“KEBIASAAN MENUNDA PEKERJAAN”

<Senin, 20 Februari 2017 OOR 18:21>

Seorang pemuda bernama Emon, sudah menikah dan memiliki seorang anak yang masih berusia dua fahun. Emon memiliki toko onderdil yang berkembang pesat, setelah menjalin kerjasama dengan rekan bisnisnya. 

Suatu hari sang isteri memberikan tugas kepada Emon untuk membeli susu untuk anak semata wayang mereka. 

Isteri : “Bang, nanti jangan lupa membeli susu formula untuk si kecil. Stoknya hanya cukup untuk sehari lagi…”

Emon : “Iya, sayangku… Itu masalah gampang… Besok akan saya belikan…”

Di saat yang yang hampir bersamaan, rekan bisnis Emon meminta agar Emon membongkar file penjualan untuk keperluan yang penting.

Rekan bisnis : “Mon, tolong carikan file penjualan milik PT. ABC. Segera difotocopy dan kirim ke meja kerja di ruanganku. Soalnya boss PT. ABC mengharapkan bonus karena penjualannya melebihi target. Dia mengancam akan berhenti menjadi pelanggan jika keinginannya tidak dipenuhi. Untuk itu saya perlu menghitung ulang total penjualannya…”

Emon : “Siap bro, besok saya pasti akan mengumpulkan file yang kamu minta…”

Selang sejam kemudian, ibunda Emon menghubungi dirinya, meminta tolong mengantarkan kue pesanan pelanggannya karena ayah Emon sedang tidak enak badan.

Ibunda Emon : “Anakku, tolong antarkan kue pesanan ibu Ani, kalau bisa sekarang dikirim. Kalau gak, paling lama, jam 12 siang besok sudah harus sampai di rumahnya. Jangan sampai kelupaan ya…”

Emon : “Tenang aja Bu… Hari ini saya lagi malas keluar rumah. Besok pagi, saya akan berangkat ke rumah Ibu dan mengantarkan pesanan ibu Ani…”

Berhubung besok hari Sabtu, malam harinya Emon menghabiskan waktu bergadang hingga subuh. Dia begitu asyik berselancar di dunia maya, sehingga melupakan waktu istirahatnya.

Pagi harinya, isteri Emon berusaha membangunkan dirinya, mengingatkan untuk membeli susu yang benar-benar sudah habis. Namun Emon, tidak menggubrisnya dan hanya mengatakan : “Iya, bentar yah… Kan si kecil masih bobok. Sebelum dia bangun, susunya pasti sudah tersedia…”

Panggilan telepon dari rekan bisnisnya, dijawab enteng : “Tenang aja bro. Sejam lagi saya akan mengirimkan file kepada kamu…”

Demikian juga dengan panggilan telepon ibunya, Emon menjanjikan : “Sabar yah bu… Ini kan masih jam sembilan. Masih ada waktu tiga jam. Bentar lagi saya mandi dan segera berangkat ke rumah ibu…”

Namun karena rasa ngantuk yang menderanya, secara tidak sadar Emon melanjutkan istirahatnya. Agar tidak mengganggu tidurnya, Emon mematikan hape. Akibatnya dia bangun kesiangan. 

Saat menghidupkan ponselnya, Emon merasa sangat terperanjat karena puluhan pesan singkat dari rekan bisnisnya dan ibundanya yang bernada kesal dan marah. Mereka terus menagih janji dari dirinya. Tiba-tiba terdengar suara tangis si kecil dari kamar sebelah, baru bangun dan merengek meminta susu.

Pikiran Emon amat kalut dan bingung. Ketiga pekerjaan itu sama pentingnya. Namun untuk menyelesaikan satu pekerjaan saja, dia tidak sanggup karena waktu yang dijanjikan sudah berakhir. Semuanya menumpuk menjadi satu dan perlu prioritas untuk diselesaikan terlebih dahulu.

Emon tidak berhasil membeli susu formula, sehingga si kecil terpaksa harus menangis menahan lapar. Dia juga terlambat mengirimkan file penjualan untuk rekannya, sehingga toko mereka harus kehilangan salah satu konsumen besar. 

Emon juga terlambat mengantarkan kue buatan ibunya. Alhasil, sesuai dengan perjanjian, Ibu Ani membatalkan pemesanan dan Ibunda Emon harus mengganti uang denda hingga dua kali lipat.

Sobatku yang budiman…

Kebiasaan membiarkan pekerjaan menumpuk, menunda-nunda tugas dan menyepelekan janji, seringkali membuat kita menjadi terpojok, bingung, kalut dan tidak dapat berpikir logis. 

Pekerjaan sederhana, acapkali menjadi rumit karena kita melakukan pembiaran. Merasa gampangan dan menganggap waktunya masih tersedia cukup banyak. Saat tiba waktunya, barulah kita merasa tertekan dan depresi. Tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. 

Hingga akhirnya semua pekerjaan menjadi kacau balau dan berantakan. Bukan itu saja, akibat perbuatan tidak terpuji ini, seringkali berujung pada kerugian materi yang tidak sedikit. Timbul penyesalan, namun semua sudah terlambat dan tidak dapat diulang kembali.

Jangan membiasakan diri dengan melakukan pembiaran dan menumpuk-numpuk pekerjaan hingga akhirnya kita tidak tahu pekerjaan mana yang menjadi prioritas. 

Namun, biasakanlah untuk menyelesaikan pekerjaan satu persatu agar tidak menjadi beban bagi hidup ini.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #menunda Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s