“MENEMUKAN ORANG BAIK”

<Senin, 16 Januari 2017 RPOST 16:27>

Alkisah ada seorang Guru Spiritual yang bijaksana bernama Opung Toba. Beliau sedang duduk bersantai di dekat gapura pintu masuk ke dalam kota. 

Tidak berapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda bernama Samosir, mengajaknya bermain catur. Walaupun tidak pernah sekalipun memenangkan pertandingan catur melawan Opung Toba namun Samosir tidak pernah menyerah. Opung Toba tidak pernah menolak ajakan tanding catur dari Samosir. Beliau sangat mengagumi semangat pantang menyerah pemuda yang sudah ditinggal ibundanya sejak masih kecil.

Saat sedang menikmati permainan catur, muncullah seorang pemuda bertampang angkuh dengan mengendarai kuda menghampiri Opung Toba.

Pemuda A : “Apakah anda adalah Opung Toba?”

Opung Toba tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Janggut putih yang menjulang ke bawah ikut bergoyang mengikuti gerakan kepalanya.

Pemuda A : “Guru yang bijaksana, bolehkah saya bertanya sesuatu kepadamu?”

Opung Toba : “Apakah yang sedang mencemaskan hatimu wahai pemuda…?”

Pemuda A : “Saya telah meninggalkan kampung halamanku karena….”

Belum sempat pemuda tersebut menyelesaikan kalimatnya, Samosir menyelutuk : “Mengapa kamu meninggalkan kampung halamanmu? Apakah di sana tidak ada pekerjaan lagi untukmu? Atau barangkali kamu hendak melarikan diri dari tanggung jawab setelah melukai hati wanita…?”

Opung Toba : “Hushhh… Kamu tidak boleh berpikiran negatif seperti itu… Cobalah lanjutkan kalimatmu yang tadi terpotong wahai pemuda…”

Pemuda A : “Saya ingin mencari kebahagiaan dan kedamaian di tempat baru. Sebab saya tidak menyukai orang-orang yang ada di kampung halamanku…”

Opung Toba mengelus janggut putihnya dan mulai mengernyitkan dahinya seperti memikirkan sesuatu hal.

Pemuda A itu melanjutkan bertanya : “Guru, saya hendak pindah ke kota ini. Bagaimanakah karakter dan tabiat orang-orang di sini…?”

Opung Toba balik bertanya : “Bagaimana karakter dan tabiat orang-orang yang baru saja engkau tinggalkan…?”

Pemuda A menjawab : “Orangnya tidak asyik dan tidak pintar bergaul. Sungguh tidak menyenangkan dan menyebalkan sekali. Semuanya egois dan mau menang menang sendiri. Pokoknya tidak ada orang baik di kampungku…”

Opung Toba : “Dengan sangat menyesal saya memberitahukan kepada dirimu bahwa karakter orang-orang di kota ini semuanya persis seperti orang-orang yang engkau sebutkan tadi…”

Pemuda A : “Sudah kuduga… Untunglah saya tidak jadi masuk dan terburu-buru tinggal di kota ini. Terima kasih Guru….”

Pemuda A segera berlalu dari hadapan Opung Toba dan Samosir, melanjutkan perjalanannya mencari kebahagiaan hidup dan berusaha menemukan tempat bermukim orang-orang yang memiliki karakter yang sesuai dengan kemauannya.

Tidak berselang lama, datanglah Pemuda B berjalan kaki menjumpai mereka yang masih asyik bermain catur. Dengan menyandang tas butut, pemuda B melangkah perlahan ke arah Opung Toba.

Pemuda B : “Benarkah Guru adalah Opung Toba yang sangat terkenal kearifannya?”

Opung Toba tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Beliau membetulkan jubahnya yang sedikit tersingkap karena hembusan angin.

Pemuda B : “Saya baru saja meninggalkan kota kelahiranku karena ingin berdagang di tempat lainnya. Saya tidak ingin menjadi pesaing bagi mereka yang sudah berdagang di kotaku. Saya hendak tinggal dan menetap di kota ini. Bagaimanakah karakter penduduk di kota ini, Guru…?”

Tanpa menjawab pertanyaan, Opung Toba malah balik bertanya kepada pemuda B : “Bagaimana karakter orang-orang yang baru saja engkau tinggalkan…?”

