“SABAR ITU SUMBER KEKUATAN”

<Sabtu, 20 Mei 2017 OOR 09:23>

Anto, sahabatku dan teman sepermainanku sejak kecil, tiba-tiba menghilang dari kehidupanku sekitar lima tahun lalu. Saat itu, saya berusaha melacak keberadaan Anto kesana kemari, hingga akhirnya saya mengetahui bahwa Anto sudah hijrah ke negeri kanguru. 

Selama ini, saya mengetahui kehidupannya yang adem dan tidak banyak masalah. Kesehariannya diisi dengan mengurus usaha orang tuanya di bidang jasa pengangkutan. 

Namun belakangan, saya baru mengetahui bahwa usaha yang dirintis ayahnya sejak muda, harus berakhir dengan tragis. Bisnisnya bangkrut dengan meninggalkan hutang yang banyak, akibat beberapa ulah konsumen besar yang melarikan uang mereka. Bahkan rumah mewah yang mereka tempati selama ini, sudah berganti nama, bukan lagi menjadi milik ayahnya.

Anto jarang sekali mengungkapkan masalah keluarganya kepada orang lain, bahkan kepada diriku yang menjadi sahabat karibnya. Beberapa bulan sebelum kepergiannya, Anto tidak pernah lagi mengajakku ke rumahnya. Di dalam rumah mewah ini, hanya dihuni oleh ayah dan adiknya. Ibunya telah lama meninggal. Sedangkan Anto belum berkeluarga lagi setelah “kepergian” isterinya, akibat kecelakaan lalu lintas. Anak semata wayangnya ikut menjadi korban.

Beberapa kali saya mengirim email, namun tidak pernah sekalipun dibalasnya. Mungkin Anto tidak ingin diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat hatinya semakin perih. Sedih untuk kedua kali, setelah kesedihan pertama yang paling menusuk kalbunya saat anak dan isterinya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Rumah yang mereka tempati sudah dipasangi plang “DIJUAL” oleh agen properti. Dengar-dengar dari orang sekitarnya, ayah dan adik Anto pindah ke kampung halamannya. Sementara itu, Anto berangkat ke Australia sendirian. Di sana ada keluarga dari ibunya.

Tiga tahun telah berlalu, namun sosok Anto seperti hilang ditelan bumi. Seiring dengan berjalannya waktu, ingatanku kepadanya sedikit memudar, karena kesibukan yang semakin padat. Namun sesekali, bayangan Anto hadir bermain-main di benakku. Di saat itulah, saya berdoa dengan tulus, agar sahabatku yang baik ini selalu mendapat perlindungan dari Tuhan dan tetap tabah dalam menghadapi cobaan hidup.

Setengah tahun lalu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh kehadiran Anto di depan rumahku. Saat hendak membuka pintu, sosok yang kurindukan selama ini, muncul tanpa diduga. Saya segera memeluk erat tubuhnya yang sedikit kurus. 

Saya : “Apa kabar bro…? Bertahun-tahun saya mencari dirimu, namun tidak ketemu. Tetanggamu yang mengabarin bahwa kamu pergi ke Australia…”

Anto : “Benar bro… Saya terpaksa meninggalkan kota ini karena tidak ada lagi yang dapat diharapkan lagi…”

Saya : “Mengapa tidak memberitahuku…?”

Anto : “Saya sedang melatih kesabaranku dan juga ketangguhanku… Jika saya memberitahukan kondisiku kepada orang lain, maka saya tidak akan mandiri karena kamu adalah sahabatku yang tidak akan membiarkan diriku hidup kesusahan…”

Saya : “Seharusnya kamu tidak boleh berpikiran demikian… Roda itu terus berputar, ada saatnya kita memberi bantuan, namun di saat lain kita membutuhkan bantuan…”

Anto : “Ah sudahlah… Lupakan saja masa laluku… Sekarang saya sudah kembali dan berniat memulai kehidupan baru. Selama di Australia, saya bekerja keras, siang dan malam agar memperoleh penghasilan yang besar. Pagi bekerja sebagai buruh pertanian, sedangkan malam sebagai pelukis…”

Saya : “Wah… wah… saya salut dengan kehebatan dirimu… Jika saya berada di pihakmu, belum tentu saya dapat menjalani hidup seperti ini…”

Anto : “Saya pulang ke sini karena membawa misi untuk para anak yatim piatu. Bersusah payah saya mengumpulkan uang untuk menolong kehidupan mereka. Saya berniat menyerahkan setengah penghasilanku selama di Australia untuk mereka….”

