“PENGORBANAN SEORANG KEKASIH”

<Sabtu, 10 Desember 2016 COR 08:36>

Emon dan Dora adalah sepasang kekasih yang serasi, sejoli yang ganteng dan cantik, walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakang dan status sosialnya.

Dora berasal dari keluarga kaya raya dan terhormat. Sedangkan Emon hanyalah keluarga petani miskin yang menggantungkan kehidupannya dengan menanam padi di sawah milik tuan tanah.

Dalam kehidupan asmara, Emon sangat mencintai Dora, kekasih yang sudah dipacarinya selama dua tahun. Jarang sekali mereka terlibat dalam pertengkaran.

Untuk menunjukkan kecintaannya kepada Dora, Emon rajin melukis wajah Dora dalam kertas putih berukuran kecil. Tidak terasa sudah seratus lembar lukisan sebagai hadiah termurah untuk sang kekasih. Dora amat menyukai semua pemberian Emon. Dora menempelkan dan menggantungkan semua lukisan mini tersebut di dalam kamarnya.

Pada setiap lukisan kertas tersebut, Emon menuliskan beragam harapan dan impiannya kepada Dora, menambahkan dengan kalimat dan puisi cinta yang begitu indah.

Beberapa ungkapan dan harapan diungkapkan Emon kepada Dora : 

“Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”.

”Semoga Tuhan melindungi kekasih tercintaku dari segala mara bahaya”.

”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”.

Suatu hari Emon melukis sebuah gambar wajah Dora dengan senyuman yang manis sekali. Lukisan kali ini, dibuat dengan menambahkan border di semua sisi lukisan, ditambah dengan warna-warna yang terlihat menyolok dibandingkan lukisan yang terdahulu.  

Ketika memberikan lukisan kertas ini, Emon berkata kepada Mimi: “Sayangku, ini adalah lukisan kertasku yang ke-101. Dalam lukisan ini, aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara kita berdua. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga cinta kita tetap abadi, senantiasa saling mencintai sampai menjadi kakek nenek dan hingga Tuhan memisahkan kita berdua…“

Saat mendengar Emon berkata demikian, meledaklah tangisan Dora. Ia berkata kepada Emon : “Sayangku, aku senang sekali mendengar semua itu, namun sekarang aku telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku membutuhkan uang dan kekayaan, seperti keinginan orang tuaku untuk mendapatkan menantu yang kaya raya. Maafkan diriku…”

Mendengar jawaban dari sang pujaan hati, Emon merasa bagaikan disambar geledek. Emon mulai tersulut emosinya dan menuduh Dora sebagai wanita matre, gadis yang tidak berperasaan, kejam, munafik dan berbagai hujatan yang sangat melukai perasaan Dora. 

Dora hanya diam membisu dan berurai air mata tanpa sanggup menatap kebengisan mata Emon. Dan akhirnya Emon meninggalkan Dora menangis seorang diri.

Akibat ucapan Dora yang amat menyinggung perasaannya, Emon mulai merajut semangatnya untuk menjadi seorang yang sukses. Dia pun bertekad dan berjanji dalam dirinya : “Saya harus menjadi orang sukses, hidup sebagai orang kaya dan terhormat”.

Sikap tidak terduga dari Dora dijadikan Emon sebagai pelecut semangat untuk maju dan menjadi orang yang terpandang.

Singkat cerita…

Dalam hitungan bulanan, upaya Emon mulai menunjukkan hasil. Berkat keuletan, kesungguhan hati dan loyalitas kepada perusahaan, Emon diangkat menjadi kepala cabang. Tidak sampai dua tahun, Emon telah diangkat menjadi seorang manajer. Perusahaannya berkembang sangat pesat dan menjadi perusahaan yang bonafide.

Buah kerja keras dan ketekunan membawa Emon menjadi seorang eksekutif muda yang sukses. Selanjutnya Emon juga mendapat 50% saham perusahaan, yang diperoleh dari pemilik perusahaan tersebut. Sekarang ini, tidak seorangpun di kotanya yang tidak mengenal Emon. Ia adalah sosok pemuda yang menjadi ikon bintang kesuksesan.

Suatu hari Emon berkeliling kota dengan mobil mewahnya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. 

Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Emon merasa penasaran dan berusaha menyetir mobilnya mendekati pasangan suami istri itu. Emon terkejut bukan kepalang ketika mengetahui bahwa pasangan suami istri itu adalah orang tua Dora, orang tua mantan kekasihnya, beberapa tahun silam.

