“SMARTPHONE”

<Selasa, 18 April 2017 OOR 07:16>

Di kediaman Opung Toba, berkumpul tiga orang anak, berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. 

Anak pertama bernama Acan, tidak memiliki ayah sejak lahir karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Anak kedua bernama Acen, tidak memiliki ibu sejak berumur lima tahun karena sakit kanker payudara. Sedangkan anak ketiga bernama Acin masih memiliki kedua orang tua.

Ketiga anak itu amat senang berada di rumah Opung Toba, menikmati penganan terbuat dari pisang dan ubi, sekaligus dapat mendengar aneka cerita menarik yang disampaikan oleh orang tua yang memiliki janggut putih memanjang tersebut.

Suatu ketika Opung Toba bercerita tentang pengabdian seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, Acan dan Acen begitu asyik mendengar cerita tersebut dengan seksama dan penuh perhatian. Namun tidak demikian dengan Acin, raut wajah terlihat sedih dan setitik air mata menetes keluar dari pelupuk mata kanannya.

Opung Toba melihat kejadian tersebut, lalu bertanya kepada Acin : “Anakku, Acin… Mengapa engkau menangis?”

Acin menyeka air matanya : “Tidak apa-apa, Guru… Saya cuma sedih saja…”

Acen menyela : “Seharusnya saya dan Acan yang harus bersedih karena kami tidak memiliki orang tua yang lengkap seperti kamu…”

Acin menggelengkan kepalanya : “Justru itulah saya bersedih. Saya memiliki ayah dan ibu, namun sejujurnya saya seperti seorang anak yatim piatu…”

Opung Toba : “Mengapa kamu berkata demikian?”

Acin : “Saya iri dengan Acan dan Acen. Ibunda Acan begitu perhatian dan sayang kepada Acan, walaupun hanya membesarkan Acan seorang diri. Demikian juga dengan ayah Acen yang amat memperhatikan segala kebutuhan Acen. Setiap hari libur, ayah Acen mengajak Acen pergi bertamasya. Sementara saya ini, seperti hidup sebatang kara….”

Acin tidak mampu meneruskan kata-katanya. Tangisnya meledak dalam haru kepiluan. Kedua matanya memerah dan air matanya mengucur deras membasahi seluruh wajahnya.

Opung Toba : “Anakku… Kamu tidak boleh berpikiran demikian. Kedua orang tuamu pasti sibuk bekerja…”

Tiba-tiba Acin berteriak cukup kuat : “Tidak Guru…!!! Mereka tidak menyayangi diriku. Mereka hanya sayang kepada laptop dan smartphone mereka. Saat berkumpul bertiga, mereka pasti asyik dengan smartphone di tangan. Memang saya dibelikan beragam mainan, namun tujuan mereka bukan untuk membahagiakan diriku, namun agar saya tidak mengganggu keasyikan mereka bermain smartphone. Saya tahu dan yakin dengan itu, Guru…”

Opung Toba terdiam sejenak. Matanya menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu. 

Masih dengan suara sesegukan, Acin melanjutkan uneg-unegnya : “Tahu gak Guru… Ayah ibuku bahkan tidak pernah mengajakku pergi jalan-jalan. Mereka juga tidak pernah bermain bersamaku. Saya dibiarkan sendirian saja. Jadi, apa bedanya saya dengan seorang anak yatim piatu…?”

Tiba terdengar suara orang memanggil : “Acin… Acin… Cepat kamu keluar… Ayah sedang sakit. Mari kita antar ayah berobat ke rumah sakit…”

Dari balik pintu, wajah ayah dan ibu Acin muncul. Wajah ayah Acin terlihat pucat pasi. 

