“MELEPAS BELENGGU”

<Sabtu, 10 Juni 2017 OOR 09:30>

Seorang pemuda bernama Zuki datang berkunjung ke kediaman Opung Toba untuk meminta saran mengatasi kegundahan hatinya. Selama ini Zuki merasa hidupnya begitu monoton, kesehariannya hanya diisi dengan bekerja dan mengurus keluarga. Begitu membosankan, hidupnya laksana sedang terbelenggu oleh rantai pengikat yang kuat.

Zuki ingin mengakhiri semua keterikatan ini. Pemuda lajang yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang sudah sepuh, ingin sekali merasakan kebebasan, bebas berbuat apa saja tanpa diikat oleh belenggu. Namun hati kecilnya selalu mengingatkan dirinya bahwa dia masih memiliki tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. 

Sebuah peristiwa getir yang menghantui dirinya dan membuat hatinya selalu sedih adalah saat calon tunangannya tega meninggalkan dirinya demi pria lain yang lebih mapan, beberapa waktu lalu. Dan Zuki masih belum dapat menerima kenyataan pahit itu. Kenangan masa-masa indah pacaran selalu mengganggu pikiran dan menambah luka hatinya.

Hingga akhirnya, timbul perasan benci dan dendam kepada sang mantan pujaan hati. Zuki menganggap wanita yang telah dipacari selama empat tahun, melakukan pengkhianatan cinta suci mereka. Pernah suatu ketika, Zuki ingin melakukan perbuatan balas dendam, membocorkan keburukan pasangannya di muka umum, agar sang wanita merasa malu dan terhina. Namun untunglah hal tersebut urung dilakukannya.

Sesampainya di kediaman sederhana pria tua yang berjanggut putih memanjang, Zuki bertanya kepada Opung Toba : “Guru, bagaimana cara terbaik untuk membebaskan hati dari ikatan belenggu…?”

Opung Toba : “Memangnya siapa yang membelenggu hatimu…?”

Zuki : “Tidak tahu… Namun peristiwa pahit yang pernah terjadi dalam hidupku membuatku merasa terbelenggu. Ditambah lagi keseharianku yang monoton dan bagaikan robot hidup…”

Opung Toba : “Anakku, janganlah kamu menyalahkan orang lain atas kesedihanmu. Ssmua kepedihan ini bukan disebabkan karena ulah mereka, namun bersumber dalam hatimu sendiri…”

Zuki : “Berarti maksud Guru yang membelenggu hatiku itu adalah aku sendiri…?”

Opung Toba : “Benar sekali…”

Zuki : “Jika demikian, mengapa aku tidak mampu melepaskan belenggu hatiku…?”

Opung Toba tersenyum, lalu berkata : “Itu jelas salah kamu, anakku… Tidak ada seorangpun yang mampu membuatmu bersedih atau menderita, kecuali dirimu sendiri…”

Zuki tertunduk dan diam seribu bahasa. Selama ini dia telah salah menyangka bahwa penyebab kesedihannya karena diputus oleh sang pacar. Hidupnya begitu datar dan monoton karena urusan pekerjaan dan mengurus keluarganya.

Opung Toba melanjutkan : “Manusia sungguh aneh. Tanpa disadari, mereka sering membelenggu dirinya sendiri. Merasa terkekang dan tidak lepas. Lalu menumpahkan segala tudingan kesalahan kepada situasi atau kepada orang lain. Mereka ingin bahagia, namun tidak mau berhenti bersedih. Mereka ingin menghilangkan kepahitan, namun tidak mau melupakan. Mereka ingin memaafkan namun terus mengobarkan kebencian. Mereka ingin melepaskan beban kepenatan, namun tangannya terus menggenggam. Mereka ingin kebebasan, namun tidak mau melepaskan belenggu ikatan…”

Zuki : “Benar sekali apa yang dikatakan Guru. Sekarang saya sudah mengerti…”

Opung Toba : “Coba kamu jawab pertanyaan saya, siapakah yang mampu melepaskan lonceng yang tergantung di leher seekor macan?”

Zuki : “Tentunya orang yang telah mengikatkan lonceng tersebut. Jika dia mampu mengalungkan lonceng tersebut ke binatang buas ini, maka tentunya dia juga yang mampu melepaskannya. Kalau sembarang orang mencoba melepaskan kalung tersebut, bisa-bisa orang tersebut hanya akan tinggal nama belaka…”

Opung Toba : “Tepat sekali… Sekarang kamu pulanglah…”

Sobatku yang budiman…

Segala penderitaan dan kesedihan yang membelenggu hati dan pikiran kita, hanya kita yang sanggup melepaskan belenggu tersebut. Sebab kitalah yang telah membelenggu diri sendiri.

Namun banyak orang merasa tidak sanggup melepaskan belenggu tersebut. Merasa ikatannya terlalu kuat dan membelit tidak beraturan. Tidak tahu lagi mana pangkal dan mana ujungnya.

Sesungguhnya bukan tidak sanggup, melainkan tidak mau. Bukannya tidak bisa, namun masih enggan melakukannya. Bukannya tidak mampu, namun masih melakukannya dengan setengah hati.

Kita pasti sanggup melakukannya jika kita mau dan bersedia. Kita pasti dapat tersenyum, jika kita mau mengubur amarah. Kita pasti dapat melupakan kepedihan, jika kita bertekad untuk melupakannya. Kita pasti dapat berubah, jika berkomitmen untuk mengubahnya. Kita pasti dapat merasakan kebahagiaan, jika kita bersungguh-sungguh ingin bahagia. 

Tidak seorangpun yang mampu melepaskan belenggu hati, hingga kita mau dan berniat membukanya sendiri.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #melepasbelenggu Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in NASEHAT OPUNG TOBA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s