“BERTERIAK SAAT MARAH”

<Jumat, 25 November 2016 OOR 09:05>

Suatu hari, sepasang suami isteri yang sedang berselisih paham datang ke kediaman Opung Toba untuk meminta pencerahan dan saran agar rumah tangga mereka selalu harmonis dan bahagia.

Opung Toba mempersilahkan mereka untuk mengeluarkan uneg-unegnya.

Isteri : “Saya merasa mulai dicuekkan olehnya. Seringkali suamiku telat pulang ke rumah, ntah apa yang diperbuatnya di luar sana. Bukan itu saja, sesampainya di rumah, dia langsung tidur tanpa mau mendengarkan keluhan dan ceritaku…”

Suami : “Saya juga kesal karena selalu dicurigai. Padahal saya sudah bekerja keras membanting tulang, sekuat tenaga mencari nafkah untuk keluarga…”

Isteri : “Namun sekarang kamu sudah berbeda. Tidak seperti waktu pacaran dulu yang penuh perhatian. Mana pernah kamu menelepon saya menanyakan kabarku lagi. Jangan-jangan kamu sudah punya selingkuhan…”

Sang suami mulai terbawa emosi : “Kamu jangan sembarangan bicara. Semakin hari kelakuanmu semakin aneh saja. Bagaimana saya bisa betah di rumah…”

Sang isteri tidak mau kalah dan mulai berteriak : “Nah kan… betul apa kataku. Kamu sudah bosan di rumah karena ada wanita lain…”

Sang suami membalas berteriak : “Kamu lebih baik diam saja, jangan sembarangan kalau bicara….”

Sang isteri berteriak histeris : “Kamu jahat…!!! Sudah berkata kasar kepadaku… Saya tidak terima dengan perlakuanmu…”

Opung Toba segera menengahi pertengkaran keduanya sebelum mereka mengeluarkan suara teriakan lebih keras lagi.

Opung Toba : “Mengapa orang suka berteriak ketika mulai emosi?”

Suami menjawab : “Saya berteriak karena mulai kehilangan kesabaran…”

Sang isteri menyeletuk : “Saya berteriak karena merasa tidak dipedulikan. Apa yang saya katakan, tidak lagi didengar olehnya, sepertinya kedua telinganya sudah tertutup dengan kotoran yang sangat banyak…”

Opung Toba tersenyum : “Mengapa harus berteriak kepada orang yang berada di sebelahmu? Begitu dekatnya kalian, mengapa harus dengan teriakan? Bukankah cukup dengan suara halus saja, maka apa yang disampaikan juga akan kedengaran?”

Kedua pasang suami isteri itu terdiam seribu bahasa. Mereka mencoba untuk memahami apa yang dikatakan Opung Toba yang terkenal kebijaksanaannya.

Opung Toba melanjutkan : “Saat dua orang sedang bertengkar, sebenarnya hati mereka berada sangat jauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar apa yang disampaikan dapat terdengar oleh orang di sebelahnya. Semakin marah dan emosi, maka semakin keras dia harus berteriak karena jarak kedua hati semakin jauh.”  

Sang isteri : “Sebenarnya bukan tidak terdengar, Guru… Dengan marah, saya ingin menunjukkan diri sedang tidak senang dan ingin diperhatikan…”

Opung Toba : “Apakah harus dengan berteriak? Kan bisa dengan kalimat santun dan sopan? Dengan sentuhan dan gestur tubuh yang gemulai? Saat ini hati kalian sedang jauh sekali, padahal kalian hanya bersebelahan. Begini… apa yang terjadi saat kalian sedang jatuh cinta? Apakah kalian berteriak saat mengungkapkan perasaan hati masing-masing? Kalian tidak berteriak dan berbicara lembut karena hati kalian sangat dekat. Jarak hati kalian berdua amatlah dekat atau bahkan berdempetan…”

Kedua pasangan menganggukkan kepala, mulai memahami makna dari setiap ucapan Opung Toba. Mereka saling berpandangan. Tanpa mereka sadari, kedua tangan mereka saling bergenggaman.

Opung Toba melanjutkan : “Jika sepasang suami isteri saling mencintai satu sama lain, mereka tidak lagi berbicara. Cukup dengan mengeluarkan bisikan dan saling mendekat dalam cinta kasih. Dan pada akhirnya mereka bahkan tidak perlu lagi berbisikan, cukup dengan saling bertatapan mata. Hanya dengan begitu saja, sudah dapat menceritakan seluruh isi hatinya. Sedekat itulah jarak antara dua insan yang saling mencintai…”

Sobatku yang budiman…

Saat sedang marah, seringkali seseorang sulit mengontrol dirinya dan tidak bisa menahan emosi yang sedang membelenggunya, ingin dikeluarkan sesegera mungkin agar hati menjadi plong. Namun ketika amarah tersebut meluap, tanpa disadari, telah menyakiti hati pasangan kita. 

Ketika sedang menghadapi sebuah masalah dalam hubungan percintaan yang membuat kita menjadi marah pada pasangan, berusahalah untuk tenang dan cobalah untuk menahan diri. Sebab tidak selamanya sebuah kemarahan dapat menjadi solusi terbaik, apalagi dengan mengeluarkan teriakan disertai makian dan sumpah serapah.

Meskipun sebagai manusia, amarah dan kekesalan adalah sebuah kewajaran dalam diri manusia, namun jangan menjadikan hal ini sebagai alasan untuk mengungkapkan amarah kita dengan semena-mena, yang pada akhirnya akan dapat menyakiti diri dan pasangan kita.

“Jika terjadi pertengkaran, jangan biarkan hati menjauh. Jangan mengucapkan perkataan yang membuat jarak kedua hati kian menjauh. Jika kita membiarkannya menjauh, suatu hari nanti, jaraknya mungkin tidak lagi bisa ditempuh.”

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in NASEHAT OPUNG TOBA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s