“BERSAHABAT DENGAN KEBOSANAN”

<Jumat, 20 Januari 2017 OOR 14:38>

Seorang pemuda bernama Zuki merasa hidupnya begitu membosankan. Kesehariannya hanya diisi dengan bekerja dan bekerja tanpa jeda. Jika tidak lembur, maka malam harinya Zuki dapat sedikit meluangkan waktu untuk menonton tv, namun kebanyakan malah berakhir dengan tv yang menonton dirinya yang sedang ketiduran.

Hingga suatu ketika, puncak kebosanan menghampiri dirinya. Zuki menjadi gampang marah, tidak konsentrasi dan berubah menjadi pemalas.

Seorang teman Zuki melihat perubahan perilaku Zuki dan menganjurkan Zuki untuk menemui seorang guru spiritual yang terkenal arif dan bijaksana, bernama Opung Toba. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Zuki bersedia mendatangi kediaman Opung Toba, dengan harapan dapat membuang rasa bosan yang menghinggapi dirinya.

Zuki : “Belakangan ini saya merasa sangat bosan, hidup ini terasa begitu menjemukan. Sebenarnya apa itu rasa bosan, Guru…?”

Opung Toba : “Semua orang pasti pernah merasa bosan, baik mengenai pekerjaan, bisnis, lingkungan sekitar dan pasangannya. Sesungguhnya bosan itu adalah kondisi dimana pikiran menginginkan adanya perubahan, mengharapkan sesuatu yang baru, menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari kehidupannya.”

Zuki : “Mengapa kita dapat merasa bosan?”

Opung Toba : “Karena kita tidak mau menikmati apa yang sedang dikerjakan. Menganggap semua itu adalah rutinitas yang menjadi beban hidup.”

Zuki : “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”

Opung Toba : “Satu-satunya cara adalah menikmati kebosanan itu. Jangan memusuhinya, jangan pula membunuhnya, karena rasa bosan itu akan kembali muncul walaupun berulang kali kita menyingkirkannya.”

Zuki :”Bagaimana mungkin kita dapat menikmati kebosanan? Tidak ada seorangpun menginginkan kehadiran rasa bosan dalam hidupnya”

Opung Toba : “Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan menghirup oksigen setiap saat? Tidak pernah jemu untuk mengisi perut dengan sepiring nasi yang sama rasanya setiap hari?”

Zuki : “Karena oksigen itu adalah kebutuhan vital manusia yang diperlukan untuk hidup. Karena kita makan nasi dengan beragam lauk pauk yang berbeda, Guru…”

Opung Toba : “Benar sekali… Menghirup oksigen sudah mendarah daging dalam hidup ini. Kita tidak mungkin membencinya karena kita membutuhkannya. Jika kita sanggup memperlakukan setiap aktivitas pekerjaan seperti menghirup oksigen, maka rasa bosan tidak akan pernah muncul. Namun jika kamu belum sanggup seperti itu, maka kamu harus menambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu, sesuatu yang membuatmu merasa senang dan nyaman.”

Zuki : “Bagaimana caranya menambahkan hal baru dalam rutinitas?”

Opung Toba : “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Jika biasanya kamu mengerjakan pekerjaan dalam keheningan, cobalah bekerja sambil mendengarkan musik. Jika biasanya mendengarkan hape dengan mendekatkan hape ke telinga, cobalah untuk menyalakan speakernya. Biasanya kamu mengendarai kendaraan sendiri ke kantor, cobalah untuk menggunakan angkutan umum. Biasanya kamu makan di kantin kantor, cobalah sesekali makan di warteg. Begitu banyak aktivitas yang dapat kamu ubah tanpa mengurangi makna dan tujuan pekerjaanmu. Kamu sudah mengerti sekarang…?”

Zuki : “Saya sudah mengerti dan akan coba saya terapkan dalam keseharianku. Terima kasih, Guru…”

Sebulan kemudian, Zuki datang kembali menjumpai Opung Toba.

Zuki : “Guru, saya sudah mencoba apa yang Guru katakan dan cukup berhasil mengusir rasa bosan. Saya merasa senang dan menikmati hidupku. Namun setelah sebulan berlalu, saya mulai merasa bosan kembali. Mengapa saya masih merasa bosan…?”

