“MEMANCING HADIRNYA KEGAGALAN”

<Selasa, 17 Januari 2017 OOR 06:58>

Dalam hidup ini, tidak ada seorangpun yang menginginkan terjadinya kegagalan, baik dalam karir, pekerjaan maupun dalam rumah tangga. Semua orang mendambakan kelancaran dalam setiap kegiatan dan selalu berhasil menuntaskan pekerjaannya dengan sempurna.

Namun pada kenyataan, kegagalan selalu mengintip dan menghantui kita, menunggu saat tepat untuk muncul ke permukaan. Menampilkan diri saat kita lengah dan melakukan kesalahan, menampakkan wujud saat kita terlalu percaya diri sehingga meremehkan suatu masalah.

Dalam menyikapi kegagalan yang hadir dalam kehidupannya, kebanyakan orang sering bertindak berlebihan, cenderung merasa sangat khawatir dan penuh kecemasan. Sikap yang “over” ini membuat mereka tertekan, depresi dan larut dalam ketakutan. Tidak berani untuk melangkah dan lebih senang berdiam diri, menunggu kegagalan itu menyingkir dengan sendirinya.

Dalam benaknya, sebuah kegagalan adalah hal yang memalukan dan merendahkan harga dirinya. Merasa sebagai sosok yang lemah dan tidak pantas untuk berinteraksi dengan orang lain. Berkubang dalam kesedihan dan penderitaan.

Meskipun cemas dengan dampak negatif sebuah kegagalan, namun masih saja ada orang yang memang merencanakan kegagalannya sendiri. Sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, perbuatan yang dilakukan akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kegagalan.

Beberapa contoh berikut ini menunjukkan bagaimana seseorang merencanakan sebuah kegagalan dalam hidupnya :

1. Menganggap remeh suatu pekerjaan, merasa pasti mampu melakukannya sendiri dan membiarkan jika timbul sedikit masalah.

2. Tidak pernah melakukan persiapan yang cukup, mengabaikan proses pengamatan dan penelusuran akan untung ruginya suatu pekerjaan. Tidak ada tujuan awal yang jelas dan terukur.

3. Terlalu berani mengambil resiko tanpa melalui perhitungan yang matang.

4. Sering berlambat-lambat, manusia “slow motion” dan bahkan menunda-nunda aktivitas penting dengan beribu alasan yang mengada-ada.

5. Mudah frustasi, patah semangat dan akhirnya menyerah saat mengalami kesulitan.

6. Menyombongkan kemampuan yang dimiliki, mengabaikan pendapat orang lain dan pantang dikritik.

7. Membenci pekerjaan yang sedikit melelahkan, membanding-bandingkan apa yang dilakukan secara sepihak dan penuh kedengkian dan tidak mencintai apa yang sedang dikerjakan.

8. Tidak percaya diri dan sangat mudah dipengaruhi (dihasut) oleh orang lain yang bertujuan untuk membuyarkan keberhasilannya. Tidak yakin dengan tujuan akhirnya.

Sobatku yang budiman…

Kegagalan itu adalah sebuah keniscayaan dalam hidup kita. Sesuatu yang wajar dan pasti pernah dialami siapapun sebelum mereka menikmati manisnya kesuksesan.

Kegagalan itu bukan aib, bukan pula musuh yang harus diperangi, sebab kegagalan itu merupakan ujian bagi siapapun untuk naik ke level yang lebih tinggi.

Seharusnya, kekhawatiran akan potensi kegagalan dapat mendorong kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Bukan sebaliknya, justru bersikap dan berperilaku negatif untuk memancing hadirnya kegagalan. 

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #kegagalan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s