“MENEMUKAN KEBAHAGIAAN”

<Senin, 01 Mei 2017 OOR 08:41>

Opung Toba, seorang guru spiritual, dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan sering membantu orang yang sedang berkesusahan. Setiap hari, ada saja orang yang berkunjung ke kediamannya yang terbilang sangat sederhana. Umumnya mereka semua merasa puas dengan nasehat yang diberikan oleh Opung Toba. Tidak heran, karena kepiawaiannya memberi solusi atas berbagai masalah, membuat dirinya menjadi begitu kesohor.

Sinchan, seorang pemuda yang sedang galau dan rapuh hatinya, berniat menemui Opung Toba untuk mengatasi kegundahan hatinya. Berharap memperoleh nasehat agar hidupnya tenang dan bahagia.

Sesampainya di rumah Opung Toba, Sinchan berkeluh kesah : “Saya sudah mendengar kehebatan Guru membantu orang lain. Berhubung saya memiliki masalah yang amat mengganggu kehidupanku, bersediakah Guru membantuku…?”

Opung Toba merendah : “Kadang kala orang terlalu melebih-lebihkan diriku. Saya hanyalah manusia biasa, berusaha semaksimal mungkin untuk membantu mereka yang sedang bermasalah… Apa sebenarnya yang mengganjal pikiranmu sehingga kamu terlihat begitu galau?”

Sinchan : “Sebenarnya sederhana saja… Saya ingin sekali mengetahui, dimanakah saya dapat menemukan kebahagiaan? Apakah rahasia agar dapat hidup tenang dan bahagia…”

Opung Toba : “Pertanyaan yang menarik… Saya yakin banyak orang pasti berpikir seperti dirimu. Namun, sayangnya… saya belum bisa menjawabnya sekarang…”

Sinchan : “Wah, saya tidak menyangka jika Guru tidak sanggup memberikan solusi saat ini juga. Saya merasa menyesal menghabiskan waktu untuk datang ke sini… Tapi, apakah Guru benar-benar tidak sanggup memberikan jawaban? Atau barangkali Guru sendiri sedang tidak bahagia…”

Opung Toba tertawa mendengar perkataan Sinchan, lantas berkata : “Anak muda… Kamu terlalu mudah mengambil kesimpulan atas sesuatu yang kamu belum pahami…”

Sinchan : “Saya tidak mengerti dengan maksud Guru… Saya datang ke sini hanya untuk mencari kebahagiaan. Apakah Guru serius tidak sanggup menjawabnya?”

Opung Toba : “Karena melihat keseriusanmu ingin mencari kebahagiaan, maka saya akan memberikan jalan untukmu. Saya ingin bertanya, minuman apa yang paling tidak kamu sukai?”

Sinchan : “Saya paling tidak suka kopi. Selain rasanya pahit, warnanya hitam kelam dan aromanya yang begitu tajam, secangkir kopi juga sering membuat asam lambungku bermasalah…”

Opung Toba : “Baiklah… kamu tunggu sebentar…”

Opung Toba meninggalkan Sinchan sejenak, lalu kembali dengan segelas kopi yang penuh hingga permukaannya hampir sejajar dengan mulut gelas.

Sinchan : “Untuk apa Guru memberikan segelas kopi ini? Bukankan saya sudah mengatakan saya tidak suka dengan minuman kopi…”

Opung Toba tersenyum : “Kamu ikuti saja instruksiku. Peganglah segelas kopi ini. Saya akan memberimu waktu sepuluh menit untuk mengelilingi ruangan ini yang dipenuhi oleh lukisan indah, lalu berjalanlah ke halaman rumah yang ditumbuhi oleh aneka bunga menarik. Namun satu hal, kamu harus terus melangkah dan tidak boleh menghentikan langkahmu untuk sedetikpun…”

Sinchan merasa heran dengan apa yang diperintahkan Opung Toba. Namun keinginannya untuk menemukan kebahagiaan begitu kuat, sehingga dia merasa tidak ada salahnya mencoba mengikuti apa yang menjadi kemauan Opung Toba.

Sinchan : “Baiklah Guru…”

Sepuluh menit berlalu dan Sinchan sudah kembali ke dalam ruangan untuk menemui Opung Toba.

Opung Toba : “Apa yang telah kamu lihat?”

Sinchan : “Saya tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalam rumah dan di luar rumah karena pandangan saya hanya tertuju ke gelas yang berisi kopi. Saya tidak suka dan merasa teritimidasi oleh kehadiran kopi ini. Dan juga, saya takut sekali jika kopi ini jatuh membasahi rumah dan pekarangan Guru…”

Opung Toba : “Baiklah kalau begitu… Sekarang saya ingin bertanya kembali. Apakah kamu suka dengan es krim?”

Sinchan : “Suka… Saya suka sekali dengan es krim. Selain rasanya manis, dinginnya membuat tubuh menjadi segar…”

Opung Toba : “Cukupkah satu corong es krim untukmu?”

Sinchan : “Tidak cukup Guru…”

Opung Toba : “Segelas es krim…?”

Sinchan : “Karena es krim adalah makanan favoritku, bolehkah saya meminta lebih…?”

Opung Toba : “Begini saja, saya akan memberikan kamu semangkok besar es krim. Isinya akan saya lebihkan. Es krim itu akan saya buat menjulang tinggi melebihi permukaan mangkok. Cukupkah…?”

