“PENCERAHAN”

<Jumat, 23 Desember 2016 OOR 07:05>

Pada hakikatnya manusia selalu membutuh pencerahan dalam menjalani kehidupannya. Pencerahan dapat diperoleh melalui media apapun. Tidak terbatas pada satu sumber saja. Semua yang kita dengar dan kita baca dapat menjadi sumber pencerahan. 

Kita tidak boleh membatasi diri menerima pencerahan hanya dari satu sumber. Kita harus membuka cakrawala pemikiran untuk menerima sumber pencerahan dari segala penjuru

Pencerahan itu tidak memihak dan dapat bersumber dari agama dan keyakinan manapun. Yang membuat seseorang mendapatkan pencerahan bukan karena dia adalah penganut agama tertentu, namun karena hasil dari pencapaian. Kesanggupannya menerima pencerahan dengan akal sehat dan kewarasan, serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Agama merupakan salah satu sumber pencerahan. Namun, tidak jarang, agama itu justru menjadi sumber malapetaka. Gara-gara beda agama, hubungan sesama manusia memjadi rusak. Sebenarnya bukan agamanya yang salah, namun oknum yang gemar memainkan isu agama untuk kepentingannya, adalah pemicu kehancuran.

Pencerahan dapat terjadi di saat seorang pelaku spiritual, ikhlas melepaskan baju keduniawiannya. Menghilangkan ego dan tidak fanatik. Menyingkirkan dendam, kebencian dan permusuhan. Melenyapkan kemunafikan dan tetap rendah hati. Melawan perasaan takut dan khawatir. Melakukan puasa batin. Banyak melakukan amal kebajikan kepada sesama manusia tanpa melihat perbedaan.

Jika ego masih menyelimuti hidupnya dan rasa dendam, benci atau permusuhan masih mengendap di dalam hatinya, maka pencerahan itu pasti akan sulit diperoleh. Sebab Tuhan hanya akan memberikan pencerahan kepada manusia yang memiliki hati yang suci. Pencerahan itu turun langsung dari Tuhan. Namun, ilmu dan cara untuk mencapai pencerahan itu dititipkan melalui orang lain. 

Bila pencerahan yang ingin dicari itu ternyata dikirimkan pada diri seorang Pendeta atau seorang Bhikkhu, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, kita harus menerimanya. Begitu pula sebaliknya, bila pencerahan yang ingin dicari itu ada pada diri seorang habib atau seorang kyai, kita harus menerimanya dengan sukacita. 

Pencerahan yang diturunkan kepada seseorang tidak memandang suku, agama, ras, warna kulit, bangsa, kedudukan maupun kekayaan. Pencerahan tidak dapat dipolitisasi atau dijadikan ajang bisnis. Pencerahan itu tidak dapat diperjualbelikan. Bahkan pindah agama juga bukan merupakan solusi bahwa seseorang pasti akan mendapat pencerahan. 

Pencerahan itu merupakan hak prerogatif Tuhan, yang diberikan kepada orang-orang yang berniat mencari dengan sungguh-sungguh, yang bersedia menanggalkan kehidupan keduniawiannya. Seorang penerima pencerahan tidak memerlukan rumah yang mewah, mobil seharga milyaran atau pengikut yang banyak. Mereka akan mewarisi sifat dan perilaku kemuliaan dari Tuhan. Pencerahan itu bersekutu bersama orang-orang yang berhati damai dan selalu mengamalkan kebajikan. 

Sobatku yang budiman…

Bagiku agamaku, bagimu agamamu. Itu prinsipnya. Agama boleh berbeda, namun apa yang kita harapkan setelah kematian adalah sama. Tuhan, Sang Maha Pencipta adalah tetap sama. Bagi yang mengatakan Tuhan itu berbeda, itu dikarenakan mereka belum mengenal Tuhan. Bagi yang sudah mengenal Tuhan seutuhnya, pasti akan tahu bahwa Tuhan itu sama untuk semua umat manusia. Tuhan itu tidak berlogo, tidak beratribut dan tidak beragama. Tuhan itu tidak akan mampu ditelusuri oleh pikiran manusia, oleh kedangkalan dan kepicikan hati manusia.

Seseorang yang telah mencapai pencerahan, maka hidupnya akan damai dan penuh sukacita, tidak ada lagi rasa takut dan khawatir. Mereka tidak pernah takut dengan Tuhannya, karena yang mereka takutkan hanyalah ditinggalkan oleh Tuhan. 

Para peraih pencerahan, diharamkan untuk melakukan perdebatan tentang Tuhan. Yang harus dilakukan adalah memperbanyak amal ibadah dan kebajikan. Tidak boleh namanya pemaksaan kepada siapapun untuk mengikuti jalannya, semua harus mengalir seperti air. 

Sesungguhnya pencerahan merupakan anugerah tertinggi yang diberikan Tuhan kepada orang-orang terpilih. Pencerahan itu tidak dapat dibeli dengan uang sebesar apapun, namun bukan pula diberikan secara cuma-cuma. Pencerahan tiada bernilai. Tidak ada seorangpun yang sanggup membelinya dengan harta sebanyak apapun. 

Fisik boleh berbeda. Agama boleh berbeda. Jalan hidup boleh berbeda. Namun ketika mendapatkan pencerahan, semuanya pasti sama. Sama-sama bersumber dari yang satu. Tidak ada lagi namanya perbedaan. 

Pencerahan itu hanya akan diberikan kepada mereka yang memiliki hati yang suci, pikiran yang jernih dan bersih, pribadi yang patuh serta di dalam batin yang sanggup menyatukan antara ucapan dan perbuatan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #pencerahan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in AGAMA, RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s