“RASA PANIK”

<Selasa, 06 Juni 2017 OOR 16:56>

Semua orang pasti pernah mengalami kepanikan. Ada yang menyikapinya dengan santai, berusaha untuk tetap tenang dan berupaya tetap tersenyum walaupun hati sedang dirundung gelisah. 

Namun ada yang berperilaku sebaliknya, menampilkan ekspresi berlebihan, wajah tegang dan gestur tubuh yang tidak bisa diam, mulut bergumam tidak jelas saat mengucapkan kata-kata. Bahkan ada yang sampai berulang kali menyebut-nyebut nama Tuhan untuk menenangkan batinnya.

Kepanikan dapat disebabkan oleh banyak faktor, misalnya saat kehilangan uang dan benda berharga lainnya, tidak menemukan anak di tempat keramaian atau saat menerima tanggung jawab yang menurut kita terlalu berat untuk dijalankan. 

Nah, berkaitan dengan pekerjaan, kita sering mengalami kepanikan saat berada dalam suasana lingkungan yang baru dan parahnya kita juga diberi tanggung jawab yang belum pernah kita kerjakan sebelumnya. Apalagi jika atasan memberikan tenggat waktu dan target yang cukup tinggi, menurut ukuran kita. Mau menolak karena merasa belum sanggup, kita tidak memiliki keberanian. Khawatir dapat mengurangi penilaian kinerja yang mungkin berujung pada mentoknya karir di perusahaan.

Kita hanya pasrah dan berusaha ingin menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya, namun tidak mengerti apa yang harus dilakukan, tidak tahu harus memulai dari mana. Di saat inilah, kepanikan mulai melanda. Kita merasa bingung, khawatir dan takut dengan apa yang bakal terjadi saat kita tidak sanggup melaksanakan apa yang dibebankan di pundak.

Sesungguhnya, kepanikan yang dialami seperti kondisi di atas adalah sebuah kewajaran. Ketika rasa panik mulai menyerang, upayakan mempertahankan pikiran tetap tenang. Ambil nafas panjang, gunakan nalar dan abaikan goncangan perasaan yang terus mengusik ketenangan pikiran. 

Kepanikan ifu adalah sesuatu yang normal. Jika kita tetap memegang kendali. maka serangannya hanya bersifat sporadis dan berlaku sebentar saja. Namun ada sebagian orang, justru membiarkan serangan itu bertubi-tubi menghujam jantungnya, sehingga kondisi menjadi semakin memburuk dan akhirnya menyerah kalah.

Padahal kepanikan itu adalah reaksi tubuh yang alami, suatu perasaan yang seharusnya mampu untuk dikuasai, sehingga tidak menjadi alasan untuk tidak tenang.

Bayangkan saja saat kita berada di dalam ruangan gelap gulita. Kita tidak sanggup melihat jalan atau pijakan kaki dan juga benda-benda di sekeliling kita. Pertama kali yang akan dikerjakan adalah mencari lilin atau senter agar pandangan mata pulih kembali. Dengan penerangan yang cukup kita akan terhindar dari benturan dengan benda lain. Yang terutama, kita dapat menemukan jalan untuk keluar dari ruangan.

Jika tidak dapat menemukan lilin atau senter, cobalah memanggil orang lain agar menyediakan penerangan yang cukup untuk membantu kita melangkah hingga ke pintu keluar. 

Jika memang tidak ada orang lain yang membantu, maka di dalam kegelapan, cobalah untuk merangkak dengan perlahan. Banyak orang merasa takut sendiri dan tidak tenang, sehingga terburu-buru untuk melangkah. Mencoba berlari sekuat tenaga. Bukannya keluar dari kegelapan, yang ada justru menabrak benda-benda sekelilingnya. Luka dan memar di sekujur tubuh. Akhirnya gagal mencapai pintu keluar. 

Sepatutnya, kita dapat memanfaatkan benda di sekeliling untuk memandu kita keluar dari ruangan. Menyentuh dan meraba dengan hati-hati, mengingat-ngingat lokasi benda-benda tersebut agar kita dapat menentukan posisi kita. Perlahan namun pasti, kita pasti akan mampu keluar dari kegelapan.

Sobatku yang budiman…

Jangan mengekspresikan rasa panik itu secara berlebihan sehingga mengaburkan kemampuan nalar berpikir. Panik itu identik dengan kegelapan atau “blank”. Saat panik, maka pikiran pasti tidak dapat bekerja dengan baik. 

Tenangkan diri dan cobalah untuk mencari “cahaya penerangan” sebagai penuntun langkah keluar dari kegelapan, bisa saja bersumber dari kemampuan sendiri untuk menemukannya maupun dengan meminta bantuan orang lain. 

Percayalah, ada pelajaran yang dapat diperoleh dari rasa panik. Kehati-hatian, percaya diri, keteguhan, keuletan dan belajar mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin sebelum tampil di hadapan orang. Dan yang terakhir, tentunya kita akan semakin bijak dan dewasa.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #panik Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s