“KARATEKA BERKAKI SATU”

<Minggu, 15 Januari 2017 OOR 09:25>

Emon adalah seorang remaja pria yang menetap di sebuah perkampungan miskin, dekat lereng pegunungan. Sejak lahir, Emon hanya memiliki sebuah kaki, sangat berbeda dengan orang normal pada umumnya.

Karena kondisi tubuhnya yang cacat, seringkali Emon mendapat ejekan dan cemoohan dari teman-temannya. Mereka mengolok-olok Emon dengan kasar. Walaupun sering di-bully, Emon tidak pernah mengeluh ataupun membalas perlakuan buruk mereka. 

Suatu hari, saat pulang dari sawah, Emon kembali digoda dan diejek oleh beberapa pemuda kampung. Secara kebetulan ayah Emon melihat kejadian ini. Beliau tidak menerima buah hati kesayangannya menjadi korban hinaan. Sambil mengacungkan cangkulnya, ayah Emon melabrak para pemuda iseng tersebut dan mengancam mereka untuk tidak mengulangi perbuatannya, jika tidak ingin disakiti olehnya.

Setelah kejadian ini, ayah Emon berniat mengirim Emon ke kediaman seorang temannya yang memiliki keahlian bela diri karate. Dia tidak ingin Emon mendapat perlakuan buruk lagi oleh siapapun juga. 

Keesokan harinya, Emon diantar ke kediaman Master Tele, mantan juara karateka tingkat nasional. Setelah menceritakan semua keinginannya, ayah Emon mengikhlaskan Emon untuk tinggal dan menetap bersama Master Tele selama beberapa waktu ke depan.

Awalnya Emon merasa risih dan tidak percaya diri dengan kondisi tubuhnya yang hanya berkaki satu. Dia tidak yakin akan mampu menguasai beragam jurus karate. 

Emon : “Master, bagaimana mungkin saya yang cacat ini akan menjadi seorang karateka. Sedangkan seorang normal saja, belum tentu mampu menjadi seorang pendekar karate?”

Master Tele : “Jika saat ini kamu masih bimbang, silakan kamu angkat kaki dari rumahku. Pulanglah kembali ke kampungmu dan biarkan orang-orang terus menghina dirimu…”

Emon : “Tapi saya bukan manusia normal…”

Master Tele : “Sekarang saya mau tanya, apakah kamu ingin seumur hidupmu terus menerus dibully orang? Jadi lelaki kok begitu lemah…?”

Emon terhenyak dengan pernyataan Master Tele yang menohok batinnya. Kepercayaan dirinya mulai timbul. Dia tidak rela menjadi korban hinaan selamanya. Emon bertekad untuk mempelajari dan menguasai semua jurus karate yang akan diajarkan Master Tele.

Emon : “Maafkan saya, Master… Mulai sekarang saya akan mengikuti semua perintahmu. Saya pasti dapat menjadi seorang karateka tangguh walaupun hanya berkaki satu…”

Master Tele : “Nanti saya akan membuatkan sebuah kaki palsu untuk menyanggah tubuhmu. Mulai besok kamu harus mengikuti semua arahanku. Tidak boleh menyerah, apalagi sampai patah semangat…”

Emon : “Siap Master… Saya pasti tidak akan mengecewakan Master dan ayahku…”

Dengan kondisinya yang hanya mengandalkan kaki kanan sebagai tumpuan, Master Tele mengajarkan Emon sebuah jurus, yang mengandalkan kegesitan dan kekuatan kedua tangannya untuk melindungi kaki kirinya yang cacat. Namun, setelah setahun, Emon masih belum sanggup menguasai jurus tersebut, masih lemah, belum bertenaga dan terlalu lambat.

Memasuki waktu satu setengah tahun, barulah Master Tele menyatakan Emon sudah cukup mahir. Emon merasa sangat gembira dan berharap Master Tele akan mengajarinya jurus lain yang lebih hebat lagi. Sejujurnya, selama ini, dia merasa sangat bosan karena mengulang-ngulang jurus tersebut. Walau kadang dirasa sudah bagus sebelumnya, namun Master Tele masih tetap menganggapnya belum lulus.

Sekarang Emon merasa lega dan mempunyai pengharapan lebih jauh. Setengah tahun telah berlalu, namun Master Tele masih belum mengajari jurus baru kepadanya. 

Akhirnya, Emon memberanikan diri untuk menanyakan hal yang mengganjal hatinya : “Master, sudah dua tahun saya mempelajari jurus ini. Setengah tahun lalu, Master sudah menyatakan saya telah berhasil menguasainya dengan baik. Kapan Master akan mengajari jurus baru kepadaku?”

Master Tele : “Kamu merasa sudah menguasai jurus ini? Baiklah… Dua bulan lagi saya akan mengirimkan dirimu ke sebuah pertandingan….”