Pemuda B menjawab dengan menunjukkan wajah berseri-seri : “Saya senang sekali tinggal dan menetap di kotaku. Semua orang yang di sana baik-baik, ramah, penuh pengertian dan saling membantu. Kami menjunjung tinggi sikap toleransi dan setia kawan. Sebenarnya saya merasa amat berat meninggalkan mereka, namun saya takut jika berbisnis di sana, akan mengganggu pedagang yang terlebih dahulu berjualan di sana…”

Opung Toba : “Wah… Wah… Kebetulan sekali… Di kota inipun banyak orang memiliki karakter dan sikap yang seperti kamu sebutkan tadi. Silakan tinggal dan menetap di kota ini. Berdagang dan berbisnislah dengan baik dan jujur, wahai pemuda yang baik hati…”

Mendengar jawaban dan penjelasan Opung Toba, Samosir merasa keheranan. Dia bingung dengan sikap Opung Toba yang dirasanya plin plan. Dia menganggap Opung Toba adalah seorang yang pemilih, hanya menginginkan orang baik masuk dan menjadi penghuni kota ini.

Sepeninggal pemuda B, Samosir bertanya kepada Opung Toba : “Maaf Guru… Saya heran dengan sikap Guru. Mengapa untuk pertanyaan yang sama dari dua orang yang berbeda, Guru justru memberikan jawaban dan solusi yang berbeda?”

Opung Toba tertawa terbahak-bahak… Kemudian beliau menerangkan maksudnya : “Tidak ada manusia yang memiliki karakter yang persis sama. Pada dasarnya sifat dan tabiat manusia itu berbeda-beda. Jika seorang manusia selalu membawa pemikiran yang tidak baik, maka sepanjang hidupnya pemikiran yang tidak baik itu akan mengikutinya kemanapun dia pergi. Jika dia tidak mau mengubah perangainya, maka dimanapun dia berada, tidak akan ada yang mau mendekatinya. Kebahagiaan selalu menjauh dari hidupnya….”

Samosir masih penasaran dan bertanya : “Mengapa Guru tidak menasehati pemuda A untuk mengubah sikap buruknya..?”

Opung Toba : “Saya tidak yakin akan berhasil menasehatinya. Biarlah dia terus mencari orang-orang baik, mencari kebahagiaan versi pikirannya. Yakinlah, dia akan gagal. Setiap kegagalan akan membuat dirinya menjadi lebih baik dan dengan sendirinya akan mengubah pola pikirnya yang kurang baik itu…”

Samosir : “Bagaimana jika dia tidak mau berubah…?”

Opung Toba : “Percayalah, setelah semua yang diinginkan tidak tercapai, maka dia akan kembali kepadaku. Di situlah saya akan memberikan wejangan dan nasehat hidup. Saat dia masih merasa hebat dan angkuh, tidak ada gunanya bagiku memberikan nasehat. Kita bagaikan menabur garam di lautan. Nah, ketika dia mulai merasa jenuh, tertekan dan seperti kehilangan pegangan, maka nasehat dari orang-orang yang dipercayainya akan lebih mudah dicernanya…”

Samosir : “Saya sudah mengerti Guru. Maafkan tadi saya sempat menilai Guru bukanlah seorang yang bijaksana…”

Opung Toba : “Ayo, lanjutkan langkahmu… Tiga langkah ke depan, rajamu bakal keok…”

Sobatku yang budiman…

Sangat sukar bagi kita untuk mengubah tabiat dan karakter orang lain, apalagi mereka yang tidak dikenal. Akan jauh lebih mudah, jika kita sendiri yang mengatur hati dan pikiran serta mengubah sikap dalam pergaulan agar dapat diterima dengan baik oleh orang-orang yang berada di lingkungan sekitar kita.

Jangan terlalu berharap dan menginginkan semua orang yang dijumpai adalah orang baik, sebab di antara orang-orang baik, selalu terselip orang-orang yang tidak baik. Inilah pelajaran hidup yang amat berguna bagi kita untuk belajar, meneladani perilaku terpuji dan menjauhi perbuatan yang tercela.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #orangbaik #angkuh Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, NASEHAT OPUNG TOBA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s