“GAGAL ITU BIASA”

<Sabtu, 29 April 2017 OOR 07:46>

Bagi seorang penjahat, mencoba melakukan tindakan kriminal sebanyak 10 kali, namun hanya sekali saja berhasil menjalankan aksinya, maka itu merupakan kesuksesan.

Sebaliknya bagi aparat kepolisian, berhasil mencegah sembilan kali terjadinya aksi kriminal, namun hanya sekali saja gagal mencegahnya, maka itu dikategorikan kegagalan.

Sama seperti seorang pegawai yang selama bertahun-tahun bekerja dengan baik dan berhasil memenuhi target yang diberikan oleh perusahaan, namun suatu ketika dia gagal mencapai targetnya, maka dia akan dicap sebagai orang gagal dan layak digantikan oleh orang lain.

Dua contoh kejadian di atas menunjukkan betapa tidak adilnya perlakuan yang diterima mereka yang hanya sekali gagal menuntaskan misinya, lantas dianggap mengalami kegagalan. Mengubur semua keberhasilan yang pernah dicapai sebelumnya.

Banyak orang mengaitkan dengan pepatah : “Gara-gara nila setitik maka rusak susu sebelanga”. Dalam konteks pekerjaan dan prestasi, pepatah ini sudah seharusnya dapat dikesampingkan, sebab seseorang pasti melalui proses panjang dan berliku, setahap demi setahap, setingkat demi setingkat dan selangkah demi selangkah menuju jenjang keberhasilan. Tidak instan dan tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.

Kehati-hatian memang perlu, ketelitian memang dibutuhkan, namun tidak lantas sebuah kegagalan pantas untuk menenggelamkan berbagai keberhasilan yang telah dicapai sebelumnya. Jika kita terus mengharapkan dan mengharuskan seseorang untuk tidak boleh gagal, maka mereka pasti akan merasa terbebani, takut melakukan kesalahan dan kekeliruan. Ujung-ujungnya, muncul keengganan untuk mengambil resiko, cenderung mengambil posisi aman agar meminimalisir peluang melakukan kesalahan.

Dapatkah dibayangkan, bagaimana seandainya aparat keamanan ragu-ragu menindak, menangkap dan melumpuhkan para penjahat, hanya karena takut mengalami kegagalan? Dalam hal ini, masyarakat akan dirugikan karena merasa tidak aman.

Bagaimana jika seorang pegawai, tidak berani menerima tantangan target yang tinggi dan lebih senang mengambil posisi aman, agar catatan prestasinya selalu dianggap bagus? Dalam hal ini, tentunya perusahaan akan mengalami kerugian.

Sobatku yang budiman…

Seringkali kita tidak menilai seluruh kejadian secara utuh, enggan menyelami proses demi proses yang terjadi dan justru terpaku hanya kepada kata gagal. Sekali saja gagal, maka sudah dianggap mengalami kegagalan. Kita lebih sering menilai satu kejadian di antara beberapa kejadian. Dari satu kejadian itu lalu melompat kepada kesimpulan dan menjustifikasi seseorang mengalami kesuksesan atau kegagalan.

Apakah kesimpulan ini dapat dikatakan sudah mengandung unsur keadilan? Pantaskah sebuah kegagalan menutupi beberapa keberhasilan yang telah diraih?

Memangnya di dunia ini ada manusia sempurna yang tidak pernah sama sekali melakukan kesalahan?

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kegagalan #jangantakutgagal Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s