“KESOMBONGAN”

<Kamis, 06 April 2017 OOR 19:30>

Suatu ketika saya berjumpa dengan Emon, teman akrab saat kuliah dulu, di sebuah pusat perbelanjaan. Sekilas penampilannya sangat berbeda dengan kondisinya ketika masih berstatus mahasiswa.

Kalung emas sebesar rantai kapal, jam tangan bermerek terkenal dan cincin bertahta berlian menghiasi jari manisnya. Mengenakan baju bagus bermerek luar negeri dan sepasang sepatu mengkilap yang harganya mencapai jutaan.

Emon menyapaku : “Hai bro… Long time no see… Apa kabar kamu sekarang?”

Saya menjawab : “Kabar baik bro… Wah, gaya penampilan kamu saat ini sangat berbeda. Dulu penampilanmu acak-acakan dan tampak seperti pemuda culun. Tapi sekarang berubah seratus delapan puluh derajat dengan tampilan necis ala eksekutif muda…”

Emon tertawa mendengar ucapanku, lalu berkata : “Itu kan dulu bro… Dulu saya hanyalah anak kampung yang tidak punya apa-apa. Sekarang saya sudah memiliki bisnis yang bagus, pabrik perabot. Hidup saya sudah senang. Mau apa saja, udah gampang…”

Saya tercekat mendengar penuturannya yang penuh kesombongan. Dulu Emon adalah pemuda yang pemalu dan sedikit berbicara.

Emon : “Mari kita rayakan pertemuan kita di restoran termahal di kota ini. Soalnya, besok saya sudah harus meninggalkan kota ini, berangkat ke Eropa untuk urusan bisnis…”

Saya : “Gak usah restoran yang mahal-mahal dech. Rumah makan biasa aja. Ngapain harus mengeluarkan duit begitu banyak untuk merayakan pertemuan kita?”

Emon : “Tenang aja bro… Kan bukan kamu yang bayar…”

Saya : “Itu yang saya gak mau. Kamu ini tamu di kotaku, harusnya saya yang mentraktir kamu. Dan saya biasanya suka makan di rumah makan padang…”

Emon mengernyitkan dahinya : “Ada AC-nya gak? Soalnya saya tidak tahan panas, mudah keringatan…”

Saya tersenyum mendengar ucapannya : “Nanti kita duduk di ruangan VIP yang ber-AC…”

Emon : “Oke dech… Nanti malam jam 7 kita jumpa di sana… Sekalian ajak teman-teman yang lainnya… Yang saya kenal aja yah…”

Saya tertawa : “Okelah kalau begitu…”

Malamnya kami berjumpa di sebuah rumah makan padang yang terkenal dengan kelezatan makanannya. Kami bertujuh kumpul dalam ruangan VIP yang cukup sejuk.

Selama pertemuan, Emon lebih banyak berbicara, terutama masalah bisnisnya yang maju. Sering kali tanpa sadar, Emon memamerkan kelebihannya, menunjukkan kesombongannya, membuat beberapa rekan yang lain merasa risih dan berniat untuk meninggalkan acara pertemuan. Namun saya berusaha untuk menahan kepulangan mereka.

Seorang teman saya bernama Akang, kebetulan saat ini sedang menganggur karena perusahaannya mengalami kebangkrutan, mencoba menawarkan dirinya untuk bekerja di perusahaan Emon.

Emon : “Sorry bro… Bukannya saya tidak mau menerima kamu, tapi standar pegawai di kantorku sangat tinggi, minimal harus memiliki ijazah dari luar negeri dan terutama harus kendaraan sendiri. Apakah kamu dapat berbahasa inggris?”

Akang menjawab lirih : “Sedikit-sedikit… Inggris pasif aja…”

Emon : “Pelangganku banyak yang dari luar negeri, bagaimana kamu dapat berkomunikasi dengan mereka kalau kamu tidak mahir berbahasa inggris…?”

