“SUKA DAN BENCI”

<Selasa, 30 Mei 2017 OOR 10:18>

Saat kita menyukai seseorang, maka kita akan melihatnya sebagai sosok yang paling sempurna. Apapun yang dilakukannya adalah patron yang harus diikuti. Apapun yang diucapkannya adalah perintah yang wajib dilaksanakan.

Bahkan saat idola kita melakukan kesalahan, maka dengan mudahnya kita akan memakluminya sebagai sebuah kekhilafan biasa. Lebih parahnya, kita akan membela sang idola mati-matian, walaupun jelas-jelas dia telah melakukan kesalahan fatal, kesalahan yang merugikan kepentingan orang banyak, kekeliruan yang telah menyakiti hati banyak orang dan kejahatan yang telah melanggar norma hukum yang berlaku.

Namun sebaliknya, saat kita membenci seseorang, maka kita akan memandangnya sebagai sosok yang paling hina dan musuh yang harus segera dihabisi, dengan menghalalkan segala cara. Apapun yang dilakukannya adalah kesalahan yang harus ditolak. Apapun yang diucapkannya adalah kebohongan yang harus dimentahkan. 

Bahkan saat orang yang kita benci melakukan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, maka kita akan mencibirnya, berusaha mencari-cari kesalahannya, berupaya mengorek-ngorek kekeliruannya dan selalu menganggap apa yang diperbuatnya sebagai pencitraan belaka. 

Apalagi saat orang yang dibenci melakukan sedikit kesalahan, khilaf yang sangat manusiawi, maka kita langsung membesar-besarkan dan mem-blow up kekhilafan itu ke segala penjuru mata angin, dengan harapan, orang yang sepemikiran dengan kita akan ikut menyemarakkan “pesta pembullyian” ini. Lantas berusaha menghasut mereka yang memiliki nalar sehat agar ikut berada di dalam rombongan kita untuk “menghakimi” orang yang kita benci.

Apa arti dari semua ini? Sebenarnya rasa suka atau benci itu adalah jelmaan perasaan yang dapat berubah sesuai dengan mood atau kondisi hati pada saat tertentu. Keduanya hanya dibatasi oleh sehelai kain tipis, yang suatu ketika akan dengan gampangnya disibak untuk berpindah posisi, dari yang benci menjadi suka dan sebaliknya.

Lihatlah, begitu banyak orang yang dahulunya menyukai seseorang, namun pada suatu saat berbalik arah menjadi sangat membencinya. Mungkin disebabkan faktor kepentingan, ekonomi maupun hasutan atau intimidasi. 

Demikian juga, banyak orang yang sebelumnya membenci seseorang, namun suatu ketika berputar haluan, menjadi pengagum setianya, setelah sadar diri dan melihat kesungguhan sang idola dalam melakukan sesuatu, berkomitmen mewujudkan janjinya, memiliki kejujuran dan integritas serta selalu konsisten antara perbuatan dan ucapannya.

Sobatku yang budiman…

Jika dicermati sesuai dengan fenomena yang terjadi belakangan ini, maka apa yang dikatakan oleh sebagian orang : “Jika suka, janganlah terlalu menggebu-gebu. Jika benci, janganlah terlalu membabi buta” adalah sesuatu yang benar.

Kita tidak tahu, ke depannya, apakah kita masih tetap konsisten dengan pilihan kita, membenci seseorang atau berubah untuk menyukai seseorang? 

Bayangkan saja, saat ini kita begitu menggebu-gebu dan all out membela idola kita, namun ke depannya, kita justru berada di barisan paling depan untuk menghujat dan menghina idola kita sebelumnya. Bukankah hal ini, kita layaknya sedang meludah ke udara, yang akhirnya ludah tersebut akan jatuh mengenai muka sendiri? Atau barangkali kita malah bersikeras tetap bertahan membela sang idola, walaupun jelas-jelas bertentangan dengan kata hati?

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #suka #benci Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s