“SAMA BANYAK ITU BELUM TENTU ADIL”

<Kamis, 8 Februari 2017 RPOT 15:13>

Sebuah keluarga kecil nan sederhana, hanya dihuni oleh tiga orang anak, yang sulung bernama Acong (15 tahun), Aming (12 tahun) dan si bungsu Among (9 tahun).

Ayah mereka sudah lama meninggal dunia karena penyakit kanker yang tidak dapat disembuhkan lagi. Sedangkan sang bunda harus berpisah dengan mereka dan menjadi seorang TKW di negeri jiran Malaysia.

Keputusan yang sangat berat ini diambil sang bunda agar dapat membiayai kehidupan tiga orang anak, selepas meninggalnya sang suami tercinta. Setiap bulan ibunda mereka mengirimkan sejumlah uang ke rekening Acong, sebagai biaya hidup sehari-hari, biaya sekolah dan buku, biaya rumah tangga dan biaya sewa rumah.

Praktis, si sulung Acong lah yang harus mengurus dan merawat kedua orang adiknya untuk menggantikan peran orang tuanya. Setiap hari, Acong memberikan uang saku kepada kedua orang adiknya dengan besaran yang berbeda.

Namun, entah mengapa…. hari ini ketika hendak makan malam bersama, si bungsu Among mempertanyakan suatu masalah yang sebenarnya sudah menjadi keseharian mereka yaitu masalah pembagian uang saku yang tidak merata.

Among : “Bang, bolehkan saya bertanya sesuatu hal?”

Acong : “Iya adikku sayang? Ada masalah apa? Apakah kamu masih terus diganggu oleh teman sekolahmu gara-gara kamu seorang anak yatim?”

Among : “Bukan begitu bang… Saya ingin bertanya, mengapa uang saku saya jumlahnya beda dengan bang Aming? Kelihatannya Abang sudah berlaku tidak adil…”

Acong tersenyum mendengar pertanyaan si bungsu, namun tidak menunjukkan dirinya tersinggung atau marah.

Acong : “Menurut kamu, adil itu bagaimana?”

Among : “Adil itu artinya sama banyak. Uang yang saya terima seharusnya sama banyak dengan yang diterima bang Aming. Supaya kelak tabungan saya bisa sebanyak tabungan bang Aming…”

Acong : “Ohhh….begitu yah? Sebentar…saya ke belakang dulu mengambil mangkok milik kalian berdua dulu, untuk diisi sop tahu buatanku”.

Tidak berapa lama, si sulung Acong yang sangat bijaksana itu mengambil dua buah mangkok. Yang lebih besar milik adik pertamanya, Aming dan yang lebih kecil milik si bungsu Among.

Acong : “Sekarang coba kalian berdua melihat apa yang saya lakukan. Saya akan mengisi sop tahu ke dalam mangkok kalian masing-masing hingga penuh. Kalian sudah terbiasa dengan menghabiskan sop di mangkok tanpa sisa. Apakah kalian merasa kenyang dan puas?”

Kedua adiknya menganggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang dikatakan abang tertua mereka.

Acong : “Sop yang ada di mangkok jangan kalian habiskan dulu. Sekarang coba kalian mengambil sebuah mangkok kosong seukuran dengan kepunyaan masing-masing dari dalam lemari. Letakkan di atas meja, berdampingan dengan mangkok yang sudah terisi sop…”

Aming dan Among mengikuti arahan dari Acong.

Di hadapan Aming, terdapat dua buah mangkok besar, yang satu terisi penuh sop dan yang satu lagi masih kosong.

Di hadapan Among, terdapat dua buah mangkok kecil, yang satu terisi penuh sop dan yang satu lagi kosong.

Kemudian Acong memberikan instruksi lanjutan…

Acong : “Sekarang, dik Among menuangkan mangkok yang berisi sop ke mangkok kosong milik Aming dan dik Aming juga menuangkan mangkok yang berisi sop ke mangkok kosong milik Among. Lihat apa yang terjadi?”

Mereka berdua melakukan semua instruksi dari Acong…

Alhasil, mangkok kosong milik Aming, belum terisi penuh karena mangkok milik Among terlalu kecil. Sebaliknya, sop tumpah membasahi meja tatkala Aming menuangkan semua sop ke dalam mangkok kecil Among.

Si sulung Acong tersenyum melihat mimik muka lucu kedua adik tercinta.

Acong : “Adikku Among yang tersayang, lihat bagaimana mangkok kecilmu tidak akan sanggup menampung semua sop dari mangkok besar Aming”.

Acong melanjutkan penjelasannya : “Jika adil menurutmu adalah sama banyak… Maka seharusnya saya memberikan jumlah sop buat kamu, sama banyak dengan jumlah sop buat Aming… Namun, ternyata, mangkok kecilmu tidak sanggup menerimanya”.

Among menyela : “Jika begitu, besok abang tolong belikan mangkok yang sama besar dengan mangkok bang Aming…”

Acong : “Begini adikku, jika besar mangkok kamu sama besar, apakah kamu sanggup menghabiskan semua sop di dalam mangkok besar?”

Among terdiam dan menundukkan kepala… Tidak berapa lama kemudian, Among menggelengkan kepalanya…

Acong segera memeluk kedua adik tersayangnya sambil berkata : “Kita adalah anak yatim yang masih diberi penghidupan yang layak oleh Tuhan. Saya yakin, pasti saat ini kita sangat merindukan mama… seorang wanita single fighter yang rela berkorban untuk anak-anaknya…”

Serentak mereka bertiga berkata dalam uraian air mata : “Kami rindu mama… Kami sangat kangen dengan mama di hari raya Imlek ini…”.

Sobatku yang budiman…

Hikmah yang dapat diambil dari cerita di atas adalah : “Keadilan bukan berarti memberikan dengan jumlah yang sama. Namun memberikan sesuai dengan yang dibutuhkan dan sesuai dengan kesanggupan untuk menerima”.

Tidak jarang kita mengeluhkan nasib yang kurang beruntung dibandingkan dengan orang lain : “Mengapa dia kebih kaya dari saya, padahal saya lebih rajin darinya, lebih religius dari dia dan bahkan aku jauh lebih baik darinya”.

Jangan mengeluh tentang hidup. Tuhan pasti tahu akan ukuran dan kemampuan setiap umat-Nya. 

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #adil Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s