“MUDAHNYA MEMBERIKAN KRITIKAN”

<Rabu, 23 November 2016 OOR 09:18>

Dora, seorang gadis muda, baru saja menamatkan pelajaran menyanyi di bawah bimbingan seorang guru vokal di kotanya. Untuk menguji kemampuan bernyanyi, Dora merekam suaranya ke sebuah CD dan berniat memperdengarkan suaranya kepada orang lain. 

Setelah berupaya selama berjam-jam, barulah Dora berhasil merampungkan sebuah lagu yang sangat merdu. Dora ingin memperoleh komentar dari banyak orang, baik berupa kritikan maupun pujian. Hal ini dianggap penting, untuk mengevaluasi hasil jerih payahnya selama belajar menyanyi.

Hasil rekaman suara emasnya, akan diperdengarkan di sebuah taman bunga yang dikunjungi oleh banyak orang. Dora mengharapkan adanya komentar dari para pengunjung taman, mengenai kualitas dan kemerduan suaranya. 

Dora menuliskan beberapa kalimat di sebuah buku yang terletak di samping alat pemutar CD, sebagai berikut : “Saya telah berhasil merekam suaraku. Karena masih baru sebagai seorang penyanyi, saya mungkin melakukan banyak kesalahan dalam bernyanyi. Mohon kiranya bapak dan ibu sekalian dapat menuliskan saran di halaman buku ini jika menemukan kesalahan yang saya perbuat. Terima kasih…”

Dora pergi meninggalkan alat pemutar CD dan sebuah buku di atas meja. Dia berharap tidak ada yang memberikan kritikan karena merasa sudah memaksimalkan kemampuannya dalam bernyanyi. Jikapun ada yang berkomentar negatif, Dora berharap jumlahnya tidak banyak.

Saat sore menjelang, Dora kembali untuk melihat komentar dari para pengunjung. Hasilnya sungguh mengejutkan dirinya. Puluhan komentar mengisi halaman buku. Sedikit sekali yang memuji, sebaliknya yang memberikan kritikan jumlahnya sangat banyak.

Hal ini membuat Dora merasa sangat sedih dan nyaris berputus asa. Dora membawa buku tadi, lalu menemui gurunya sambil menangis. 

Dengan terbata-bata, Dora mengeluarkan uneg-unegnya : “Aku sungguh tidak berguna. Ternyata bakatku bukan di bidang tarik suara. Semua orang mencelaku, membuat aku merasa seperti orang yang tidak berguna. Saya sangat malu dan kecewa. Mulai saat ini saya akan berhenti menyanyi….”

Sang guru membelai rambut Dora, lantas berkata : “Kamu salah, anakku Dora. Akan saya buktikan bahwa kamu adalah calon penyanyi yang memiliki suara bagus. Suaramu sangat merdu, hampir tidak terdengar kekurangannya…”

Dora menatap mata gurunya : “Tapi mengapa banyak orang mencela diriku? Mengatakan suaraku tidak enak didengar..?”

Sang Guru tersenyum : “Banyak orang hanya pintar melakukan kritikan dan gemar mencela tanpa pernah mampu memperbaikinya, itupun kalau benar-benar terdapat kesalahan. Dengan gampangnya mereka menghina dan menuding orang lain tidak mampu, padahal mereka sendiri belum tentu mampu. Sekarang kamu ikuti saja perintahku dan jangan banyak bertanya. Besok pagi kita kembali ke tempat tadi dan meletakkan hasil rekaman suaramu persis seperti yang kamu kerjakan hari ini…”

Dora mengangguk dan mencoba untuk meyakini ucapan gurunya.

Keesokan paginya, Dora dan Sang Guru kembali ke lokasi terdahulu dengan membawa alat pemutar CD. Namun kali ini, sang guru turut membawa sebuah alat perekam suara.

Sang Guru meletakkan kertas yang bertuliskan : “Saya telah berhasil merekam suaraku. Karena masih baru sebagai seorang penyanyi, saya mungkin melakukan banyak kesalahan dalam bernyayi. Saya meletakkan sebuah alat perekam untuk merekam suara anda. Jika anda menemukan kesalahan, mohon kiranya anda dapat merekam suara indah anda untuk memperbaiki kesalahan ini. Terima kasih…”

Pada sore harinya, Dora dan gurunya kembali untuk mendengar kritikan dari para pengunjung. Namun sungguh di luar dugaan, ternyata tidak ada satupun suara yang muncul dari alat perekam suara. Keesokan harinya mereka masih mencoba lagi. Hasilnya masih nihil. Hingga hati ketiga, ternyata tidak ada yang memberikan kritikan. 

Hanya terdengar sebuah suara seorang pengunjung : “Baru kali ini saya mendengar suara yang begitu merdu. Kamu anak yang berbakat. Tetap semangat dan terus berlatih…”

Sang Guru : “Sekarang kamu sudah percaya bukan? Bahwa sebenarnya kamu adalah anak yang berbakat dalam bernyanyi dan memiliki suara yang indah.” Dora menganggukan kepalanya dan tersenyum puas…

Sobatku yang budiman…

Banyak sekali orang di sekeliling kita begitu senang mencari-cari kesalahan orang lain, melontarkan kritikan sesuka hati. Sebab mereka akan mudah melakukannya karena hanya memerlukan kelincahan jari untuk mengetik kalimat-kalimat cibiran yang tidak pantas, lalu menguploadnya ke media sosial.

Pada prinsipnya, mereka senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Tanpa sadar mereka telah menciptakan sebuah kebiasaan baru yang tidak baik yang akan menjerumuskan mereka ke lembah penderitaan.

Mereka begitu mudah memberikan kritikan, namun pada saat disuruh untuk memperbaiki kesalahan yang mereka kritisi, mereka justru akan menghindar, karena tidak memiliki kemampuan untuk memperbaikinya. 

Jika suatu saat kita menerima kritikan pedas dan amat menyakitkan hati, cobalah untuk mengambil sisi positifnya. Jangan mudah menyerah, jangan gampang patah semangat, apalagi sampai berputus asa.  

Jadikan “rasa pedas” tersebut sebagai penambah semangat dan meningkatkan kemampuan untuk berkarya lebih baik lagi, layaknya keberadaan sambal pedas untuk menambah selera makan.

#firmanbossini #inspirasi #motivasi #renungan  Obrolanbeken.wordpress.com m.facebook.com/firman.bekenmedia

Advertisements
This entry was posted in KISAH INSPIRATIF. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s