Ibu Acin : “Cepatlah Acin…!!! Ayahmu sedang sakit. Mari kita bawa ayah ke rumah sakit…”

Acin : “Tidak mau… Biarin saja ayah sakit. Saya tidak peduli…”

Ucapan Acin sontak membuat ibunya naik pitam : “Anak kurang ajar… Berani-beraninya kamu berkata demikian… Dasar anak durhaka…”

Acin : “Saya tidak mau…!!! Selama ini saya seperti anak yatim piatu, anak sebatang kara. Pernahkah ayah dan ibu memberi perhatian kepadaku? Menemaniku makan? Menemaniku belajar? Menemaniku bermain? Atau mengeloni saya saat hendak tidur? Tidak pernah bukan? Apakah saya ini anak kalian atau anak pungut?”

Ibu Acin hendak melepaskan pukulan ke tubuh Acin, namun ditahan oleh ayah Acin. Sementara itu, Opung Toba juga sudah memasang kuda-kuda, menjadi tameng untuk melindungi tubuh Acin dari pukulan ibunya.

Ayah Acin berkata lemah : “Jangan emosi… Tenangkan hatimu dulu, Bu… Coba kita pikirkan, apa yang dikatakan Acin, adalah benar adanya. Jangan menyalahkan atau menghakimi Acin secara sepihak. Harus diakui, memang kita bersalah karena kurang memberi kasih sayang kepada Acin. Bukan begitu, Guru…?”

Ibu Acin : “Tapi si Acin sudah kelewatan, berani membantah dan membangkang. Jika dibiarkan, nantinya dia akan menginjak kepala kita…”

Opung Toba berdehem sejenak, lalu berkata dengan lembut : “Jika kita melakukan sesuatu dengan emosi dan mengedepankan kekerasan, hal ini akan berujung pada dendam. Sungguh tidak baik bagi perkembangan anak kita. Seorang anak perlu didengar. Mereka amat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Untung saja, Acin tidak bergaul dan berada dalam lingkungan pergaulan yang buruk, seperti anak berandalan, pemabuk atau pengguna narkoba…”

Ibunda Acin menundukkan kepalanya. Dia merasakan kebenaran ucapan Opung Toba. Dengan langkah tertatih-tatih, ayah Acin melangkah ke arah Acin, lalu memeluk erat putera semata wayangnya sambil berkata : “Maafkan ayah dan ibu, anakku… Kami memang salah… Kami berjanji akan membuang kebiasaan buruk kami. Bukan begitu, Bu…?”

Ibu Acin mengangguk, lalu merengkuh tubuh Acin dalam dekapan yang erat, seperti tidak ingin melepaskan putera yang pernah dikandungnya selama sembilan bulan.

Acin berkata lirih : “Saya juga meminta maaf karena sudah membuat ayah dan ibu bersedih, marah dan malu di hadapan teman-temanku. Maafkan Acin…”

Kedua orang teman Acin dan Opung Toba ikut larut dalam keharuan suasana. 

Tiba-tiba Acin melepaskan pelukan kedua orang tuanya, lalu berkata : “Ayah sakit apa? Ibu, mari kita segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan ayah…”

Ayah dan ibu Acin tersenyum gembira melihat perubahan sikap Acin, menjadi begitu perhatian kepada ayahnya. 

Sobatku yang budiman…

Salah satu pemicu ketidakharmonisan keluarga belakangan ini adalah karena masalah penggunaan smartphone yang tidak pada tempatnya. Saat berkumpul, masing-masing anggota keluarga asyik dalam dunianya, berselancar di dunia maya atau bermain game dan melupakan kehadiran orang-orang terkasih di sekelilingnya.

Mereka lebih senang bersenda gurau dengan orang yang tidak nyata, atau barangkali orang yang tidak dikenalnya, daripada orang yang nyata-nyata hadir dalam kehidupannya dan bahkan berada di sampingnya atau di hadapannya.

Padahal tujuan utama diciptakannya smartphone adalah untuk mendekatkan mereka yang berjauhan, bukan justru menjauhkan mereka yang berdekatan.

Sungguh ironis bukan…?

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #smartphone Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in NASEHAT OPUNG TOBA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s