“NAMA BAIK”

<Sabtu, 24 Desember 2016 RPOST130316 10:46>

Di suatu kota, hiduplah sebuah keluarga kecil bahagia. Sepasang suami isteri dengan puteri tunggalnya, Epel.

Suatu hari Epel disuruh ayahnya untuk berbelanja barang di toko, milik seorang saudagar kaya yang terkenal pelit dan penuh perhitungan.

Epel, seorang anak rajin berusia 12 tahun, tidak pernah menolak tugas yang diberikan sang ayah. Namun kali ini, ayahnya tidak memberikan uang untuk berbelanja barang yang diperlukan.

Timbul rasa enggan, ketika harus berhutang kepada pemilik toko. Epel sebenarnya takut untuk ke sana dengan tidak membawa uang, namun karena ayahnya sedang kurang enak badan, sehingga dengan sangat terpaksa Epel harus mengikuti perintah sang ayah.

Tiba di toko tersebut, hati Epel berdegub dengan kencang, takut jika pemilik toko menolak permintaannya untuk berhutang. Terlebih lagi jika sampai dihina dan dimaki olehnya.

Kejadian yang masih melekat di ingatannya, tatkala pemilik toko melihat dengan mata tajam, setajam sembilu ke arah teman-temannya saat mereka memohon untuk berhutang. Pemilik toko berkata : “Apakah pantas kalian diberi hutang? Coba dulu bercermin yah…”

Kata-kata pedas itu begitu membekas dalam benaknya hingga saat ini.

Saat barang belanjaannya sudah dimasukkan ke dalam keranjang, Epel segera menuju ke kasir. Dengan nada perlahan Epel berkata : “Saya ingin membeli semua barang belanjaan ini, tapi saya tidak membawa uang dan ingin berhutang dulu…”

Kasir melihat Epel dengan muka tidak bersahabat. Pembeli lain yang berdiri di belakangnya, lebih menampakkan muka sinis kepada Epel.

Kasir tersebut berkata dengan ketus : “Kalau tidak membawa uang, mengapa datang berbelanja…?”

Epel tertunduk dan malu sekali mendapat cemoohan seperti ini. Dunia terasa gelap karena hinaan yang begitu kasar.

Kasir : “Saya tidak yakin dapat memenuhi keinginanmu adik kecil. Tapi, sebentar… saya mau bertanya dulu kepada boss saya, pemilik toko ini…”

Kasir tersebut menelepon pemilik toko…

Tidak berapa lama keluarlah pemilik toko, kelihatannya baru selesai makan, terlihat dari butiran nasi masih melekat di pinggiran bibirnya. Mulutnya masih mengunyah-ngunyah makanan.

Pemilik toko berkata dengan lantang: “Siapa yang hendak berhutang…?”

Kasir menunjuk ke arah Epel yang sedang membelakangi pemilik toko karena takut.

Pemilik toko : “Heiii, kamu… adik kecil…. jangan membelakangi saya….”

Perlahan Epel mulai membalikkan badannya…

Saat mata pemilik toko mengarah ke Epel, seketika juga mengembanglah senyumannya. Tangan kekarnya meraih tubuh mungil Epel.

Sambil tertawa lebar, pemilik toko itu berkata : “Rupanya kamu yah… Puteri Bossana… Tentu saja kamu boleh berhutang. Ayahmu itu selalu dapat dipercaya. Tidak ada keraguan dari diriku kepada ayahmu. Ambil saja barang lain, jika diperlukan. Jangan sungkan-sungkan…”

Kasir dan para pembeli melongo, seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemilik toko yang terkenal kikir. Hihgga akhirnya mereka berbalik memandang dengan rasa hormat kepada Epel, Puteri Bossana.

Epel lebih tidak percaya lagi, namun elusan tangan halus dari pemilik toko ke rambutnya, segera membuyarkan semua keraguannya. 

“Puteri Bossana”, dua kata keramat ini telah berhasil mengubah pandangan orang sekelilingnya menjadi sebuah rasa hormat.

Sobatku yang budiman…

Sebelum mati, pohon pisang akan menyiapkan penggantinya yaitu tunas baru yang tumbuh di samping batang utamanya.

Sebelum kita menutup usia, alangkah mulianya jika kita meninggalkan reputasi dan nama baik buat orang sekeliling.

Perbuatan jahat akan selalu dikenang sebagai hal yang buruk dan dapat berimbas negatif bagi anak cucu kita.

Orang-orang akan mencibir keluarga generasi penerus kita dengan menganalogikan mereka melalui sebuah perumpamaan “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”.

Oleh sebab itu, berbuatlah amal kebaikan sebanyak mungkin, untuk didedikasikan kepada anak cucu. Janganlah kita mewariskan reputasi jelek dan nama buruk yang kelak akan menjadi beban mereka dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar mereka.

Hiduplah, seakan-akan kita akan meninggal besok. Artinya, perbanyaklah buah kebaikan semampunya.

Kesalahan masa lalu yang meninggalkan reputasi buruk akan terkikis sedikit demi sedikit melalui perbuatan baik secara kontinu dan berkesinambungan.

Belajarlah terus dan pantang menyerah dalam hidup ini. Karena nilai kebaikan yang kita tanam, akan dikenang orang sepanjang masa.

“Marilah kita menjaga reputasi dan nama baik semaksimal mungkin sebab nama baik yang terjaga, akan jauh lebih berharga daripada segunung harta kekayaan”

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #reputasi #namabaik Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

2 Responses to “NAMA BAIK”

  1. berbuat baik secara berkesinambungan atau tidak mengenal kata bosan saya pun percaya akan mengikis reputasi buruk karena pernah berbuat salah di masa lalu …

    Sebuah artikel yang menggugah … terima kasih sudah sharing 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s