“KEKUATAN DIRI”

<Minggu, 28 Mei 2017 OOR 13:52>

Tobalik adalah putera dari seorang pendekar ternama di kampungnya. Saat menyebut nama Tobasan, ayahnya Tobalik, maka semua orang pasti akan mengenalnya sebagai pendekar pemberani dan tangguh. Nama besarnya menjadi jaminan keamanan di kampungnya.

Tobasan selalu memaksa Tobalik untuk belajar bela diri dengan baik. Segala upaya telah dilakukan namun ternyata Tobalik belum berhasil menguasai semua jurus yang diajarkan sang ayah. Karena dipandang tidak mampu mengembangkan potensinya dengan baik, maka Tobasan mengusir Tobalik. Membiarkan putera semata wayangnya hidup mandiri di luar rumah.

Tobalik merasa tersinggung dan marah dengan ulah sang ayah. Dia bertekad untuk menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang yang lemah dan tidak berguna. Untuk itu Tobalik pergi ke seberang pulau untuk mencari seorang pendekar sakti yang bersedia melatihnya menjadi ahli bela diri terbaik. Tobalik ingin membuktikan bahwa apa yang dilakukan sang ayah adalah sebuah kesalahan besar.

Setelah berusaha mencari beberapa waktu, akhirnya Tobalik berjumpa dengan Master Porsea. Dia menceritakan semua yang dialaminya. Ternyata Master Porsea membenarkan pendapat ayahnya.

Master Porsea : “Apakah kamu benar-benar ingin berguru kepadaku? Tapi saya kira, kamu mungkin tidak akan sanggup…”

Tobalik terkejut mendengar kata-kata menohok dari Master Porsea, lalu bertanya : “Mengapa Master mengatakan demikian? Jika saya belajar dengan keras, berapa lama saya baru dapat menjadi pendekar yang hebat?”

Master Porsea : “Mungkin seumur hidupmu…?”

Tobalik : “Seumur hidupku…?”

Master Porsea : “Benar sekali…”

Tobalik : “Lama sekali… Memangnya tidak ada cara instan yang lebih cepat? Bagaimana jika saya meningkatkan tiga kali lebih banyak waktuku untuk belajar? Apakah masih perlu waktu seumur hidupku…?”

Master Porsea : “Mungkin butuh tiga puluh tahun saja…?”

Tobalik : “Masak harus sampai segitu lama? Bagaimana jika saya lebih giat lagi?”

Master Porsea : “Menurutku paling cepat butuh dua puluh tahun…”

Tobalik : “Mengapa begitu lama, Master? Saya ini bukanlah anak yang bodoh. Pasti tidak susah bagiku untuk menguasai semua ilmu yang Master berikan…”

Master Porsea : “Begini anak muda… Jika kamu merasa keberatan, silakan saja mencari guru yang lain….”

Tobalik berpikir sejenak… Tujuan dia mencari pendekar sakti menjadi gurunya untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bukanlah anak yang bodoh dan tidak berguna.

Untuk itu, Tobalik menguatkan tekadnya untuk tetap berguru kepada Master Porsea. Dia berpikir, jika tidak sekarang, barangkali kesempatan ini tidak akan berulang kembali seumur hidupnya.

Tobalik : “Baiklah Master, saya akan mengikuti semua yang Master perintahkan. Saya berjanji untuk belajar sungguh-sungguh…”

Master Porsea tersenyum, lalu menepuk pundak Tobalik berkali-kali. Beliau melihat keseriusan anak muda yang berpostur tegap berisi.

Master Porsea : “Satu hal yang harus kamu pahami… Jangan berharap hasil yang memuaskan dengan cara singkat atau instan. Jikapun berhasil, pasti tidak akan bertahan lama. Jika kamu belajar dengan tergesa-gesa, maka kamu pasti tidak akan berhasil mencapai impianmu…”

Tobalik menyadari sedang mendapat teguran : “Maafkan atas keterburu-buruanku, Master. Saya akan mengikuti semua perintah dan aturan yang Master terapkan di sini…”

Sejak saat itu, Tobalik mulai berguru kepada Master Porsea. Namun, dua tahun keberadaannya seperti tidak sedang belajar ilmu bela diri. Master Porsea tidak pernah sekalipun mengajarinya ilmu bela diri. Sebaliknya beliau mengharuskan Tobalik untuk membaca buku tentang filsafat kehidupan dan menghafal jurus-jurus yang ada dalam buku kuning perguruan. 

Setelah dua tahun, Tobalik tidak mampu menahan rasa penasarannya, karena tidak pernah diajari ilmu bela diri. Dia merasa impiannya untuk menjadi pendekar kesohor, akan tinggal menjadi impian.

Tobalik menjumpai Master Porsea yang sedang duduk bersila di atas lantai, lalu bertanya : “Maaf, saya telah mengganggu ketenangan Master….”

Master Porsea : “Saya tahu, pasti kamu ingin menanyakan kepadaku, mengapa tidak mengajarimu ilmu bela diri…”

Tobalik merasa terperanjat mendengar penuturan Master Porsea : “Mengapa Master tahu apa yang mengganjal pikiranku selama ini?”

