“KOMITMEN”

<Senin, 24 April 2017 OOR 14:37>

Seorang pemuda, sebut saja namanya Awan, saat berkumpul bersama karyawan lain, pernah berkata : “Jika saja saya terpilih menjadi pemimpin perusahaan ini, maka saya berjanji akan mensejahterahkan seluruh pegawai, memperhatikan hak-hak mereka dan mengupayakan gaji yang layak untuk mereka. Saya akan berdiri di barisan terdepan jika saja pemilik perusahaan menolak keinginan ini…”

Beberapa tahun kemudian, berkat kegigihan, keuletan, loyalitas yang tinggi dan dukungan dari para pegawai, Awan berhasil menduduki posisi puncak tertinggi di perusahaannya.

Saat ditagih janjinya oleh para pegawai, Awan berkilah : “Tenang aja, apa yang pernah saya janjikan pasti akan saya penuhi. Ini kan baru menjabat. Tunggulah setahun lagi, setelah saya benar-benar mempelajari dan mengenal seluk-beluk perusahaan ini…”

Setahun telah berlalu, seorang teman Awan bernama Hendra mencoba mengingatkannya : “Boss, jangan lupa dengan janji-janjimu setahun lalu. Para pegawai sudah tidak sabar menunggumu merealisasikan apa yang pernah kamu ucapkan dulu…”

Awan : “Sampaikan saja kepada mereka untuk bersabar. Saya sedang berusaha meningkatkan keuntungan perusahaan sebesar-besarnya, agar di akhir tahun, kita semua dapat memperoleh bonus yang besar. Tunggulah hingga akhir tahun ini…”

Hendra merasa Awan mulai mengabaikan janji-janjinya, mencari-cari alasan untuk tidak menepati janjinya terdahulu. Belakangan ini, dia melihat Awan begitu asyik dengan hobby terbarunya bermain golf dan bersenang-senang di tempat karaoke bersama klien dan pemilik perusahaan.

Suatu ketika, sebagai sahabat yang berasal dari kampung yang sama, Hendra kembali mengingatkan Awan. Namun, kali ini, Awan justru menjadi murka dan mulai berkata kasar : “Kamu ini sudah mulai mengganggu hidupku. Apa kamu tidak melihat bagaimana capeknya saya bekerja sepanjang waktu. Kalian ini cuma bisa mengeluh. Apa bedanya kalian dengan seekor keledai yang malas?”

Hendra : “Kami hanya ingin menagih janjimu sebelum kamu menjadi boss di perusahaan ini. Kamu bisa merasakan, bagaimana pemilik perusahaan tidak peduli dengan nasib pegawainya. Tahukah kamu jika rata-rata gaji kita berada jauh di bawah gaji pegawai di perusahaan lain? Sadarkah kamu jika perusahaan ini memperlakukan kami bagaikan seekor sapi perahan…”

Awan : “Kamu mulai ngeselin, sama seperti yang lain. Kerja malas tapi minta gaji tinggi. Perusahaan ini belum untung banyak…”

Hendra : “Kamu sudah berubah. Sekarang sudah menjadi boss, begitu mudah melupakan janji-janjimu. Mengingkari komitmen yang dulu. Ucapanmu tidak dapat lagi dipegang hanya karena jabatan dan kekayaan…”

Awan : “Terserah apa katamu… Sebagai bawahan, kamu harus mengikuti semua aturan di perusahaan ini. Kamu tidak boleh membantah apapun yang kuucapkan. Kamu dengar itu..!!!”

Hendra : “Baiklah… Mulai besok saya akan mengajukan surat pengunduran diri…”

Awan berkata sinis : “Silakan saja… Masih banyak orang yang mau bekerja di perusahaan ini…”

Setelah Hendra keluar dari perusahaan, satu persatu pegawai senior mulai mengikuti jejak Hendra mengundurkan diri dari perusahaan. Melihat fenomena ini, Awan tidak bergeming. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, dia dapat merekrut pegawai baru menggantikan pegawai lama yang resign. Awan tidak menyadari bahwa peranan pegawai senior amat berpengaruh kepada kinerja perusahaan.

Dalam waktu dua tahun setelah kepergian para pegawai senior, perusahaan mengalami kemunduran, kinerjanya jeblok dan keuntungan perusahaan berubah menjadi kerugian. Pemilik perusahaan melihat gejala negatif ini memanggil Awan dan meminta pertanggungjawabannya. 

Awan mulai menyadari kesalahannya dan berusaha merayu karyawan lama untuk kembali bekerja dengan iming-iming gaji tinggi. Dia menjumpai Hendra, membujuknya untuk kembali bekerja, menawarkan jabatan setingkat manajer untuknya.

Hendra menampik tawaran tersebut : “Maaf beribu maaf… Saya tidak dapat menerima penawaranmu. Saya dan rekan-rekan lain tidak mau bekerja untuk orang yang tidak dapat memegang komitmen dan gemar melalaikan janji. Hari ini ngomong begini, besoknya ngomong begitu. Saat senang, begitu mudah melupakan jasa dan peranan orang lain. Saat susah barulah mengemis meminta bantuan. Apakah kamu tidak merasakan pengorbanan kami dulu? Jadi, kami sepakat untuk bekerja di tempat kami yang sekarang, bekerja untuk boss yang memegang teguh komitmennya….”

Tidak sampai setahun, perusahaan yang dipimpin Awan terpaksa harus gulung tikar. Awan yang sebelumnya hidup bergelimpangan harta dan kehormatan, harus jatuh terpuruk dalam kesengsaraan. Tiada yang bersedia membantunya. Semua karena ulahnya yang tidak dapat memegang komitmen.

Sobatku yang budiman…

Komitmen adalah cerminan harga diri. Pelanggaran komitmen pasti akan menurunkan harga diri. Konsistensi menjaga komitmen dengan baik akan menaikkan harga diri seseorang. 

Seringkali muncul upaya dari orang dan lingkungan sekitar, berusaha memancing seseorang untuk melanggar komitmennya. Harta dan tahta adalah rayuannya.

Inilah ujian sesungguhnya yang harus dilakoni setiap orang, mempertahankan diri dari setiap bujukan unsur negatif tersebut. Tidak pernah kalah apalagi menyerah untuk mempertahankan komitmennya demi menjadi pribadi yang bermartabat dan memiliki harga diri yang tinggi.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #komitmen Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH OPEKIU DAN UVEWE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s