Akang : “Saya bersedia ditempatkan di jabatan rendahan. Yang penting saya dapat menghasilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupku…”

Emon : “Gak usahlah… Masak teman sekuliahku harus jadi office boy? Malu-maluin aja…”

Akibat ucapannya yang merendahkan Akang, seorang teman yang lain, namanya Akil, tidak dapat menahan emosinya, lantas mengarahkan telunjuknya ke wajah Emon : “Woi, orang kaya baru. Kamu tidak usah sok angkuh begitu. Memangnya kamu pikir dengan kekayaan yang dimiliki, kamu bisa sesuka udelmu menghina orang lain. Sejak awal bertemu, saya sudah muak melihat kesombonganmu. Saya percaya Tuhan itu maha adil, akan memberikan pelajaran kepada umatnya yang sombong dan suka menyakiti hati orang lain… Percayalah, Tuhan pasti akan membalas perbuatanmu ini…”

Setelah berkata sedemikian keras, Akil menggamit lengan Akang pergi meninggalkan ruang pertemuan, meninggalkan kami bersama Emon yang terlihat terkejut melihat perlakuan Akil kepadanya. Tidak berapa lama kemudian, teman-teman yang lain mulai meninggalkan ruangan dengan berbagai alasan. Tinggallah kami berdua saja.

Emon : “Mengapa mereka begitu kasar kepadaku? Memangnya apa salahku…?”

Saya : “Begini bro… Jika kita sedang berbicara dan ternyata semua orang tidak suka dengan sesuatu yang kita ucapkan, berarti memang ada yang salah dengan ucapan kita. Kadang kita tidak sadar, bahwa gaya berbicara ataupun kalimat yang terucap itu dapat menyinggung dan menyakiti orang lain…”

Emon : “Jadi menurutmu, saya ini salah?”

Saya tertawa : “Kamu itu terlihat sombong…”

Setelah pertemuan yang kurang mengenakkan itu, beberapa temanku terutama Akang dan Akil, menjumpaiku. Mereka mengingatkanku untuk menjauhi Emon. Mereka takut karena pertemananku dengan Emon, dikhawatirkan saya juga akan dijauhi oleh yang lain. 

Akil : “Takutnya saat azab tiba kepada Emon, kamu akan mendapat imbasnya. Padahal kamu itu orang baik…”

Saya : “Terima kasih bro… Saat ini saya masih menganggap kalian teman baikku, termasuk Emon….”

Dua bulan setelah pertemuan itu, Emon meneleponku untuk ketemuan. Kali ini penampilannya sungguh berbeda. Segala aksesoris di tubuhnya sudah tidak terlihat. Emon hanya mengenakan kaos dan celana ponggol, plus sandal biasa.

Saya : “Wah, kamu sudah berubah…”

Emon menundukkan kepalanya : “Saya bangkrut… Pabrikku terbakar, seluruh aset dan bahan baku yang baru masuk gudang ludes terbakar…”

Saya terkejut : “Gak ada asuransi…?”

Emon : “Itulah keteledoranku… Saya terlalu menganggap remeh dan lupa membayar premi tahunan, akibatnya asuransiku dibekukan oleh perusahaan…”

Saya : “Aduhhh… Saya merasa prihatin dengan musibah yang menimpa dirimu…”

Emon : “Setelah kejadian ini, saya baru mengingat apa yang dikatakan Akil saat pertemuan dulu. Mungkin inilah teguran Tuhan atas kesombonganku. Saya sangat menyesal dan ingin meminta maaf atas kekeliruanku…”

Saya : “Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Saya yakin semua orang akan memaafkanmu. Sekarang perutku sudah lapar… Kamu pasti belum makan, bukan…?”

Emon : “Dari pagi bro…”

Saya merangkul pundak Emon, lalu berkata : “Pengen makan di mana, boss…?”

Emon menoleh ke arahku : “Sudah seminggu ini saya amat menikmati suasana makan di warung di pinggir jalan. Gak ngebosanin, karena banyak yang bisa dilihat di jalan…”

Saya tertawa terbahak-bahak : “Untung kamu gak bilang makan di restoran mahal. Bisa puyeng kepalaku. Soalnya isi dompetku tinggal selembar yang bergambar Sukarno-Hatta. Ayo… kita kemon, bro…”

Sobatku yang budiman…

Sesungguhnya kesombongan itu berawal dari cara pandang yang keliru, menganggap diri kita lebih hebat dari orang lain. Orang sombong akan membanggakan kelebihannya, tanpa melihat situasi dimana ada yang sedang berkekurangan.

Orang yang benar-benar hebat, justru sering tampil dengan kerendahan hati, percaya diri namun tidak membanggakan diri secara berlebihan, sederhana dan lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Kesombongan akan membuat mata hati kita menjadi buta, menghalangi pandangan batin bahwa sebenarnya kita memiliki banyak kekurangan yang mesti diperbaiki. Kesombongan adalah jerat yang sewaktu-waktu akan menghentikan laju kesuksesan dan menjatuhkan kita dalam jurang kehancuran.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kesombongan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in PENGALAMAN PRIBADI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s