Saya : “Setengah? Bukankah itu banyak sekali? Apa tidak lebih baik kamu gunakan sebagai modal usaha, merintis bisnis baru dari nol. Barangkali kamu cukup menyerahkan sepersepuluhnya saja. Nanti setelah bisnismu maju, kamu dapat memberikan lebih banyak lagi…”

Anto menggelengkan kepalanya, lalu berkata : “Tidak bro… Niatku untuk membantu mereka telah membantuku untuk bersabar dalam mengumpulkan pundi-pundi uang sedikit demi sedikit. Walau terasa lelah, namun kesabaranku telah membentukku menjadi manusia yang ulet dan tangguh. Jika saya tidak memiliki tujuan dan misi ini, mana mungkin saya berhasil membawa uang yang banyak seperti sekarang ini?”

Saya : “Kamu sungguh luar biasa… Tidak jatuh dalam kesedihan yang berlarut-larut. Bersabar dan bangkit untuk menuntaskan misi muliamu. Dan Tuhan mengabulkan apa yang kamu impikan. Bukan itu saja, kamu juga berhasil membawa segepok uang sebagai modal usaha di kota ini…”

Anto : “Setengah dari sisa uangku ini akan saya gunakan untuk membuka perusahaan jasa angkutan, mencoba untuk merintis kembali usaha ayahku yang sempat bangkrut. Semoga sebelum menutup mata selama-lamanya, beliau dapat merasakan kebangkitan usaha yang pernah dirintisnya dulu. Saya yakin sekali dapat membanggakan ayahku. Kesabaran dan keuletan adalah modal paling utama yang kumiliki saat ini selain uang yang berhasil kukumpulkan selama di Australia…”

Saya : “Ngomong-ngomong… Mengapa kamu tidak terus saja bekerja di sana. Toh, penghasilan yang kamu peroleh sangat besar…”

Anto : “Saya ini TKI illegal, bro… Lagipula saya masih cinta negeri ini. Ingin menghabiskan seluruh hidupku di negeri tempat kelahiranku. Dan, saya tidak ingin jauh-jauh dari keluargaku. Buat apa banyak uang tapi hidup terasing di negeri orang…?”

Saya tercekat mendengar penuturan Anto yang mungkin berbeda dengan pandangan orang pada umumnya. Banyak orang yang sudah bekerja dan menetap lama di luar negeri, enggan pulang ke tanah air. Mereka merasa negeri ini masih ketinggalan dan terbelakang, tidak ramah, semrawut dan tidak memiliki masa depan yang cerah. 

Setelah pertemuan ini, kami tetap berhubungan. Terakhir saya melihat bahwa usahanya mulai berjalan dengan baik. Ayahnya juga mulai ikut nimbrung bersamanya.

Sobatku yang budiman…

Jadikanlah sabar seperti sabarnya ulat yang menanti untuk bertransformasi menjadi kepompong. Dan kepompong pun harus bersabar untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah.

Jadikanlah sabar seperti sabarnya kaktus yang bertahan di padang pasir yang panas untuk menantikan mekarnya kuncup bunga.

Jadilah sabar seperti sabarnya bumi menantikan kehadiran hujan yang turun dari langit untuk membasahi tanah yang gersang dan sekaligus menghijaukan tumbuhan di atasnya.

Sabar itu tidak gampang, namun sabar itu adalah kekuatan maha dahsyat yang dimiliki setiap umat manusia agar dapat berpikiran jernih untuk menuntunnya melangkah dengan baik di jalan kebenaran.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #sabar Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in PENGALAMAN PRIBADI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s