“CINTA SEJATI”

<Sabtu, 11 Februari 2017 RPOT 06:29>

Tidak jarang bagi kita mendengar ungkapan dari para pria lajang : “Saya akan menikah setelah saya mapan. Jika belum mapan, saya takut anak dan isteriku kelak akan menderita dan sengsara”.

Atau barangkali kita sendiri, saat ini, yang berpendapat seperti kalimat di atas. Keputusan para pria untuk melajang lebih lama karena alasan ekonomi, tidaklah salah.

Setelah memiliki rumah dan mobil pribadi serta mempunyai penghasilan yang tinggi, barulah berpikir untuk menikah. Bekerja lebih keras dan menabung demi masa depan keluarga kecil adalah tindakan yang terpuji.

Namun….

Ketika kemampanan itu sudah datang, banyak pria lajang sering terjebak kepada situasi dimana akan datang begitu banyak wanita dari berbagai usia, yang bersedia menjalani kehidupan bersama dengannya.

Perubahan perilaku bagi sebagian wanita yang menghambakan materi dan bersikap hedon ini merupakan dilema bagi para pria. Banyak wanita yang lebih mengutamakan mendapatkan pria kaya walaupun jelek atau tua.

Apakah ini yang disebut “cinta sejati”? Sesungguhnya, cinta yang berlandaskan keinginan untuk memperoleh kemewahan adalah cinta semu…!!!

Harta dapat memanipulasi perasaan, bukan hanya wanita, bahkan banyak pria yang terjebak kepada situasi yang mengagung-agungkan materi dengan menjadi suami dari wanita yang kurang pantas menjadi isterinya.

Oleh sebab itu, janganlah kita (yang sudah mapan) menjebak perasaan wanita dengan harta dan kemewahan. Sebab di kemudian hari, kita yang akan menderita karenanya.

Roda selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Di saat kita berada di atas, sangatlah gampang kita mencari pendamping, namun itu belum tentu sebuah cinta sejati.

Cinta sejati biasanya akan diperoleh di saat kita berada di bawah. Berjalan bersama sambil menggenggam tangan saat melewati jalan berlumpur dan berlobang.

Beruntunglah pasangan yang telah menikah di saat mereka merintis karir dari bawah. Mensyukuri harta yang mereka peroleh, sebagai buah pengorbanan atas dasar cinta sejati.

Kerelaan berpanas-panasan, berdesak-desakan dalam angkot dan hanya menyantap makanan sederhana di pinggir jalan, akan menjadi kenangan tak terlupakan, sekaligus kelak dapat mempererat tali kasih yang telah dipersatukan oleh sebuah buku nikah.

Beruntunglah para pria lajang yang memiliki wanita yang tulus mencintainya dengan sepenuh hati dan rela mendampingi sang pria dalam kondisi apa adanya, sebelum menikah dan sesudahnya.

Bagi pria yang sudah mencapai kemapanan materi, harus mengingatkan diri sendiri untuk selalu setia kepada pasangannya diantara rayuan cinta semu dari banyak wanita lain yang menawarkan separuh cintanya. 

Sobatku yang budiman…

Janganlah ragu untuk menikah karena alasan kemapanan. Kita tidak pernah tahu, kapan Tuhan akan memberikan karunia kesuksesan dalam hidup ini. Barangkali saja, setelah menikah, Tuhan akan menurunkan anugerah yang terindah buat keluarga kecil kita.

Jangan sia-siakan ketulusan cinta dari pasangan kita karena kebimbangan akan kehidupan masa depan. Jangan biarkan mereka menunggu dalam ketidakpastian. Semua pasti ada jalan untuk dilalui. Mulus atau berliku, bergantung dari cara kita menyikapinya.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #cintasejati Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s