“UNGKAPAN PERASAAN”

<Sabtu, 04 Maret 2017 OOR 23:18>

Di sebuah warung sederhana, aku menunggu kepulangan seseorang. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Sudah dua gelas kopi kuhabiskan, walaupun aku telah berusaha meminumnya dengan sangat perlahan, seteguk demi seteguk dengan jeda waktu yang lama.

Di atas meja, terletak sekuntum bunga mawar yang dibungkus dengan plastik transparan bercorak warna-warni. Dengan penuh perasaan, beberapa kali kuusapkan tissue ke plastik tatkala kulihat ada debu yang hinggap.

Tidak terasa sudah sejam lebih diriku menunggu kehadiran seseorang, wanita yang akan menjadi jembatan bagi kebahagiaanku kelak. 

Perut terasa kembung karena kehadiran dua gelas kopi. Biasanya hanya satu gelas saja dalam sehari. Demi cinta, aku rela menyiksa diri dalam kebosanan. Melamun dengan mata menerawang seperti orang bodoh.

Semakin lama menunggu, semakin keras debar jantungku berdegup. Belum pernah kurasakan perasaan yang sedemikian galau. Aku sendiri tidak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi setelah pertemuan dengannya. Semua kemungkinan terburuk muncul dan menari-menari di kepalaku. Makin lama makin parah. Bisa dibilang setengah gila.

Gelas sudah kosong, namun kerongkonganku terasa kering. Tidak mungkin aku memesan kopi lagi, karena perutku akan protes keras dan bakal mengeluarkan apapun yang ada di dalamnya. Gelas kosong itu kuiisi dengan air putih di dalam ceret yang terletak di atas meja. 

Berulang kali aku hampir menyerah dan hendak balik kanan pulang ke rumah saja. Namun, berulangkali juga aku selalu mengingatkan diriku untuk tetap bertahan.

Aku membatin : “Hari ini adalah waktu yang paling tepat. Jangan menunda-nunda lagi. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Kebahagiaan menanti kehadiranku di depan mata. Jangan berjiwa pengecut, karena mungkin tiada lagi kesempatan kedua…”

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seorang wanita yang sangat kukenal : “Hai Bang… tumben nongkrong di sini?”

Aku terkejut setengah mati. Lamunanku buyar. Ternyata selama ini saya terlanjur asyik dengan pikiranku sendiri sehingga tidak melihat kehadiran Qiqi. Jantungku berdegub semakin kencang lagi. Orang yang kutunggu-tunggu telah hadir di hadapanku.

Qiqi melihat bunga mawar indah yang tergolek di atas meja : “Cantik sekali bunganya? Bawa bunga untuk siapa nih…?”

Aku menarik nafas sepanjang mungkin, agar nantinya aku tidak kehabisan nafas saat mengungkapkan perasaanku. Aku menatap wajah Qiqi dalam-dalam.

Selama ini aku tidak pernah melihat wajahnya sebegitu dekat dan sedemikian detilnya. Ternyata Qiqi adalah seorang wanita yang begitu manis dengan dua lekuk lesung pipit yang indah. Matanya bulat dengan bulu mata panjang yang lentik. Bibirnya merah ranum. Cukup sempurna dan layak dijadikan wanita idaman bagi kaum adam. 

Kuberanikan diri untuk menatap matanya, lalu dengan amat hati-hati, aku berujar : “Qiqi… kamu cantik dan menawan… Saya ingin mengungkapkan….”

Belum sempat kuselesaikan kalimatku, Qiqi memotong dengan cepat : “Memangnya apa yang mau abang ungkapkan…”

Aku berusaha menenangkan diriku agar suara yang keluar dari mulutku tidak terdengar bergetar. Lantas aku berkata : “Aku ingin berkata jujur…”

Kembali Qiqi memotong ucapanku sambil mendekatkan telinganya ke wajahku. Aku dapat mencium semerbak wangi shampoo, walaupun sudah seharian Qiqi berada di luar rumah.

Tiba-tiba Qiqi menutup mulutnya. Matanya terlihat berbinar-binar. Pipinya memerah bagaikan diselimuti bedak merah.

Dengan terbata-bata, Qiqi berkata : “Abang… jangan bilang abang mau…”

Kali ini aku yang memotong kalimatnya : “Qiqi… maukah kamu….”

Qiqi : “Sebenarnya abang mau ngomong apa?”

Aku : “Aku segan dan malu mengatakannya…”

Wajah Qiqi tersipu dengan senyum manis mengembang.

Aku : “Bersediakah kamu…”

Qiqi : “Ya bang…?”

Aku : “Bersediakah kamu mengenalkan diriku dengan kakakmu? Aku sangat mengaguminya. Dia cantik sekali…”

“Plakkk… Plakkk…”

Aku merasakan pipiku pedas dan perih. Namun aku lebih malu lagi karena peristiwa ini disaksikan oleh banyak orang.

Aku pulang sambil memegang pipi yang nyeri setelah digampar wanita cantik. Sekarang aku dapat bernafas lega. Keraguanku untuk mengungkapkan perasaanku sudah terlampiaskan hari ini. Dan aku sudah tidak memiliki hutang kepada diriku lagi. Plong….

Arggghhh….

#firmanbossini #cerita #fiksi #ungkapanhati #perasaan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in CERITA PENDEK. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s