“BURUNG GAGAK DAN LEBAH”

<Jumat, 03 Maret 2017 OOR 14:24>

Di sebuah hutan yang masih belum banyak terjamah oleh tangan manusia, hiduplah sekelompok lebah madu. Mereka bekerja bersama-sama membangun sarang untuk tempat tinggal. Sarang terjuntai pada dahan sebuah pohon besar yang rindang. 

Dari kejauhan tampak seekor burung gagak melesat dari tebing tempatnya berdiam diri, hinggap di sebuah dahan pohon yang terletak di sebelah pohon tempat sarang lebah berada.

Burung gagak ini terus mengamati perilaku kawanan lebah. Selama berhari-hari dia selalu mengamati pekerjaan lebah dalam membangun sarang. Setelah sarangnya selesai dibangun, para lebah mulai mencari madu untuk disimpan di dalam sarang tersebut. 

Dalam hati, burung gagak itu berkata : “Mengapa para lebah begitu sibuk bekerja dari pagi hingga sore hari? Apa mereka tidak merasa lelah? Mengapa harus menimbun madu sebegitu banyak di dalam sarang? Sementara itu, saya sendiri tidak perlu capek-capek seperti mereka. Saya cukup menunggu bangkai hewan yang mati, lalu menyantapnya hingga kenyang. Setelah itu saya dapat kembali bermalas-malasan di tebing atau bersantai di dahan pohon. Setelah dipikir-pikir, betapa bodoh dan malangnya nasib para lebah…”

Tampak seekor lebah terbang melintas di hadapannya, lalu bergerilya mencari bunga-bunga hutan yang sedang mekar, menghisap sari madu lalu terbang kembali untuk meletakkan madu tersebut ke dalam sarangnya. Kegiatan ini berlangsung terus menerus sepanjang hari.

Burung gagak itu tidak sabar dan ingin mendapatkan penjelasan dari lebah. Dia menghampiri seekor lebah yang sedang menghisap madu bunga. 

Burung gagak : “Wahai lebah… Saya tidak mengerti dengan jalan hidupmu. Sepanjang hari kamu bekerja tidak mengenal lelah untuk mengumpulkan madu. Memangnya timbunan madu di dalam sarangmu, akan dapat kamu habiskan semua?”

Lebah : “Tentu saja tidak… Mana mungkin madu itu dapat saya habiskan semua…”

Burung gagak : “Nah, maka dari itu, mengapa kamu dan rekan-rekanmu begitu sibuk bekerja untuk mengumpulkan madu? Lagipula umur kalian juga pendek, tidak seperti umurku yang panjang…”

Lebah tersenyum mendengar kesombongan burung gagak. Dia tahu, burung berbulu hitam pekat ini pasti akan mengejek dan menghina dirinya sebagai makhluk yang gila karena hasil kerjanya tidak dimanfaatkan sepenuhnya untuk dirinya sendiri. 

Burung gagak melanjutkan : “Wahai lebah yang malang… Sudahilah pekerjaanmu. Bersantai-santailah seperti diriku. Nikmati saja hidupmu yang cuma sebentar saja. Tirulah diriku yang begitu menikmati hidup ini…”

Lebah menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata : “Umurku memang tidak sepanjang umurmu wahai burung gagak yang beruntung. Namun justru karena pendeknya waktu yang kumiliki, maka aku tidak boleh menyia-nyiakan untuk sedetikpun. Sepanjang hari aku membangun sarang dengan tekun agar sarang kami dapat diselesaikan sesingkat mungkin. Aku juga harus mengumpulkan madu sebanyak yang aku sanggup demi keberlangsungan koloni kami…”

Burung gagak : “Buat apa kamu bersusah payah membangun sarang dan mengumpulkan madu dengan cepat-cepat? Toh hidupmu tidak panjang dan akan segera mati…? Kamu juga tidak akan menikmati sarang yang telah kamu bangun…”

Lebah : “Itulah beda diriku dengan dirimu. Karena kekuatan dan kehebatanmu, kamu tidak perlu bekerja keras. Hanya mengharapkan pemberian dari makhluk lain. Kamu ini tidak lebih dari seekor parasit pengemis. Hidupmu sungguh memalukan. Coba kamu pikirkan, apa yang telah kamu berikan kepada makhluk lain sepanjang hidupmu? Tidak ada bukan…? Namamu tidaklah seindah nama kami…”

Burung gagak terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan yang begitu menikam kalbunya. Dia merasa ada benarnya apa yang dikatakan lebah.

Lebah melanjutkan kalimatnya : “Tuan gagak yang gagah… Aku merasa kasihan dengan cara berpikirmu. Dengan umurmu yang panjang, kamu justru menjadi benalu bagi makhluk lain. Beda dengan diriku. Dengan umurku yang singkat, aku justru sangat menghargainya dengan baik. Aku amat bahagia dan berbangga hati karena hidupku dapat berarti bagi makhluk lain. Aku senang dapat mempersembahkan karya pekerjaanku untuk dinikmati oleh siapapun yang membutuhkan. Itulah arti keberadaan hidupku di dunia ini…”

Ucapan lebah kecil telah membuat burung gagak mati kutu, tidak mampu lagi berkata-kata lagi. Kesombongannya pudar oleh ketidakmampuannya berbuat untuk sesama makhluk hidup. Dia baru menyadari, ternyata di balik penampilan lebah yang kecil dan berumur pendek, ternyata mereka memiliki kemanfaatan bagi makhluk lain.

Sobatku yang budiman…

Seberapapun panjang dan pendeknya sebuah kehidupan, itu adalah misteri alam dan menjadi hak prerogatif Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Sebagai umatnya, kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir. Setiap saat kontrak kita di dunia ini dapat saja berakhir.

Untuk itu, dengan sisa waktu yang tersedia, kita harus memiliki dedikasi dan komitmen menciptakan hidup yang berarti serta mendayagunakan kemampuan yang dimiliki untuk kepentingan sesama. Bukan justru sebagai benalu bagi orang lain.

Sedikit apapun yang dapat diperbuat, tentunya jauh lebih bermanfaat daripada hanya sekadar berdiam diri. Dengan demikian, niscaya hidup kita akan penuh dengan semangat, optimisme dan kegembiraan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #gagak #lebah #hidup Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in DONGENG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s