Emon mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang tua tersebut, namun hati nuraninya melarang dirinya untuk melakukan pembalasan. Akhirnya Emon membatalkan niatnya dan terus membuntuti langkah kedua orang tua Dora.

Emon merasa heran saat melihat orang tua Dora sedang memasuki sebuah makam mewah yang tertutup, makam yang dilapisi atap plafon yang indah. Makam tersebut dipenuhi oleh begitu banyak lukisan bergambarkan wajah Dora. 

Emon semakin terkejut ketika mendapati foto Dora berada di atas pusara. Emon segera bergegas turun dari mobil dan berlari ke arah makam Dora untuk menemui kedua orang tua Dora.

Kedua orang tua Dora sangat terperanjat melihat kehadiran Emon. Ayah Dora berkata : ”Nak Emon, sekarang kami sudah jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Dora yang terkena kanker rahim ganas. Hanya makam inilah harta kami satu-satunya…. Kami membangun makam mewah ini dengan sisa-sisa harta yang tersisa sebagai rumah peristirahatan almarhum puteri tunggal kami yang tercinta”.

Ibunda Dora mengambil sesuatu di bawah tumpukan boneka-boneka di samping pusara dan menyerahkan kepada Emon sambil berkata : “Sebelum meninggal dunia, Dora menitipkan sebuah surat kumal kepada kami untuk diberikan kepadamu jika suatu saat kami bertemu denganmu.”

Emon membaca surat sambil berlinang air mata. 

“Sayangku…Cintaku…Emon…. Maafkanlah diriku…. Aku terpaksa membohongimu. Saat terakhir berjumpa denganmu, diriku sudah mengidap kanker rahim ganas yang tidak mungkin dapat disembuhkan lagi. Aku tidak mau mengatakan hal ini kepadamu pada saat itu”.

Emon menyeka air matanya yang mengucur dengan deras dan melanjutkan membaca surat dari wanita yang paling dikasihinya hingga kini.

“Jika sampai aku memberitahukan berita buruk ini, maka kamu pasti akan bersedih dan hidup dalam keputusasaan. Kenyataan pahit ini akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu, kekasih hatiku…. Semua ini kulakukan demi masa depanmu… Aku sangat mencintaimu, Emon…“

Setelah selesai membaca surat itu, meledaklah jeritan tangis Emon. Dia meraung sekuat-kuatnya sambil menjatuhkan seluruh tubuhnya ke atas pusara Dora. 

Emon terisak : “Dora…mengapa kamu tidak berterus terang tentang penyakitmu? Semua pasti ada jalan. Kamu tinggalkan diriku dalam kehampaan. Apalagi arti hidupku sekarang. Aku tidak membutuhkan uang dan jabatan… Aku hanya menginginkan dirimu seorang. Dora….aku rindu sekali kepadamu. Candamu, perhatianmu dan kasih sayangmu masih membekas dalam sanubariku. Doraaaa….!!!!”

Emon merasa sangat menyesal karena selama ini telah berprasangka buruk terhadap Dora. Emon merasa dirinya sangat kejam karena sudah menghakimi seorang gadis suci dan baik hati.

Emon merasakan betapa hati Dora teriris-iris ketika dirinya mengeluarkan caci maki dan sederetan kalimat cemoohan yang kasar, menuduh Dora sebagai seorang gadis matre, kejam dan tak berperasaan. 

Emon seperti dapat merasakan derita kesepian Dora, seorang diri berada dalam kesakitan hingga maut menjemputnya. Padahal Dora begitu mengharapkan kehadirannya di saat-saat akan melewati waktu yang penuh penderitaan itu. Tetapi ternyata dirinya lebih memilih untuk meninggalkan Dora sendirian. Dora rela mengorbankan perasaannya agar Emon tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.

Sobatku yang budiman…

Kisah tentang pengorbanan seorang kekasih ini patut untuk direnungkan bersama dan teladani sebagai pembelajaran hidup. Sudahkah kita berjuang dengan sungguh-sungguh dan ikhlas mengorbankan sebagian hidup kita untuk mereka yang benar-benar kita cintai?

Di saat mereka masih berada di sisi kita, sudahkan kita mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayang untuk mereka?

“Cinta bukanlah sekadar aksi pelukan atau ciuman belaka. Namun lebih dari itu, ungkapan cinta yang sesungguhnya adalah kerelaan untuk berkorban demi kebahagiaan mereka yang kita sayangi, sosok yang sangat berarti dalam hidup kita”.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan #pengorbanan Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s