Opung Toba : “Begitu yah… Bawalah badut atau pelawak ke panti asuhan. Dengarkan gelak tawa anak-anak saat mereka mendengar cerita jenaka atau melihat mimik wajah imut mereka yang lucu…”

Zuki : “Baiklah Guru…”

Seminggu kemudian Zuki kembali menyambangi rumah Opung Toba.

Zuki : “Saya benar-benar menikmati hidup saya, Guru. Saya tidak lagi merasa bosan. Tapi itu hanya berlaku untuk hari Minggu saja. Keenam hari lainnya, saya masih merasa bosan…”

Opung Toba : “Begini saja… Coba kamu melakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”

Zuki : “Maksudnya? Apakah saya harus kembali bersifat kekanak-kanakan lagi? Bukankan saya malah akan ditertawakan oleh orang lain?”

Opung Toba : “Di kala senggang atau saat kebosanan datang menerpa dirimu, cobalah kamu memainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”

Zuki : “Berarti saya harus kembali ke masa kecilku yang polos dan penuh keceriaan. Bermain dan terus bermain tanpa perlu memikirkan masalah kehidupan…”

Opung Toba : “Siapa yang menyuruh kamu terus bermain? Memangnya dengan bermain saja kamu sudah dapat mengenyangkan dirimu? Bekerja itu adalah keharusan untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Namun di kala senggang, hiburlah dan manjakan dirimu dengan permainan yang membuatmu ceria. Pahamkan anakku…?”

Zuki mengangguk : “Saya sudah paham, Guru…”

Sebulan kemudian Zuki datang menjenguk Opung Toba dengan membawa kabar gembira.

Zuki : “Guru, saya sudah melakukan apa yang Guru sarankan. Permainan yang sedang aaya tekuni membawaku ke alam anak-anak. Saya merasa kembali muda dan larut dalam kegembiraan. Saya dapat bermain sepuas-puasnya. Bahkan di hari Minggu, saya mengajak anak-anak panti asuhan bermain bermain bersama. Dampaknya sungguh luar biasa. Saya tidak pernah lagi merasa bosan…”

Opung Toba tersenyum mendengar celoteh Zuki, gaya berbicaranya pun sudah seperti anak kecil, polos, lugu, manja dan bawel. Tidak lagi tampak wajah merengut dan membosankan.

Sobatku yang budiman…

Sesungguhnya, rasa bosan itu bukan berasal dari luar diri kita. Kebosanan itu muncul dari dalam diri tatkala kita merasa bahwa rutinitas keseharian berjalan monoton, tidak bervariasi, kaku dan tidak mengalir.

Rasa bosan itu berasal dari pikiran kita karena kita selalu berpikir tentang kebosanan, meracuni pikiran dengan sesuatu yang monoton dan menjemukan. Banyak orang melakukan rekreasi untuk mengusir kebosanan. Itu amat baik. Namun, sekembalinya dari rekreasi, pikirannya akan kembali ke dunia nyata, kembali kepada rutinitas yang membosankan.

Salah satu cara ampuh menghilangkan kebosanan adalah dengan bermain seperti anak kecil, tujuannya agar pikiran kita menjadi riang gembira dan penuh keceriaan. Dan ini dapat dilakukan dengan gampang dan murah.

Kita tidak lagi menjadi bosan karena pikiran kita tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiran kita tentang kebosanan. Jika kita berpikir bosan maka kebosanan akan muncul. Jika kita berpikir ceria maka keceriaan akan menghampiri hidup kita.

Bosan itu manusiawi. Yang tidak diperbolehkan, membiarkan rasa bosan berlarut-larut mengganggu dan membebani hidup kita. Membiarkan kebosanan, akan membuat kita menjadi manusia tidak setia, pemalas dan tidak punya daya kreativitas.

Jangan pernah bosan kepada pasangan karena akan menyebabkan perselingkuhan.

Jangan pernah bosan kepada pekerjaan karena akan menimbulkan rasa malas.

Jangan pernah bosan kepada orang tua dan keluarga karena akan menghilangkan rasa tanggung jawab.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #bosan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in Kisah Inspiratif, Nasehat Opung Toba. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s