“SIKAP OPTIMIS”

<Sabtu, 14 Januari 2017 OOR 08:41>

Semua orang pasti pernah mengalami masalah dalam hidupnya. Ada yang dirasa begitu ringan dan mudah untuk diselesaikan, namun tidak jarang, masalah yang datang menerpa begitu dahsyat bagaikan hantaman gelombang tsunami.

Makan tidak selera, tidur tidak nyenyak dan malas melakukan aktivitas apapun selain terus menerus berkutat memikirkan pemecahan permasalahan yang sedang dihadapi. Ada yang bersikap optimis dan tidak sedikit yang justru menyerah dalam sikap yang pesimistis.

Padahal, salah satu hal yang dapat menjadi kekuatan super dari dalam diri kita adalah sikap optimis. Mereka yang optimis, pastilah memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses dan melewati permasalahannya dengan baik, daripada mereka yang berjiwa pesimis. 

Sikap optimis bukanlah seperti garis lurus ataupun garis menanjak ke atas. Pergerakannya akan seperti gerakan gelombang naik dan turun. Di saat sedang memupuk rasa optimis, sebuah peristiwa atau pendapat negatif dari orang lain, seringkali dapat melunturkan sikap optimis yang ada.

Meski sikap optimis ini dapat dimiliki oleh siapa saja, namun masalahnya, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda dalam mempertahankan sikap optimis. Bertahan untuk tidak goyah, menggenggam dan memeluk erat sikap optimis itu, yakin dengan kemampuan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

Sesungguhnya, sikap optimis itu tidak terlalu sulit untuk dipelajari, asalkan ada kemauan dan konsistensi, dibarengi dengan usaha yang pantang menyerah. 

Berikut ini akan disampaikan beberapa tips cara berpikir orang yang optimis :

1.  Berpikir Positif

Orang yang optimis selalu berupaya melihat setiap masalah dari sisi positif (baik), walaupun orang-orang di sekitarnya berpikir negatif. 

Zuki, seorang pemuda mengalami masalah bertubi-tubi dalam satu hari. Paginya, dia terlambat masuk kerja karena harus mengantar tetangganya ke rumah sakit. Akibatnya Zuki mendapat teguran keras dari atasannya. Siangnya, kehilangan dompet karena tercecer di jalan. Sorenya, Zuki mendapat makian dari pengguna jalan yang tidak sabaran.

Menghadapi ketiga masalah ini, Zuki tidak menunjukkan sikap sedih, tidak marah apalagi sampai merasa pesimis melanjutkan hidup hanya karena dimarahi atau kehilangan dompetnya.

Zuki melihat dari sisi positif. Melalui teguran dari atasannya, Zuki menganggap atasannya begitu memperhatikan dirinya. Melalui musibah kehilangan dompet, Zuki berharap semoga uang yang berada di dalam dompetnya dapat bermanfaat bagi mereka yang sedang kesulitan. Melalui dampratan dari pengguna jalan, Zuki berharap mereka akan menjadi lebih tenang dalam berkendara setelah mengeluarkan uneg-unegnya. Biarlah dia menjadi tumbal kemarahan orang lain.

Apa yang kita rasakan sangat bergantung dari bagaimana cara kita berpikir. Kita selalu dapat memilih apa yang kita pikirkan. Semua kejadian buruk, pasti ada sisi positifnya. Buat apa merengut dalam kesedihan jika memang kejadian itu sudah berlalu?

2.  Mengambil Hikmah Pembelajaran

Seperti cerita Zuki di atas, melalui dampratan atasannya, Zuki menganggap atasannya begitu memperhatikan dirinya. Hal ini melecutnya untuk bekerja lebih giat lagi, agar mendapat penilaian positif. Melalui musibah kehilangan dompet, Zuki berjanji untuk bersikap lebih hati-hati lagi, tidak sembrono. Melalui dampratan pengguna jalan, Zuki merasa mendapat pelajaran hidup untuk selalu bersabar dalam menghadapi kemarahan maupun situasi yang tidak mengenakkan hati.

Selalu ada hikmah pembelajaran dari setiap kejadian yang kita alami, termasuk dari kejadian buruk yang tak menyenangkan. Jika kita mampu belajar darinya, maka sebenarnya sesuatu yang kita alami bukanlah sebuah kejadian buruk. Toh, ada yang dapat diambil manfaatnya. Bukankah manusia baru insaf dan bertobat setelah berbuat suatu kesalahan? 

Kita sering mengabaikan sesuatu yang penting dalam hidup ini. Setelah diberi sakit, barulah kita belajar tentang pentingnya memelihara kesehatan. Setelah jatuh bangkrut, barulah kita belajar tentang kesederhanaan. Setelah berpisah, barulah kita belajar tentang pentingnya meredam sikap egois dan memperbanyak kasih sayang.

3. Memupuk Harapan dan Memanfaatkan Peluang

Orang yang optimis selalu memiliki harapan yang baik dari setiap kejadian dalam hidupnya. Mereka akan memanfaatkan setiap peluang yang mungkin muncul dari kejadian tersebut. Mereka yakin bahwa selama ada kehidupan maka pasti ada harapan. 

Jika kita tidak lagi mampu berharap kepada diri sendiri, tidak ada salahnya meminta bantuan kepada kerabat dan sahabat terdekat. Tentunya dengan cara elegan dan tidak sampai merendah diri.

Jika tidak ada yang dapat diharapkan lagi, maka berharaplah kepada Tuhan dengan penuh ketulusan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan untuk berbuat apa saja bagi kehidupan kita. Semakin kuat harapan kita maka hidup kita pasti akan semakin baik. 

Sobatku yang budiman…

Hidup ini memang tidak mudah, namun dengan memupuk rasa optimis maka hidup kita pasti akan dimudahkan. Hidup ini terasa begitu menyedihkan dan penuh penderitaan bagi mereka yang selalu berkubang dalam sikap pesimis.

Sikap optimis, mungkin tidak akan menyelesaikan masalah yang ada, tidak serta merta membuat kita terlepas dari berbagai lilitan masalah, namun sikap optimis ini pasti akan sangat membantu dan memudahkan kita dalam menghadapi masalah yang ada.  

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #optimis Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s