“ADIKKU TERSAYANG”

<Rabu, 15 Februari 2017 RPOT 09:07>

Aku dilahirkan di sebuah kampung di lereng pegunungan yang sangat terpencil. Pekerjaan orang tuaku adalah seorang petani. Mereka membajak tanah kering tandus untuk ditanami tanaman palawija. Saking seringnya membungkuk, punggung mereka seperti sedang menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik laki-laki, tiga tahun lebih muda dariku. 

Suatu ketika, aku terpaksa mencuri sejumlah uang dari laci ayahku untuk membeli sapu tangan berukir bunga yang menjadi impianku, Ayah tahu dan menyadarinya uangnya telah berkurang. Beliau memaksa diriku dan adikku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

Beliau bertanya : “Siapa yang mencuri uang itu?” 

Aku terdiam dan terpaku. Aku terlalu takut untuk mengakui perbuatanku. Ayah tidak mendengar satupun pengakuan dari antara kami berdua, sehingga membuat Beliau menjadi sangat berang : “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Ayah mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi dan bersiap-siap untuk memukul. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangan Ayah dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya…!”

Tanpa ampun, tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga terus-menerus mencambuki Adik hingga Ayah kehabisan nafas.

Sesudah itu, Ayah duduk di atas ranjang dan mulai memarahi Adik, “Kamu sudah pintar belajar mencuri sekarang. Hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati..! Kamu adalah pencuri yang tidak tahu malu!”

Malam itu, aku dan ibuku memeluk adikku dalam dekapan yang sangat erat. Tubuh Adik penuh dengan luka, tetapi dia sama sekali tidak menitikkan air mata setetes pun, layaknya seorang pria sejati.

Saat tengah malam, tiba-tiba aku menangis meraung-raung menyesali sifat pengecutku. Sebagai seorang wanita yang feminim, aku merasa sangat bersedih dengan pengorbanan adikku.

Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi…”

Aku masih tetap membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk mengaku telah berbuat kesalahan. 

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih begitu nyata kelihatan seperti baru kemarin terjadi. Aku tidak pernah bisa melupakan tampang adikku saat dia begitu berani melindungiku, kakak perempuan satu-satunya. 

**Saat adikku berusia 8 tahun dan aku berusia 11 tahun…

Karena kepintaran dan ketekunannya, adikku berhasil lulus ujian untuk masuk ke SMA di kota. Pada saat yang sama, saya juga diterima untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi negeri.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman belakang sambil menghisap rokok tembakaunya, sebungkus demi sebungkus.

Saya mendengarnya merengut : “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…”

Ibu mengusap air mata Ayah yang mengalir dan menghela nafas panjang : “Apa gunanya semuanya ini? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus…?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar kamar dan menuju ke hadapan ayah, lalu berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku. Saya bisa belajar sendiri…”

Ayah mengayunkan tangannya dan menampar wajah adikku sambil berteriak : “Mengapa engkau mempunyai jiwa yang begitu lemah? Bahkan jika saya harus sampai mengemis di jalanan, pasti saya akan menyekolahkan kamu berdua hingga tamat..!!”.

Aku terkesiap melihat emosi Ayah yang mulai meninggi lagi. Sebuah tamparan yang sangat menyakitkan, membuatku segera berjalan ke hadapan adikku. Aku menjulurkan tangan selembut mungkin ke wajah adikku yang membengkak.

Aku berkata : “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak kamu tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan…”

Sebaliknya, aku telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan pendidikan ke universitas.

Siapa sangka…

Keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku pergi meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit roti yang sudah mengeras. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku.

Isi surat singkatnya : “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang setiap bulan. Kakak jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini…”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis sesegukan dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. 

**Saat adikku berusia 17 tahun, dan aku 20. 

Dengan uang yang ayahku pinjam dari sebuah bank perkreditan rakyat, dan uang yang diperoleh dari mengangkut semen di atas punggungnya di sebuah lokasi pembangunan apartemen, akhirnya aku berhasil melanjutkan kuliah hingga ke tahun ketiga di PTN.

Suatu hari, ketika aku sedang belajar di kamarku, seorang teman sekamarku masuk dan memberitahukan : “Ada seorang penduduk kampung menunggumu di luar sana…”

Aku heran : “Mengapa ada seorang penduduk kampung mencariku…?”

Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. 

Aku bertanya : “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku bahwa kamu adalah adikku…?”

Dia menjawab, sambil tersenyum : “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu…?”

Aku merasa terenyuh, dan kembali mulai meneteskan air mataku. Aku membersihkan sisa-sisa debu yang melekat di tubuh dan pakaian adikku.

