“MENJAGA NAMA BAIK ORANG TUA”

<Selasa, 24 Januari 2017 OOR 17:24>

Seorang pemudi bernama Epel, baru menyelesaikan bangku SMA. Dalam kesehariannya, Epel selalu melakukan pekerjaan rumah untuk meringankan beban ibunya, walaupun hanya sekadar menyapu atau membersihkan lantai yang kotor.

Epel amat menyayangi kedua orang tuanya. Tidak ada seorangpun yang boleh menghina atau mengganggu kehidupan keluarganya. Tabiatnya yang temperamental membuat kedua orang tuanya merasa amat khawatir. 

Pernah suatu ketika, Epel melihat ada seorang pemuda mengambil buah mangga yang jatuh dari pohon di halaman rumahnya, seketika juga Epel berteriak menghardik, mengejar dan memukul pemuda tersebut hingga hidungnya terluka.

Dan, beberapa waktu lalu, Epel melihat ibunya menangis di dalam kamar. Pemudi tomboi berlesung pipit ini berusaha mendesak dan meminta penjelasan, siapa yang begitu berani membuat ibunda tercintanya mengeluarkan air mata kesedihan. Namun ibunda Epel bersikeras tidak mau memberitahu perihal penyebab tangisnya.

Karena tidak berhasil mendapatkan keterangan apapun, akhirnya Epel mencari tahu sendiri penyebab ibunya menangis. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pada hari yang bersamaan dengan saat ibunya menangis, Ibu Sani berkunjung ke rumahnya.

Berbekal informasi ini, Epel segera menuju ke rumah Ibu Sani. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa penjelasan, Epel langsung melabrak dan memaki Ibu Sani. Setelah puas mengeluarkan caci makinya, Epel kembali ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. 

Seketika itu juga ibunya memukul pundak Epel sambil berkata : “Ibu Sani tidak bersalah. Kami ada join bisnis, dan ternyata bisnis yang kami geluti mengalami kerugian. Ibu sedih karena sebagian tabungan yang digunakan sebagai modal bisnis tidak dapat kembali lagi….”

Epel menyela : “Jangan-jangan ibu ditipu oleh Ibu Sani…. Kalau benar, saya akan pergi ke rumahnya untuk meminta pertanggungjawabannya. Saya pasti akan menghancurkan kehidupannya. Siapa yang berani membuat ibuku menangis, akan mendapat ganjaran setimpal dariku…!!!”

Ibunda Epel : “Tidaaak… bukan salah Ibu Sani. Ini murni salah ibu karena terlalu gegabah dalam memutuskan sesuatu. Ibu khilaf dan tidak teliti. Bahkan beliau berniat mengembalikan modal ibu yang hilang. Namun ibu menolaknya karena selama ini Ibu Sani sudah banyak membantu ibu dan berulangkali menolong keluarga kita…”

Epel tercekat. Bibirnya mengelu tidak dapat berkata apa-apa. Dia merasa bersalah karena menuding Ibu Sani telah membuat ibunya menangis. Epel tertunduk membisu.

Malam harinya, ayah Epel memanggil Epel dan ibunda Epel ke ruang tamu. 

Ayah Epel berkata kepada Epel : “Barusan saya mendengar kamu membuat keributan di rumah Ibu Sani. Memangnya ada kejadian apa yang membuat kamu marah besar?”

Epel mulai menitikkan air mata. Ibunda Epel mengelus kepala puteri kesayangannya. Semua kejadian dari awal hingga peristiwa tadi sore diceritakan kepada ayah Epel secara terperinci.

Ayah Epel manggut-manggut, lalu berkata : “Semua ini bukan salah siapa-siapa. Inilah resiko dari sebuah bisnis, kadang untung dan tidak jarang harus merugi. Lantas, mengapa Epel tidak mau bersabar dan berpikir dewasa, tidak mampu mengendalikan emosi hingga membuat malu keluarga?”

Epel menjawab sambil terisak : “Saya sayang sekali kepada ayah dan ibu. Hatiku pasti akan teriris saat ada orang yang melukai perasaan kalian. Saya tidak mau ayah dan ibu bersedih…”

Ayah Epel : “Apa yang ada dalam pikiranmu sudah benar, berbakti dan mencintai kedua orang tuamu. Namun perbuatanmu untuk melindungi kami, itu yang tidak benar. Sangat berlebihan. Kecintaanmu kepada kami, tidak boleh kamu tunjukkan dengan menghakimi atau menyakiti siapapun. Itu tindakan yang konyol.”

Ibunda Epel : “Sudahlah Pak… Epel sudah merasa menyesal dan berjanji untuk mengendalikan emosinya. Dia tidak akan mengulangi lagi perbuatan negatifnya itu…”

Ayah Epel melanjutkan : “Ayah bangga memiliki anak yang berbakti, namun ayah jauh lebih bangga memiliki anak yang berperilaku santun dan tidak mencemari nama baik keluarga.”

Sejak saat itu, Epel sedikit demi sedikit mulai mengubah sifatnya yang gampang emosi. Kedua orang tuanya terus membimbing dan memberi nasehat kepada Epel. Mereka berharap puteri semata wayangnya dapat tumbuh menjadi gadis santun, baik, penyabar dan disenangi banyak orang.

Sobatku yang budiman…

Jagalah mulut dan tangan dari perbuatan yang tidak baik dan merugikan orang lain. Apa yang diperbuat seorang anak, tidak terlepas dari urusan dengan kedua orang tuanya.

Walaupun kita belum dapat membahagiakan orang tua, setidaknya kita tidak membuat malu nama besar mereka.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #namabaik #orangtua Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s