“ORANG-ORANG MUNAFIK”

<Kamis, 22 Februari 2017 OOR 07:13>

Seorang pemuda bernama Uvewe amat rajin beribadah. Bukan hanya itu, setiap kali ada kegiatan keagamaan, dia selalu ikut berpartisipasi sebagai donatur dengan nilai terbesar. Uvewe tidak pernah mau kalah dengan donatur yang lain. Yang penting baginya, namanya selalu berada di urutan teratas dalam list nama donatur.

Sementara itu, seorang temannya yang bernama Opekiu, berasal dari keluarga sederhana, hanya memberikan donasi dengan nilai yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Uvewe. Namun, perannya dalam setiap kegiatan selalu diwujudkan dengan menyumbangkan pikiran dan tenaganya.

Suatu ketika Uvewe didaulat untuk berpidato saat penyerahan bantuan : “Saudara-saudaraku yang kurang beruntung. Kami hadir dengan membawa bantuan dengan jumlah yang cukup besar. Kami berharap apa yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kepada para donatur, jangan pernah bosan untuk terus menyumbang, sebab mereka masih membutuhkan bantuan kita. Hidup kita hanya sebentar saja, berbuat baiklah saat kita masih mempunyai kesempatan..”

Pujian dan sanjungan banyak dialamatkan kepada Uvewe. Mereka menganggap Uvewe adalah seorang yang dermawan dan sering memberikan wejangan yang baik untuk semua orang. Beberapa orang sering mendapat nasehat dan pencerahan darinya.

Uvewe pernah menasehati seorang suami yang melakukan KDRT : “Jangan pernah melakukan kekerasan fisik kepada pasanganmu. Cobalah berada di posisinya, maukah kamu yang dihina atau dianiaya?”

Seorang ibu yang sering memukul dan memarahi anaknya di depan umum, diberikan saran : “Didiklah anakmu dengan kasih sayang. Jangan permalukan anakmu di hadapan khalayak ramai. Ingatlah bahwa anakmu adalah titipan Tuhan yang harus dilindungi, bukan justru sebagai pelampiasan saat dirimu sedang marah atau bertengkar dengan pasanganmu…”

Ketika seorang pemuda yang baru berumah tangga sedang kalut karena terlilit hutang, Uvewe memberikan nasehat : “Apapun masalahmu, jangan korupsi karena hanya akan menambah masalah baru dalam hidupmu. Yang terutama jangan selingkuh atau mencari wanita lain yang dapat melunasi hutangmu dengan imbalan kamu harus meninggalkan isterimu yang baru kamu nikahi. Berdoalah dan berusahalah bertahan. Temui mereka dan minta keringanan, saya yakin dengan pertolongan Tuhan, kamu pasti akan mampu melewati badai kehidupan ini…”

Sudah banyak orang yang tertolong dengan nasehat dan wejangan yang disampaikan oleh Uvewe. Mereka mengganggap Uvewe adalah seorang motivator dan malaikat penolong. 

Kebaikan dan kebajikan terus ditunjukkan oleh Uvewe, hingga suatu saat, para teman dan sahabatnya, dikejutkan oleh berita penangkapan Uvewe karena terlibat skandal penyuapan kepada pejabat negara. 

Uvewe tertangkap di sebuah hotel bersama wanita lain dan dalam keadaan “fly” akibat narkoba. Setelah peristiwa penangkapan ini, beredar berita dari tetangganya bahwa selama ini, Uvewe sering melakukan pemukulan kepada anak dan isterinya. Mereka tidak diperbolehkan sembarangan keluar rumah. Jika ketahuan, akan dianiaya oleh Uvewe.

Saat menjenguk Uvewe di penjara, Opekiu berkata : “Sejak dulu saya sudah tahu kelakuan kamu. Dan sudah berulangkali saya berusaha menasehati dirimu, namun selalu disepelekan. Kamu menganggap lebih kaya dan lebih terhormat dariku, makanya semua saranku kamu anggap sebagai angin lalu…”

Uvewe tertunduk malu. Terdengar suara lirih dari mulutnya : “Saya menyesal…”

Opekiu : “Nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlambat. Kamu harus mempertanggungjawabkan kesalahanmu. Yang penting kamu mau bertobat. Tidak gila hormat dan pujian. Berubahlah dari manusia munafik menjadi manusia biasa yang dicintai oleh Tuhan, keluarga dan masyarakat….”

Sobatku yang budiman…

Kemunafikan jarang dijumpai di tempat-tempat yang identik dengan kejahatan, baik itu di penjara atau tempat jalanan tempat kumpul para preman. Kemunafikan justru sering ditemukan di tempat-tempat terhormat seperti gedung pemerintahan maupun tempat ibadah.

Banyak orang, begitu pintar bersembunyi di balik jas mahalnya atau jubah suci kebanggaannya, menutupi keburukan hidupnya dengan kalimat santun dan perilaku yang terpuji. Padahal hatinya busuk dan penuh tipu muslihat.

Orang munafik sering mencari apapun demi mendapatkan perhatian, pujian dan penghormatan orang lain agar terlihat sebagai orang baik dan beradab. Mereka kadang tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang munafik. Terlalu asyik bermain dengan kebohongan dan segala tipu daya.

Jalanilah hidup dengan sebenar-benarnya. Jauhi kemunafikan dan kebohongan. Sebab akan tiba wakfunya, suatu saat nanti, Tuhan akan menunjukkan dan membongkar semua yang tidak benar dalam hidup ini.

Hanya tinggal menunggu waktu saja…

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #munafik Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, KISAH OPEKIU DAN UVEWE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s