“BAHAGIA ITU”

<Jumat, 02 Desember 2016 OOR 07:22>

Bagi mereka yang miskin, bahagia itu ketika memiliki banyak uang dan harta melimpah.

Bagi mereka yang sakit, bahagia itu ketika memiliki tubuh yang bugar dan sehat.

Bagi mereka yang jomblo, bahagia itu ketika memiliki pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria dan setia.

Bagi mereka yang banyak pekerjaan dan kesibukan yang tidak berjeda, bahagia itu ketika memiliki waktu untuk liburan, merilekskan tubuh dan pikiran.

Bagi mereka yang lumpuh, bahagia itu ketika mereka dapat berjalan seperti orang normal. 

Bagi mereka yang buta, bahagia itu ketika mereka dapat melihat, dapat menikmati keindahan dunia.

Bagi seorang tunawisma, bahagia itu ketika memiliki rumah yang dapat melindungi dirinya dari panas terik matahari dan dinginnya angin malam yang menusuk tulang.

Bagi seorang pelajar, bahagia itu ketika berhasil meraih rangking pertama dan menjadi siswa teladan di sekolahnya.

Bagi seorang olahragawan, bahagia itu ketika berhasil meraih medali emas dan menjadi pemain terbaik dalam setiap turnamen yang diikutinya. 

Bagi seorang pengangguran, bahagia itu ketika mendapatkan pekerjaan yang baik dan bergengsi.

Bagi orang tua, bahagia itu ketika memiliki anak yang berbakti dan sukses dalam kehidupannya.

Bagi seorang pemabok, bahagia itu ketika memiliki persediaan minuman beralkohol yang banyak di rumah untuk dinikmati kapan saja.

Bagi ibu-ibu kaya, bahagia itu saat memiliki waktu dan uang yang banyak untuk kegiatan shopping, tanpa dilarang-larang oleh siapapun.

Bagi seorang politikus, bahagia itu ketika memiliki jabatan dan kekuasaan yang menjadikan hidupnya menjadi terhormat dan terpandang.

Bagi seorang selebritis, bahagia itu ketika memiliki popularitas dan bayaran setinggi langit untuk setiap aksi panggung, sinetron dan film yang dilakoninya.

Sobatku yang budiman…

Semua orang tentunya memiliki definisi kebahagiaan masing-masing, bergantung kepada apa yang ingin atau belum diperolehnya atau sesuatu yang telah hilang di kehidupannya sekarang. 

Kebahagiaan-kebahagiaan seperti contoh di atas sejatinya bukanlah makna kebahagiaan yang sesungguhnya karena relatif bergantung kepada keinginan masing-masing pribadi yang membutuhkannya, waktunya pendek dan berlangsung sementara. Bahagia seperti ini lebih tepat jika disebut sebagai kesenangan, kepuasan dan kegembiraan.

Saat semua keinginan sudah terpenuhi, pasti akan muncul lagi keinginan lain yang dianggap mewakili kebahagiaan. Hal ini akan berlangsung terus menerus hingga akhir hayat. Kita menjadi terbelenggu oleh keinginan yang tiada habis-habisnya. Jika sudah terpenuhi maka merasa sudah mendapatkan kebahagiaan semu. Jika gagal diperoleh maka merasa hidupnya penuh dengan penderitaan.

Sesungguhnya kebahagiaan sejati itu ketika kita memiliki rasa syukur atas semua yang sudah dimiliki saat ini, tidak serakah dan membatasi keinginan yang berkeliaran di pikiran. Mau dan mampu menikmati segala yang sudah tersedia dengan sebaik-baiknya.

Kebahagiaan seutuhnya saat kita memiliki hati untuk menyayangi dan mengasihi sesama manusia tanpa memandang perbedaan yang ada. 

Hanya dengan kasih sayang dan syukur yang dapat menghadirkan sukacita, kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan sejati dan seutuhnya dalam hidup ini.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s