“SIMPATI DAN EMPATI”

<Kamis, 16 Februari 2017 OOR 07:10>

Eskete berkata : “Saya merasa muak melihat gayanya saat memenangi pertandingan. Aksinya sudah seperti orang yang paling hebat sedunia…”

Teman Eskete menyela : “Saya heran melihat tingkahmu yang kekanak-kanakan. Jagoan kamu kalah, mbok ya… diterima dengan lapang dada. Mengapa harus mempermasalahkan kemenangan orang lain? Jangan pula mencari-cari alasan sebagai pembelaan terhadap jagoan kamu…”

Eskete membela diri : “Tapi saya kesal mengapa jagoanku bisa kalah? Di atas kertas harusnya menang? Tapi kok malah kalah telak? Jangan-jangan ada kecurangan yang dilakukan oleh wasit dan panitia…”

Teman Eskete : “Jangan mengada-ada. Semua berlangsung transparan dan disaksikan oleh begitu banyak penonton di gedung ini. Sebenarnya jagoan kamu itu bisa menang jika tidak memandang rendah lawannya…”

Eskete : “Saya masih belum dapat menerima kekalahannya…”

Teman Eskete : “Terus kamu mau apa? Mau turun ke lapangan untuk menantang sang pemenang?”

Eskete : “Gak gitu juga sich…”

Teman Eskete : “Jadilah penonton yang sportif. Kalau kalah, jangan mengeluh. Cari jagoan lain yang cocok dengan hatimu. Gitu aja kok repot…”

Eskete : “Tapi saya sudah terlanjur mengidolakannya dan sudah ngomong setinggi langit kepada teman-temanku. Saya malu…”

Teman Eskete : “Gini saja… Anggap saja yang menang itu jagoan kamu. Dan cobalah untuk bersimpati, berbahagia dan menikmati kemenangan dari idola barumu ini. Pasti hatimu akan senang…”

Eskete : “Gak mudah untuk berpindah ke idola lain. Tapi saya akan mencobanya. Ngomong-ngomong saya lihat sang juara tidak kalah gantengnya dengan idolaku. Ramah dan bersahaja. Tidak patentengan…”

Teman Eskete tersenyum dan berkata dalam hati : “Awalnya bilang sok hebat dan muak lihat gayanya. Sekarang sudah mulai memuji. Tapi apapun ceritanya, yang penting, saya dan Eskete tidak sampai bermusuhan gara-gara beda jagoan…”

Sementara itu…

Seorang atlit yang kalah bertanding, berbicara saat konferensi pers : “Saya mengakui kekalahanku. Walaupun sudah berupaya mengikuti arahan pelatihku, namun ternyata kami salah strategi dan harus pulang kampung lebih awal. Saya mohon maaf kepada para pendukungku. Dan terakhir, saya mengucapkan selamat kepada para pemenang…”

Para penonton berdiri dan serentak bertepuk tangan, menghormati dan menghargai sifat kesatria atlit ini. Walaupun ada penonton yang bukan merupakan pendukungnya.

Sobatku yang budiman…

Tidak ada ruginya bagi kita untuk sekadar turut berbahagia dan bersimpati saat orang lain sedang berbahagia. Dan juga, tidak ada ruginya sama sekali bagi kita untuk sekadar turut berempati saat orang lain sedang bersedih.

Kedua sikap mulia ini tidak memerlukan biaya, waktu dan energi yang besar. Hanya diperlukan sedikit penurunan ego pribadi dan kedewasaan dalam berperilaku. Jangan melakukan pembenaran versi sendiri agar tidak ikut bersimpati atau berempati.

Betapa indahnya hubungan antar komunitas jika masing-masing manusia mampu memupuk toleransi dengan menghargai dan mencintai sesama mahluk ciptaan Tuhan, walaupun terdapat perbedaan dalam beberapa hal menyangkut kebiasaan, keyakinan dan pandangan hidup. 

Cintai sisi kemanusiaannya dan hargai perbedaan pandangannya selama mereka tidak melakukan keributan, gangguan, keresahan dan kerusakan bagi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #simpati #empati Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s