“KESUKSESAN”

<Jumat, 12 Mei 2017 OOR 07:12>

Saat bertemu dengan Argo, sahabat lamaku di sebuah pusat perbelanjaan, saya sedikit terkejut melihat penampilannya. Raut wajahnya kelihatan lusuh dan tidak bersemangat, rambutnya memutih dan sedikit awut-awutan. Berbeda dengan saat masih kuliah, Argo ceria dan selalu ramah kepada setiap orang.

Sempat berusaha menghindariku, namun saya segera menyapanya, membuatnya harus mengeluarkan senyum terpaksa. Saya menjabat tangan Argo dan memeluk tubuhnya dengan erat, menandakan masih merindukan keakraban kami yang dulu. 

Saya : “Apa kabar bro? Lama kita tak besuo. Baik-baikkah dirimu?”

Argo menjawab perlahan : “Ya… Gitulah bro…”

Saya agak heran mendengar ucapannya, lantas mengulangi pertanyaan yang sama : “Kamu baik-baik saja bukan?”

Argo : “Badanku masih baik-baik saja. Tapi pikiranku yang sedang bermasalah, otakku mumet, kepalaku pusing dan dadaku seperti sedang ditimpa oleh batu besar. Nyesak sekali…”

Saya : “Kamu sudah makan? Ayo temani saya makan. Nanti kamu ceritakan apa yang sedang kamu alami. Mungkin ada yang bisa saya bantu…”

Argo tersenyum kecil : “Oke dech….”

Kami segera melangkah di sebuah cafe langgananku yang menyediakan makanan tradisional Indonesia. Setelah memesan makanan dan minuman, kami melanjutkan cerita yang terputus.

Argo : “Sebenarnya saya malu mengatakannya. Tapi saya bingung juga gimana caranya menyembuhkan pikiranku yang sakit…”

Saya : “Memangnya apa yang terjadi? Delapan tahun lalu, saya mendengar kamu sukses mendirikan pabrik minuman, lalu kamu juga ada join beberapa bisnis dengan orang lain…”

Argo : “Itu dulu bro… Saat ini semuanya sudah sirna…”

Saya : “Semuanya…?”

Argo : “Iya, semuanya sudah bukan lagi milikku lagi. Sebenarnya semua ini adalah kesalahanku karena terlalu percaya kepada orang lain. Juga karena teledor, kurang memperhatikan bisnis yang kutekuni. Aku terlena dengan kemewahan dan kenikmatan duniawi. Saat mulai sadar perahu bisnisku mulai bocor dan oleng, saya berusaha menambalnya. Namun semuanya sudah terlambat. Kegemaranku bermain di casino, menambah cepatnya kehancuran bisnisku…”

Saya melihat gurat penyesalan di wajah Argo. Dia yang kukenal supel, periang, cerdas dan berwibawa, saat ini larut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Dari pelupuk matanya jatuh beberapa butir air mata. Saya menggenggam erat tangannya, memberikan sehelai tissue untuk mengelap air matanya yang mulai membasahi pipinya. Untunglah saya memilih tempat duduk di pojokan, jauh dari pandangan pengunjung yang lain.

Saya : “Kamu cerdas dan cekatan. Saya yakin kamu dapat bangkit dan memulai hidup baru….”

Argo : “Tahun lalu saya mencoba bisnis kuliner. Namun gagal. Dua bulan lalu saya banting stir menggeluti bisnis jualan online, namun belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Jangankan untuk mengembalikan kejayaanku dulu, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku pun, saya merasa kesulitan. Saya merasa gagal dalam hidup ini…”

Saya : “Semudah inikah kamu menyerah? Setahuku, Argo yang kukenal bukanlah Argo yang sekarang ini. Argo itu adalah idolaku waktu kuliah dulu. Penuh semangat dan pantang menyerah dengan kesulitan…”

Argo : “Hmmm… Saya sudah berusaha beberapa kali namun masih gagal. Mungkin inilah cara Tuhan menghukum keangkuhanku dulu… Saat ini saya seperti tidak berdaya…”

Saya dapat merasakan kegetiran hidup Argo. Saat mapan dan hidup bercukupan, dia adalah sosok yang terhormat dan dikagumi banyak orang. Namun saat terpuruk, pastilah banyak orang mencibir dan menjauhinya, layaknya Argo ini adalah penyakit menular.

Saya menghela nafas sejenak, lalu berkata : “Sahabatku… kamu tidak boleh menyerah. Bisnis yang kamu jalani saat ini sangat cerah, asalkan dilakukan dengan serius dan penuh semangat. Begini saja, nanti saya kenalkan dengan seorang temanku yang memiliki jaringan bisnis online. Jika cocok, kalian dapat berpartner dengan baik. Dia itu orang yang dapat dipercaya. Yang penting kamu juga harus dapat menjaga kepercayaan. Ingat, jangan menoleh dan kembali ke masa kelammu. Itu akan menjerumuskan kamu ke jurang yang sama…”

Argo mengangguk. Sorot matanya menunjukkan sebuah harapan akan kesuksesan di masa depan.

Sobatku yang budiman…

Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk berhasil, namun Dia selalu menuntut kita untuk mencoba, berusaha dengan sekuat tenaga dan pantang menyerah. Keberhasilan manusia sepenuhnya berada di tangan-Nya. Buah kesuksesan akan diberikan sesuai dengan kerasnya upaya kita dalam menjalani semuanya.

Jika kita masih belum mendapatkan kesuksesan, itu bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada kita. Namun Tuhan mengharapkan kita untuk terus berjuang dengan sepenuh hati, tentunya tanpa mengeluh dan meratap.

Dan sebaliknya, jika kita sudah mencapai keberhasilan, jangan menjadi tinggi hati dan gemar melecehkan orang lain. Lupa berterima kasih dan tidak bersyukur. Sebab Tuhan tidak suka orang yang sombong, sewaktu-waktu akan mengambil apapun yang sudah dimiliki, dengan cara yang tidak kita ketahui.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kesuksesan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in PENGALAMAN PRIBADI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s