Master Porsea tertawa ringan, lalu berujar : “Tenang saja anak muda… Kamu sedang berproses menuju pendekar hebat… Jalani saja keseharianmu selama ini…”

Tobalik : “Menjadi pendekar hebat tanpa pernah belajar ilmu beladiri sekalipun…?”

Master Porsea : “Percayalah dengan apa yang saya katakan…”

Setelah percakapan dengan Master Porsea, Tobalik tidak pernah mengungkit masalah ini lagi. Beberapa hari kemudian seorang perampok menyatroni kediaman Master Porsea. Tobalik mendengar suara langkah ringan sang perampok, lantas keluar dari kamarnya. Walaupun belum menguasai ilmu beladiri, namun Tobalik dengan gagah berani menghadapi perampok tersebut. Tidak ada kata gentar, walaupun diintimidasi dengan kata-kata yang melecehkan. Belum sempat terjadi perkelahian, tiba-tiba sang perampok melarikan diri meninggalkan Tobalik.

Selang beberapa hari kemudian, seekor binatang berbisa mendatangi kamar Tobalik. Pemuda bertampang ganteng ini, segera mengambil obor untuk mengusir binatang tersebut. Tobalik tidak pernah berniat membunuhnya, karena merasa binatang tersebut tidak mengganggunya, mungkin kebetulan mencari tempat untuk berteduh. 

Seminggu kemudian, seorang nenek tua, muncul di halaman. Tobalik sedang membersihkan sampah dedaunan. 

Sang nenek : “Bolehkah kamu memberikan makanan untukku…?”

Tobalik : “Nek, makan siangku belum saya santap. Masih utuh. Silakan nenek memakan makananku…”

Nenek tua : “Tapi kamu belum makan dan pasti akan kelaparan…”

Tobalik menggelengkan kepalanya : “Hanya sedikit lapar masih dapat saya tahan. Namun, jika nenek kelaparan, tubuh nenek akan menjadi sangat lemah. Nenek makan aja duluan…”

Nenek tua itu mengambil bungkus makanan Tobalik. Setelah mengucapkan terima kasih, nenek itu beranjak meninggalkan Tobalik yang masih terus saja menyapu lantai yang kotor.

Dari kejauhan, Master Porsea tersenyum melihat kejadian ini. Dalam hati, beliau berkata : “Sungguh mulia hati pemuda ini. Tiga kali kejadian membuatku yakin bahwa dia akan menjadi pendekar tangguh dan berkepribadian yang baik.”

Suatu hari Master Porsea menyelinap di belakang Tobalik secara diam-diam dan memberinya pukulan keras dengan menggunakan sebilah pedang kayu. Pada hari berikutnya, ketika Tobalik sedang tertidur, sekali lagi Master Porsea menyerangnya secara tiba-tiba dan menghadiahi Tobalik pukulan keras di punggungnya. 

Tobalik merasa terkejut, namun tidak berani memprotes ulah sang Guru yang hebat itu. Dia yakin, Master Porsea sedang memberinya pelajaran. 

Sejak saat itu, siang dan malam, bahkan saat tertidur, Tobalik harus selalu waspada untuk melindungi diri dari serangan tiba-tiba sang guru. Tobalik belajar sangat cepat, sehingga Master Porsea merasa amat puas. Meskipun tidak pernah menerima pelajaran langsung atau bahkan memegang senjata, namun Tobalik berhasil mencapai tingkat tertinggi dari ilmu seni bela diri. 

Sobatku yang budiman…

Banyak orang hebat sering mengalami kegagalan karena perilaku sombong dan sifat kasarnya, tidak sabaran dan cenderung egois. Mereka merasa lebih hebat dari orang lain dan dengan mudahnya merendahkan mereka yang berkekurangan.

Kadang kala, untuk mencapai keberhasilan, banyak orang berusaha mencari jalan pintas dan memangkas waktu untuk mengasah diri dan kemampuan.

Sungguh baik jika kita berupaya sekuat tenaga untuk mencapai tujuan dengan cepat. Namun, akan lebih baik lagi, jika kita berusaha dengan cermat dan cerdas. Tidak memaksa diri untuk terburu-buru. Seringkali ketergesaan mengakibatkan timbulnya banyak kesalahan. Sedikit bersabar, tentunya jauh lebih bijaksana, agar apa yang diimpikan tidak kandas di tengah jalan.

Untuk mencapai sebuah tujuan, kita memerlukan proses yang terkadang sulit dan menyakitkan. Namun dibalik semua penderitaan itu, sebenarnya kita sedang melatih diri menjadi sosok yang tangguh, kuat dan tegar. Semua proses yang dialami pasti akan menjadikan kita menjadi seorang yang lebih hebat dari sebelumnya.

Jangan pernah gentar menghadapi tantangan, rintangan dan resiko seberat apapun. Sesungguhnya mereka adalah para sahabat yang akan selalu hadir mengiringi langkah hidup kita. 

Jika berhasil mengatasinya, maka kita pasti akan merasa amat bahagia. Namun jika gagal, maka kita pasti akan semakin bijak karena pelajaran yang didapat.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kekuatan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s