Dengan menyisakan sedikit tangisan, aku berkata : “Aku tidak mau peduli dengan omongan siapa pun..! Kamu adalah adikku…! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Tiba-tiba, dari sakunya, adikku mengeluarkan sebuah penjepit rambut berbentuk kupu-kupu. Dia menjepitkan benda mungil nan indah di sela-sela rambutku.

Lantas adikku berkata : “Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi menurutku, kamu juga harus memiliki satu buah, supaya tidak ketinggalan gaya dari gadis lainnya…”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku segera merengkuh tubuh kurus adikku ke dalam pelukan. 

**Saat adikku berusia 20 dan aku 23.

Suatu hari, aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang yang sebelumnya pecah telah diganti. Rumah kelihatan sangat bersih dan tiada lagi tersisa kotoran debu di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari kegirangan seperti seorang gadis kecil di depan ibuku. 

Aku berseru gembira : “Bu… Ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita…”

Ibuku tersenyum sambil berkata : “Bukan Ibu yang melakukan semua ini. Adikmu pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Adikmu mengalami sedikit luka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku segera masuk ke dalam ruangan kecil dan menjumpai adikku yang sedang membaca. Melihat mukanya yang kurus, serasa seribu jarum menusukku bertubi-tubi. Aku merasa sangat terluka. Aku mulai mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut dengan penuh kehati-hatian.

Aku bertanya : “Apakah itu sakit?”

Adikku menjawab : “Tidak, tidak sakit… Untuk kakak ketahui, ketika aku bekerja di lokasi pembangunan apartemen, berulang kali batu-batu berjatuhan menimpa kakiku. Namun kejadian ini tidak akan sanggup menghentikanku untuk bekerja dan…”

Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku tidak tahu apa kelanjutan kalimatnya.Aku membalikkan tubuhku dan memunggunginya. Air mataku mengalir deras hingga membasahi bajuku.

**Saat adikku berusia 23 tahun dan aku berusia 26 tahun…

Ketika menikah, aku tinggal di kota. Seringkali aku dan suamiku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan kampung halamannya, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa lagi. Adikku juga tidak setuju.

Adikku mengatakan : “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ayah dan ibu di sini.”

Hingga suatu saat…

Suamiku menjadi seorang direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Kami berdua menginginkan agar adikku bekerja sebagai manajer pada departemen teknik dan perawatan mesin di perusahaan ini. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras untuk memulai bekerja sebagai tukang listrik.

Namun, pada suatu hari, musibah yang tidak diinginkan terjadi menimpa adikku…

Saat adikku berada di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel yang terlepas, tanpa disadari, adikku mendapat sengatan listrik, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Melihat gips putih pada kakinya, aku mulai menyesali keputusannya menjadi tulang listrik. 

Aku menggerutu : “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah diwajibkan untuk melakukan pekerjaan yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius…. Mengapa kamu tidak mau mendengar nasehat kami sebelumnya?”

Dengan wajah yang serius, adikku selalu mempertahankan keputusannya. Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian terlontar kata-kataku yang sepatah-sepatah : “Tapi pengorbananmu untuk diriku sudah terlalu banyak…!”

Adikku menggenggam erat tanganku sambil berkata : “Mengapa membicarakan masa lalu?”

** Saat adikku berusia 26 tahun dan aku berusia 29 tahun…

Adikku sudah menemukan tambatan hatinya dan akan menikah dengan seorang gadis petani di kampung. 

Dalam acara pernikahan sederhana itu, pembawa acara itu bertanya kepada adikku : “Siapa yang paling kamu hormati dan sayangi sepanjang hidupmu?”

Tanpa berpikir panjang adikku menjawab : “Kakakku….”

Adikku menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat lagi kejadiannya.

Adikku berkata : “Saat masih SD, saya berangkat ke sekolah yang berada di kampung sebelah. Setiap hari aku dan kakakku harus berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, di musim salju yang sangat dingin, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan terus melangkah berjalan sambil menahan rasa dingin yang menusuk tulang. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran, sedikit membeku. Bahkan kakakku tidak sanggup untuk memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan mendahulukan kepentingannya di atas kepentinganku.”

Tepuk tangan membanjiri seisi ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. 

Bibirku begitu bergetar sehingga terasa sulit untuk memberikan sambutan balasan di atas pentas : “Dalam hidupku, orang yang paling berjasa adalah adikku. Tanpa pengorbanan adikku, sekarang aku bukanlah siapa-siapa…”

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan banyak tamu, aku benar-benar tidak mampu membendung lagi luapan air mataku. 

Dan, aku bersumpah untuk merawat, menjaga dan melindungi adikku dari segala hal yang merintangi hidupnya…

*So do I….*

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #pengorbanan #adikku Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s