Keraguan muncul dari mimik wajah Emon. Dalam hati dia membatin : “Bagaimana mungkin saya yang berkaki satu harus bertanding dengan lawan yang berkaki dua? Apakah Master hanya ingin menguji keberanianku? Okelah, saya akan mengikuti semua perintah Master…”

Emon berharap dalam jangka waktu dua bulan sebelum pertandingan, Master Tele akan mengajari jurus baru, jurus pamungkus yang hebat, untuk menaklukkan lawan-lawannya. Emon terus menunggu dan menunggu terus, namun belum ada tanda-tanda Master Tele mengajari jurus baru. Dia hanya disuruh untuk giat berlatih dengan jurus yang ada sebelumnya. 

Akhirnya Emon tidak sabar. Tiga hari sebelum pertandingan, Emon bertanya kepada sang Master : “Master, mengapa tidak mengajari saya jurus baru apapun? Bagaimana saya mampu berlaga dengan hanya menguasai satu jurus? Mungkinkah saya menang dengan satu kaki dan satu jurus saja?”

Master Tele hanya tersenyum dan berkata : “Teruslah bertahan, gerakkan tanganmu untuk menangkis serangan lawan, lindungi kaki kirimu yang lemah. Setelah lawanmu lelah, kamu tinggal arahkan tinjumu ke perut mereka….”

Singkat cerita, berbekal petunjuk dan arahan dari Master Tele, Emon berhasil mengalahkan seluruh lawan-lawannya di babak penyisihan, walaupun durasi setiap pertandingan berlangsung begitu panjang, melebihi waktu normal sebuah pertandingan. Emon berhasil masuk ke putaran final dan harus menghadapi juara bertahan tahun lalu.

Sebelum memulai pertandingan final, Emon bertanya lagi : “Master, lawanku kali ini adalah musuh yang amat tangguh. Jika hanya dengan menggunakan jurus yang Master ajarkan, saya yakin dia pasti akan dapat membaca kelemahan jurusku. Mohon beri petunjuk…”

Master Tele : “Persis seperti dugaanmu. Kali ini, lawan tandingmu pasti akan menyerang kaki kirimu. Kamu akan sangat kewalahan…”

Emon : “Jadi saya harus bagaimana…?”

Master Tele : “Jangan gentar dan cobalah untuk bertahan. Fokuslah dengan gerakan kakinya yang gesit. Kelemahanmu adalah keunggulanmu. Saat dia terus menerus menyerang kaki kirimu, kamu hanya perlu mundur selangkah dan secepat kilat, masukkan kepalan tangan kananmu ke tubuhnya. Manfaatkan kaki kirimu untuk memancing tubuhnya maju ke depan. Hanya itu saja sudah cukup untuk mengantarkan dirimu menjadi sang juara…”

Sang lawan memang sangat hebat. Kedua tangan dan kakinya selalu bergerak cepat untuk menebas kaki kiri Emon. Dia bukan hanya ingin mendapatkan nilai dengan memasukkan pukulan ke tubuh Emon, namun terlihat jelas bagaimana dia amat bernafsu untuk mencederai kaki kiri Emon.

Setelah melalui perjuangan heroik, berkat teriakan pengarahan dari Master Tele yang tiada henti, akhirnya Emon berhasil mengakhiri pertandingan dengan menghujamkan sebuah pukulan telak ke perut lawannya hingga dia tidak mampu lagi meneruskan pertandingan, terutama karena sakit dan kelelahan.

Emon pulang ke rumah dengan dada terbusung. Ayah Emon menyambut kepulangan putera semata wayangnya dengan penuh kegembiraan. Mereka merayakan kemenangan dengan mengundang seluruh tetangga, kerabat dan handaitaulan.

Emon sekarang bukan lagi Emon dulu yang selalu mendapat cibiran dan bully dari pemuda kampung. Saat ini, seluruh orang menaruh hormat kepadanya dan memohon kepada Emon untuk mengajarkan ilmu bela diri karate kepada para pemuda di kampungnya.

Sobatku yang budiman…

Banyak orang larut dalam kesedihan saat mengetahui ada kelemahan yang dimiliki dalam hidup ini. Padahal, sesuatu yang disangka orang sebagai sebuah kelemahan, justru dapat dimanfaatkan menjadi keunggulan yang nyata. Hidup ini tidak memerlukan banyak jurus untuk sukses. Tidak selamanya dengan menekuni beragam bisnis, seseorang pasti akan menoreh kesuksesan.

Kita cukup menguasai satu bidang. Bukan hanya menguasai saja, bahkan menjadi expert (ahli) dalam bidang usaha tersebut. Satu bidang saja, yang ditekuni dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian, sudah akan membuat kita menjadi pemenang.

Buat apa menggeluti banyak bidang usaha, namun tidak ada satupun yang membawa kesuksesan? Toh, kadang untuk menguasai satu bidang saja harus menghabiskan waktu yang begitu panjang dan melelahkan. Itupun belum menjamin keberhasilan, jika pikiran kita masih tergiur oleh bidang lain yang terlihat begitu menguntungkan. 

Setialah kepada apa yang menurut kita baik dan pantas untuk kita kuasai. Itu saja.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #yakin #setia #konsisten Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s