Sinchan : “Sebenarnya masih kurang, Guru. Tapi saya rasa tidak ada lagi tempat yang sebesar mangkok ini untuk mengisi es krim…”

Sejenak Opung Toba meninggalkan Sinchan. Tidak berapa kemudian, orang tua yang sabar dan bijaksana ini keluar dengan semangkok es krim yang menjulang tinggi.

Opung Toba : “Baiklah… Saya akan memberimu waktu sepuluh menit. Sama seperti kopi tadi, kamu harus memegang mangkok ini, terus berjalan mengelilingi ruangan dan halaman rumah ini. Cobalah untuk menikmati semua keindahan yang ada. Kamu boleh berjalan sambil menghabiskan es krim ini. Namun ingat, kamu tidak boleh berhenti selangkahpun…”

Kali ini Sinchan tidak bertanya-tanya lagi. Dia segera meraih mangkok es krim dan mulai berjalan sambil menikmati es krim kesukaannya.

Sepuluh menit berlalu dan Sinchan kembali ke dalam ruangan, dengan masih menyantap es krim tersebut.

Opung Toba : “Wah rupanya es krimnya belum habis…”

Sinchan : “Saya menikmatinya dengan perlahan, saya takut es krimnya keburu habis. Soalnya es krim ini enak sekali…”

Opung Toba : “Sekarang saya mau bertanya, apa yang telah kamu amati? Apakah kamu sudah melihat keindahan lukisan dan bunga warna-warni yang sedang bermekaran?”

Sinchan diam seribu bahasa. Tidak sanggup menjawab pertanyaan Opung Toba saat ini.

Opung Toba : “Mengapa kamu diam? Bukankah rumah dan halaman ini begitu luas, banyak sekali yang dapat kamu lihat…”

Sinchan : “Maaf Guru… Saya tidak melihat apapun. Jikapun saya melihat, itupun hanya sekilas pandang. Saya tidak dapat mengingat sepenuhnya…”

Opung Toba : “Mengapa bisa begitu…?”

Sinchan : “Saat berjalan, saya begitu menikmati kelezatan es krim ini. Saya juga takut es krin jatuh dan membasahi lantai. Selain dapat mengotori ruangan dan rumah ini, saya juga merasa sayang jika es krim ini terbuang sia-sia. Saya berpikir, ntah kapan lagi dapat menikmati es krim yang super lezat ini…”

Opung Toba menepuk pundak Sinchan sambil berkata : “Anak muda… Inilah sebenarnya jawaban yang kamu cari-cari selama ini. Bagaimana kamu dapat menikmati keindahan jika pikiranmu hanya tertuju ke gelas kopi yang tidak kamu sukai dan mangkok es krim yang sangat kamu gandrungi?”

Sinchan menundukkan kepala. Sekejap kepalanya naik ke atas lagi. Matanya melihat ke arah Opung Toba, menyiratkan bahwa dia mulai mengerti apa yang dimaksudkan oleh Opung Toba.

Opung Toba : “Kopi itu diibaratkan sebagai sesuatu kejelekan atau yang tidak kamu sukai. Jika kamu selalu melihat kejelekan dibalik deretan keindahan, maka hidupmu tidak akan pernah bahagia. Demikian juga dengan es krim yang dapat diibaratkan sebagai kesenangan. Jika kamu terlalu menikmati kesenangan duniawi dan terbelenggu olehnya, misalnya harta dan tahta, maka hidupmu akan selalu menderita dan sengsara….”

Sinchan : “Iya Guru…”

Opung Toba : “Sesungguhnya kebahagiaan itu ada di sekitar kita. Kadang kita sendiri tidak menyadarinya dan tidak mau tahu. Hanya terpaku dengan sesuatu yang tidak disukai dan terpasung oleh kesenangan yang bersifat sementara. Apakah kamu sudah mengerti sekarang arti kebahagiaan itu…?”

Sinchan mengangguk : “Saya sudah mengerti. Terima kasih Guruku…”

Sinchan benar-benar salut atas kebijaksanaan Opung Toba. Dia merasa sangat puas dengan solusi yang diberikan Opung Toba. Akhirnya ia menemukan jawaban yang selama ini dicarinya. 

Sobatku yang budiman…

Banyak orang tidak dapat menemukan kebahagiaan karena pikirannya selalu melihat sesuatu yang jelek, sesuatu yang tidak disukainya dan membiarkan dirinya terintimidasi olehnya. 

Sebagian orang membelenggu pikirannya dengan kesenangan, terpaku kepada sesuatu yang bersifat duniawi, terutama harta dan tahta, sehingga melupakan keindahan lain yang berada di sekelilingnya.

Alhasil, sepanjang hidupnya, mereka tidak akan pernah menemukan arti kebahagiaan dan tidak dapat menikmati keindahan hidup yang sesungguhnya. 

Bahagia itu bukan dengan membicarakan kejelekan orang lain.

Bahagia itu bukan dengan merendahkan orang lain.

Bahagia itu bukan dengan sirik atas kelebihan orang lain.

Bahagia itu bukan dengan menyombongkan kelebihan diri sendiri.

Sesungguhnya…

Bahagia itu ketika kita mau mengulurkan tangan membantu mereka yang sedang kesusahan dan berjalan bersama mereka menikmati keindahan hidup.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kebahagiaan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in NASEHAT OPUNG TOBA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s