“RESPON ATAS HINAAN”

<Kamis, 09 Februari 2017 OOR 06:55>

Tidak seorangpun yang menyukai datangnya kritikan, apalagi jika kritikan itu disampaikan secara masif dan bertubi-tubi. Namun, sejelek-jeleknya kritikan, mereka pasti lebih benci jika mendapat hujatan atau hinaan. 

Tidak seorangpun yang dapat menerima jika mereka dihina, dijelek-jelekkan dan direndahkan martabatnya oleh siapapun juga. Berbagai respon akan muncul untuk menanggapi hinaan tersebut, bergantung kepada kepribadian, tingkat emosi dan kedewasaan.

Dalam kehidupan era sosial media, kita akan mudah menemukan postingan yang berisi hinaan dan ujaran kebencian, silih berganti lalu lalang menghiasi jagad dunia maya. Dengan gampangnya para netter melontarkan kata-kata bersifat memojokkan dan menghina mereka yang berseberangan politik atau keyakinan. Sangat kasar dan tidak beretika.

Demikian juga dalam kehidupan nyata, sebuah hinaan begitu mudah diungkapkan seseorang kepada orang lain dengan berbagai alasan, baik sengaja maupun tidak disengaja.

“Kamu memang bodoh sekali… Tidak pernah saya menjumpai orang sebodoh dirimu. Otakmu taruh dimana? Mengapa kamu selalu mengulang kesalahan yang sama…?”

Kalimat di atas akan terdengar sangat menyakitkan, terlebih lagi jika dilakukan di depan khalayak ramai atau di depan rekan-rekannya. Mereka yang menerima hinaan ini pasti akan merasa sakit hati dan menyimpan dendam.

Kalimat sarkasme ini muncul, mungkin karena terlalu ceplas ceplos atau barangkali memang sudah terlalu kesal dengan orang yang dituju. Namun, apapun argumennya, hal ini adalah suatu hinaan yang menyakitkan. 

Lalu bagaimana respon orang-orang, seandainya berada dalam situasi seperti ini?

Seorang pemarah pasti langsung emosi dan tidak akan tinggal diam. Mereka akan melawan, membalas dan menghina balik dengan kata-kata yang lebih kasar. Ujung-ujungnya akan muncul pertengkaran, perang mulut atau lebih buruk lagi, terjadi baku hantam. 

Semua ini akan berakhir dengan suatu kesia-siaan dan timbul permusuhan. Yang tersisa hanyalah rasa sakit, kesal, menyesal, malu dan dendam.

Orang yang rendah diri dan merasa lebih “lemah” pasti akan merasa tertekan. Mereka tidak akan menerima hinaan itu. Mereka tidak suka dan menyimpan kebencian yang begitu dalam. Untuk membalas, mereka tidak berani karena merasa lebih rendah. Apalagi apa yang disampaikan itu adalah sebuah kenyataan. 

Mereka hanya bisa menunduk malu dan terpaksa menerima kenyataan bahwa mereka adalah orang yang tidak berguna dan patut untuk disepelekan. Mereka merasa terzolimi namun tidak berdaya. Akhirnya mereka akan merenung sendirian, menangis, depresi dan menganggap dirinya memang benar-benar bodoh dan layak mendapat hinaan.

Orang yang cuek pasti akan mengabaikan dan segera melupakan semua hinaan yang datang kepadanya. Mereka tidak mau belajar untuk introspeksi diri. Mereka memiliki karakter yang tidak mau tahu dan sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak mau mendengarkan apapun kalimat buruk yang dikatakan orang lain. 

Mereka memang tidak terpengaruh oleh hinaan itu. Namun mereka juga tidak mau belajar untuk mengoreksi dirinya sendiri, mengapa ada orang yang sampai menghinanya sekasar ini.

Nah, kita ini termasuk kelompok mana? Seorang pemarah, seorang yang rendah diri atau seorang yang tidak peduli alias cuek bebek?

Untuk menyikapi kritikan atau hinaan, kita boleh belajar dari perlombaan pacuan kuda. Untuk mendapatkan lari yang sangat kencang, seekor kuda akan dicambuk. Terlihat jahat dan menyakitkan, namun terbukti bahwa cambuk itu mampu menggerakkan mereka maju ke depan.

Tidak bermaksud untuk menyamakan manusia sebagai seekor kuda, namun kita dapat menganalogikan cambuk itu sebagai hinaan. Ketika telinga kita mendengar ada orang yang melontarkan hinaan, kita harus mawas diri dan segera menyadari bahwa masih terdapat hal yang kurang dalam diri kita. Memang terasa sakit, namun semua ini tentu ada manfaatnya.

Kita harus menerima dan mentransformasi rasa sakit hati menjadi sebuah motivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Tidak ada gunanya kita menghina balik orang tersebut jika apa yang dikatakan itu benar adanya. Yang patut kita lakukan adalah segera memperbaiki diri dan membuktikan bahwa kita dapat melakukan sesuatu dengan benar. Tidak perlu berkeluh kesah, baper atau curhat berlebihan. 

Sobatku yang budiman…

Banyak orang mengatakan hidup ini memang kejam, namun hanya orang yang tahu cara menghadapi kekejaman itulah, yang akan bertahan hidup dalam kemuliaan. Menjadi seorang tangguh yang dapat menghadapi hinaan dengan benar adalah sebuah berkah. Kita dapat belajar dan memulai dari sekarang.

Ketika seseorang suka menghujat dan mencari kesalahan kita, jangan marah, namun bersyukurlah. Sebab ada seorang “malaikat” yang selalu siap menunjukkan semua kekurangan kita.

Sesesungguhnya orang yang menghina kita adalah mereka yang sedang menempatkan diri kita di tempat yang lebih “tinggi” dan menempatkan dirinya lebih “rendah”. 

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #hinaan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s