuanya tidaklah kekal dan tidak akan kita bawa mati. Apa yang kita tanam, pasti itu yang akan kita petik, di waktu dan kesempatan yang tidak terduga. Hiduplah dengan melakukan kebaikan dan menebar cinta kasih sebanyak dan selama mungkin.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #tidakadayangabadi #kebaikan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Renungan Harian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s