“DURI DALAM KEHIDUPAN”

<Jumat, 16 Desember 2016 OOR 07:11>

Dua orang abang beradik bernama Opekiu dan Uvewe sedang mencari kayu di hutan. Saat perjalanan pulang, Uvewe mengaduh kesakitan sambil memegang kakinya.

Opekiu : “Ada apa adikku? Mengapa kamu menjerit kesakitan?”

Uvewe : “Tiba-tiba saya merasa kakiku sakit sekali. Sepertinya ada duri yang menusuk kakiku. Saya tidak mampu berjalan pulang ke rumah lagi…”

Opekiu : “Tenang saja… Sini biar abang periksa mana yang sakit…?”

Dengan menggeletakkan diri ke atas rumput, Uvewe menjulurkan kakinya ke arah Opekiu. Uvewe terus menerus menjerit dan mulai menangis ketakutan. Dia merasa sakit setengah mati.

Opekiu tersenyum melihat ulah adiknya yang dirasa terlalu berlebihan. Dengan tenang, Opekiu memeriksa kaki Uvewe dan mulai mencari sumber rasa sakit. Saat menekan-nekan kulit kaki adiknya, Uvewe kembali menjerit kesakitan.

Uvewe : “Aduh… Sakit sekali bang… Saya takut tidak dapat berjalan lagi…”

Opekiu : “Nyantai aja dik. Cuma duri kecil yang masuk ke dalam kulit kakimu. Biar saya keluarkan duri ini…”

Uvewe : “Gak mau bang… saya takut… Jangan congkel kakiku dengan pisau atau memotong kakiku dengan kampak. Saya takut sekali….”

Opekiu : “Adikku tersayang… Mana mungkin saya hendak membuatmu tersiksa karena duri ini. Tidak mungkin pula, saya sampai memotong kakimu… Kamu jangan panik. Hanya sedikit sakit saja… Kamu harus percaya dengan kata abangmu ini…”

Setelah mendengar ucapan yang meyakinkan dari Opekiu, akhirnya Uvewe mulai sedikit tenang. Tidak lagi berteriak-teriak mengaduh kesakitan. Ketakutan akan semakin parahnya luka di kakinya, sedikit terpupus oleh kalimat menenangkan dari sang abang.

Opekiu mengambil sebuah peniti di baju, yang digunakan untuk menggantikan kancing bajunya yang terlepas. Dengan penuh kehati-hatian, Opekiu berusaha mengeluarkan duri yang menusuk kaki Uvewe.

Tidak berapa lama kemudian, Opekiu berkata : “Sudah selesai.. Durinya sudah berhasil dikeluarkan. Sekarang coba kamu melangkah dan berjalan, apakah masih merasa sakit?”

Uvewe mengikuti perintah abangnya. Dan ternyata dia tidak lagi merasakan kesakitan saat melangkah. Dengan wajah tersenyum, Uvewe memeluk tubuh Opekiu, sembari berkata : “Makasih abang yang baik hati. Saya tidak merasa kesakitan lagi. Ayo, kita pulang ke rumah, hari sudah menjelang malam…”

Sobatku yang budiman…

Kejadian di atas, amat sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Beragam masalah datang menerpa, seringkali membuat kita menjadi sakit dan takut untuk melangkah. Bahkan tidak jarang kita hanya membiarkan masalah tersebut tanpa berniat untuk menyelesaikannya. Atau barangkali, kita menghadapinya dengan kepanikan, sehingga yang terjadi justru masalah tersebut semakin membesar dan beranak pinak.

Duri kecil yang menusuk di kaki, jangan menjadi alasan kita untuk berhenti melangkah. Berdiam diri, meratapi rasa sakit itu dan berharap rasa sakit itu akan hilang sendirinya tanpa mendapat pengobatan dan penanganan yang benar. 

Padahal untuk mengatasinya sangat sederhana, berhenti sejenak, tenangkan diri, keluarkan durinya dan selanjutnya kita dapat melanjutkan perjalanan kembali. Duri tersebut hanya mengganggu dan menusuk bagian sangat kecil dari kaki. Untuk menghilangkan durinya, tidak perlu sampai memotong kaki, karena itu akan menimbulkan rasa sakit yang semakin parah.

Tidak perlu membakar rumah hanya untuk mencari seonggok bangkai tikus yang mengganggu penciuman seisi rumah. Endus saja sumber baunya dan segera singkirkan bangkainya, maka bau menyengat yang tidak sedap pasti akan hilang.

Pergunakan kemampuan kita untuk melihat akar permasalahan dengan sejernih-jernihnya. Fokus dengan penyebabnya dan carilah solusi terbaik untuk mengatasinya. Penanganan yang tepat dan segera, akan sangat membantu menyelesaikan masalah itu. Bila perlu, kita dapat meminta bantuan kepada orang lain yang dapat dipercaya. 

Jangan pernah memandang masalah kecil dengan kaca pembesar, karena akan terlihat sangat besar dan terasa sulit dicari jalan keluarnya. Bakteri yang terlihat sangat besar di mikroskop ternyata tidak akan terlihat oleh mata biasa.

Jangan menyepelekan kemampuan diri sendiri dan memandang masalah itu sebagai sesuatu yang mustahil untuk diselesaikan.

Sesungguhnya, kita sendiri sering mengada-ada, bersikap lebay, hiperbola dan menjadikan masalah itu seolah-olah lebih besar dari keadaan yang sebenarnya.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF, KISAH OPEKIU DAN UVEWE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s