“DISTRIBUSI VIRUS KEBENCIAN”

<Selasa, 13 Desember 2016 OOR 08:32>

Belakangan ini, pemerintah baru memulai upaya penindakan terhadap para pelaku “hate speech” atau pelaku ujaran kebencian. Sudah banyak pelaku diringkus dan dijadikan tersangka. Walau terlihat sedikit lamban dan terlambat, setidaknya upaya ini harus diapresiasi dan kita dukung penuh demi terciptanya sistem demokrasi yang bebas namun bertanggungjawab.

Para pelaku yang dijadikan tersangka, ternyata lokasinya berada jauh dari lokasi target kebencian. Sebagai contoh, untuk mengacaukan kegiatan aksi damai umat Islam di Jakarta, pelakunya banyak bersumber dari luar Jakarta. 

Dengan memanfaatkan kemudahan teknologi, mereka tidak perlu memunculkan jati diri, bahkan dengan identitas palsu, para pelaku dapat memulai aksinya. Cukup dengan tidur-tiduran, lalu menggunakan gadget di tangan, mereka dapat mengirim berita fitnah, komentar menghasut dan gambar hoax, untuk mengajak dan membakar semangat orang lain untuk berbuat kerusuhan. Begitu mudahnya, sebuah virus kebencian disampaikan dan disebarkan melalui media sosial.

Sesungguhnya, kita ini adalah korban yang menjadi medium atau perantara siklus virus kebencian. Berita atau gambar yang di-sharing secara masif dan menjadi viral di media sosial, mau tidak mau, sedikit banyak, pasti akan mempengaruhi alam bawah sadar kita, apalagi dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang.

Kebanyakan penikmatnya adalah golongan yang tidak mau berpikir panjang, mengabaikan logika berpikir dan lemah secara pengetahuan. Bagi mereka, berita yang terkesan bombastis ini akan langsung dibagikan untuk dibaca oleh siapa saja, tentunya tanpa melakukan cross check atas kebenaran berita atau gambar tersebut.

Virus kebencian baru, mulai diproduksi secara massal hanya dalam waktu singkat. Sebelumnya kita hanyalah medium atau penikmat, sekarang menjadi seorang produsen yang memproduksi virus kebencian, sebab bagi orang lain, kita akan dianggap sebagai sumber berita. Selanjutnya virus kebencian ini akan terus beranak pinak, siklus kebencian akan saling mereproduksi diri. Jari dan gadget kita akan menjadi agen distribusi yang menghasilkan kebencian demi kebencian.

Begitulah seterusnya, virus kebencian akan menyebar bahkan lebih hebat dan cepat dari virus mematikan yang ada di muka bumi. Di balik semua ini, kita harus mengakui kelihaian para aktor intelektual yang menjadi pioner dan pembuat sebuah virus kebencian. Mereka yang menciptakan ideologi kebencian ini paham benar jika hanya dalam waktu beberapa detik saja, ideologi kebencian akan dengan mudah disebarkan melalui agen distribusi tanpa perlu dibayar sepeserpun. 

Para aktor intelektual adalah orang cerdas, pintar memanfaatkan situasi dan memiliki kecepatan berpikir yang luar biasa, namun sayangnya, hatinya sangat jahat. Mereka benar-benar mengetahui bahwa kebanyakan para netter dan penggila media sosial, sudah tidak lagi menggunakan nalar berpikir yang benar dan jernih. Dengan cerdik, mereka akan mempengaruhi psikologis para netter, mampu meyakinkan bahwa apa yang disebarkan adalah sebuah kebenaran, padahal palsu adanya.

Virus kebencian ini disebarluaskan melalui media sosial karena efeknya instan, segera, mudah dan murah. Jika dikemas berulang-ulang dan disebarkan oleh banyak orang (anggota kelompoknya sendiri) sehingga menjadi viral, dengan bahasa yang menarik, maka para pembaca akan gampang percaya dan ikut menyebarkan berita provokatif yang berselimutkan virus kebencian.

Sobatku yang budiman…

Saat ini, negara kita sudah diambang perpecahan. Virus kebencian dan bakteri intoleran sudah mewabah ke seantero negeri. Jika saja pemerintah masih tetap menganggap sepele, bukan tidak mungkin, dalam waktu tidak lama lagi, nama Indonesia akan tinggal menjadi kenangan. Negeri ini akan terpecah, terkoyak dan hancur berkeping-keping.

Kondisi ini memang sudah sedemikian darurat dan membutuhkan ketegasan pemerintah untuk mengatasinya. Kepiawaian aparat penegak hukum, harus dimaksimalkan untuk memburu kelompok dan aktor intelektual yang meracuni jiwa dan pikiran rakyat kita.

Apa yang diinginkan para pelaku terlihat begitu nyata, mereka berupaya memaksakan nafsu keinginan agar dapat berkuasa, menguasai semua sendi-sendi kehidupan di negeri ini. Mereka tidak ingin Indonesia ini aman. Mereka ingin menciptakan kekacauan besar demi kepentingan ekonomi dan kekuasaan. 

Aktor intelektualnya, perancang virus ideologi kebencian ini masih bebas lenggang kangkung, berkeliaran di luar sana. Mereka tidak akan pernah bosan dan lelah membangun perang ideologi dengan pemerintah Indonesia, dengan rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian dan Bhinneka Tunggal Ika.

Marilah kita terus merapatkan barisan dan saling berpengangan tangan dengan erat demi keutuhan negeri tercinta, Indonesia Jaya.

#firmanbossini #renungan #bhinnekatunggalika #NKRI Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in POLITIK. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s